”Naif! Bodoh!” Tita menutup telinganya saat suara-suara Tala mengatai dirinya kembali menyerang. ”Perempuan bodoh! Mudah takhluk oleh rayuan!” Ia menekan dadanya yang sesak. Tiba-tiba udara di sekitarnya menipis. Hangat terasa menyentuh pipinya. ”Aku enggak suka kamu, Cetita!” Tangisan Tita semakin hebat saat suara tanpa sosok itu menyerang telinganya. Ia berlari keluar dari kamar agar tidak mengganggu tidur putrinya. Bersamaan dengan itu ia dengar bel dibunyikan. ”Siapa?” tanyanya. Terlalu berisiko membuka pintu di tengah malam. ”Bang Tala.” Tita mengusap matanya. Ia membuka kunci pintu besi tersebut kemudian menggeser selebar ukuran tubuh lelaki itu. Tala mengunci pintu dari dalam. ”Kamu masih kepikiran ucapan ibu tadi?” tanya Tala. Pagi t

