“Nih,” Rakabumi tersenyum lebar menatap paper bag kecil yang kini ada diatas mejanya, dia mendongak menatap si empu yang membawakan itu untuknya. Dia menyingkirkan pekerjaannya terlebih dahulu, ingin fokus pada apa yang dibawakan tamunya yang merupakan pesanan nya juga. “Lama banget sih,” tukas Rakabumi, dia membuka bungkusan dalam paper bag tersebut. Dave, si empu yang datang berkunjung ke kantor sahabatnya hanya untuk mengantarkan pesanan sang sahabat yang sebenarnya benar-benar membuang waktunya. Dia mendengus kesal, berdecak pelan mendengar protes Rakabumi. “Nih, ciri-ciri orang gak tahu terimakasih. Udah nitip, bayarnya di utang, eh malah banyak komplain. Gak tahu diuntung banget!” “Yaelah... Ketimbang rujak sama ketoprak doang, perhitungan banget.” kesal Rakabumi, dia berdecak

