Cetita menarik lengan baju Tala menahan dingin di halte depan kampus negeri Kota Padang. Hujan masih terus mengguyurkan airnya ke Bumi Bengkuang. Bibir gadis enam belas tahun itu pucat bergemetar. Tidak tahan melihat keadaan sang kekasih, Tala menarik tangan sang gadis naik ke sepeda motornya. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, ada sebuah hotel yang cukup untuk melindungi mereka dari tamparan dingin alam malam itu. ”Bang!” tahan Tita saat Tala hendak membuka sebuah pintu kamar. Tala merangkum pipi kekasihnya, menyalurkan hangat lewat permukaan telapak tangan yang pucat. ”Kita enggak bisa pulang, Ta. Kamu bisa sakit kalau kita nekat.” ”Tapi ini hotel, Bang!” geram Tita ingin memberitahu bahwa ia takut datang ke tempat itu bersama Tala. ”Iya. Ini yang terdekat dari tem

