[40] Lebih Baik Mati Saja

1591 Kata

”Kamu bawa suratnya?” tanya Tita berlipat tangan di d**a.   Tala mendekat untuk memastikan kehamilan perempuan itu. Dia hampir dapat menyentuh perut yang sedikit gendut itu sebelum pemilik menepis tangannya.   ”Najis! Pergi sana kalau enggak bawa yang aku mau!”   ”Tita aku minta maaf.”   ”Bicara sama dinding! Dahlah, enggak ada rumah toh di sini? Malam ini aku bolehin numpang. Besok balik. Oh iya, nikmati kamar indah ini.”   Gadis itu tertawa dan saat tiba di pintu Tala bertanya dia mau kemana.   ”Jijay ama situ. Sama kayak kamu jijik sama aku. Bye! Oh iya, jangan lupa pesan Tita. Datang bawa surat.”   Tala meraup wajahnya. Apa begini rasanya punya perasaan sebelah pihak? Cetita yang mengaku mencintainya sepertinya hanya igauan. Tiada Tala lihat sisa-sisa pancaran hangat yan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN