DUA PULUH ENAM

1724 Kata

Setibanya Tania dan Hino di kediaman Ben Alendra, mereka disambut dengan gegap gempita oleh Dewi Sinta. Calon nenek itu segera memeluk menantunya dengan sayang. Tidak lupa juga putra kesayangannya yang selalu membuat ia kesepian sejak pindah ke Bandung. Dewi tidak menyadari raut wajah Tania yang kurang ceria. Ben Alendra pun menginterupsi acara kangen-kangenan ibu, anak, dan menantu itu. “Sebaiknya biarkan mereka istirahat dulu, Mi. Tania sepertinya capek!” nasihat Ben kepada istrinya. “Eh, maaf, Sayang. Tania pasti lelah. Ajak istrimu istirahat, No,” ucap Dewi. Tania dan Hino beranjak ke lantai dua, kamar mereka berada, di rumah ini. Sesampainya di kamar, Tania langsung merebahkan diri di ranjang. Kakinya terasa pegal dan seluruh tubuhnya lelah. Tania memejamkan matanya mencoba untuk t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN