Reina mendongak seketika saat sepasang sepatu berdiri dihadapannya. Dia segera menegakkan tubuhnya, menatap tak percaya Rakabumi disini. Bukannya pria itu bilang, akan kembali dalam tiga jam lagi? Lalu, kenapa sudah kembali bahkan hanya dalam kurun waktu setengah jam? Entahlah, dia tak tahu.
“Kamu ngapain disini? Bukannya kamu bilang aku harus nunggu tiga jam? Baru—”
“Naik ke mobil.”
Rakabumi tak mau mendengar ocehan Reina, sehingga saat perempuan itu belum selesai bicara dia bergegas memerintah dan membalikkan tubuhnya untuk kembali menuju mobilnya. Sedangkan, Reina mencebik. Gedek sekali dia dengan sikap pria itu.
“Kamu sebenarnya kemana sih? Kenapa juga—”
“Saya gak perintahkan kamu buat bicara, jadi diam.”
Reina mendengus, dia melirik tajam Rakabumi yang tengah terfokus pada jalanan. Segala bentuk wajahnya yang terlihat sempurna dari berbagai arah manapun, sempat membuatnya terpana. Namun, dia langsung menghilangkan rasa kagumnya mengingat sikap pria itu yang menyebalkan.
“Mana ada aku peduli. Toh, aku gak harus terima perintah dari kamu untuk bicara. Aku punya mulut, kapanpun aku mau ngomong, ya terserah aku lah.” Tukas Reina kesal. “Lagian aku cuma mau memastikan, tangan kamu baik-baik aja atau enggak. Udah kok, itu aja.”
“Tangan saya kenapa-napa pun bukan urusan kamu.”
Tck. Reina tak pernah mendapatkan perlakukan seperti ini. Mendapat balasan tak mengenakan baru kali ini dirasakannya. “Iya, bukan urusan aku tangan kamu kenapa-napa atau enggak. Masalahnya, tangan kamu sakit itu karena aku, karena tadi pagi kan.” lanjut Reina kesal, dia seketika diam. Menyesal dia berucap demikian. Lihat, bahkan bayangan kejadian tadi pagi kembali terlintas di benaknya.
Rakabumi terdiam, “Tangan saya gakpapa.” balas Rakabumi pendek yang benar membuat Reina kesal bukan main.
“Oh... Gakpapa,ya? Berarti kalau di gini, gakpapa dong.”
“Aw...”
“Aduh.”
Reina meringis saat keningnya baru saja mencium dashboard mobil, dia langsung menatap tajam Rakabumi yang menatap kesal dirinya.
“Kamu bisa gak sih bawa mobil? Sakit tahu!”
“Salah kamu sendiri, kenapa kamu main remas tangan saya kayak tadi.”
“Ya, aku cuma mau memastikan kalau tangan kamu tuh sakit atau enggak. Kamu bilang enggak, tapi kenapa sampai teriak segala!” kesal Reina, dia mengusap pelan keningnya. Dia mengibaskan tangannya kesal, “Udah, deh. Kita ke rumah sakit sekarang, aku gak mau kamu kenapa-napa dan justru aku yang disalahin.” sambung Reina, dia mencebik kesal.
“Gak perlu.”
Reina memincingkan matanya, dia menatap tajam Rakabumi yang menatapnya datar. “Ke rumah sakit sekarang atau aku bilang sama orang rumah kalau kamu sempat ninggalin aku sendiri dan pilih pergi entah kemana.” ancam Reina yang membuat Rakabumi mendengus.
Rakabumi mendengus, dia tak pernah diancam dan tak takut akan ancaman apapun—minus ancaman dari keluarganya— dan baru kali ini ada orang yang berani melayangkan ancaman untuknya. Bukan dia takut, namun dia tak mau ambil resiko tentang keselamatan Renata.
“Jadi?”
Rakabumi melirik sekilas Reina, tanpa mengucap apapun dia langsung menancap gas menuju rumah sakit. Tempat yang sama dimana Renata ada disana, hatinya berharap wanita itu masih disana.
***
Reina menghentikan langkahnya, dia merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Dia merasa, sesuatu dibawahnya terasa basah dan lembab. Perutnya pun sejak tadi pagi terasa sakit. Sudah pasti, ini tanda-tanda kalau dirinya akan datang bulan.
Melihat Reina yang terdiam, membuat Rakabumi ikut menghentikan langkahnya. Pria itu menaikkan sebelah alisnya, bertanya.
Reina bergumam pelan, dia harus pergi ke toilet sekarang untuk memeriksa apakah benar dia datang bulan atau tidak. Namun, dia tak mungkin juga mengatakan yang sebenarnya pada pria itu, malu dong.
“Kayaknya, kamu pergi ke dokternya sendiri ya. Nanti aku nyusul, mau ke toilet sebentar.”
Rakabumi tak peduli, dia hanya bergumam pelan dan melenggang pergi. Reina mendengus, ternyata pria itu enggan sekedar bertanya dan itu artinya dia tak peduli. Tapi, bukankah seharusnya ini pertanda baik? Jadi, untuk apa dia mempermasalahkan ini semua.
Reina kembali melanjutkan langkahnya, dia bertanya pada salah satu office boy yang tengah membersihkan lantai. Bertanya dimana toilet berada kemudian pergi ke tempat tersebut setelah ucapan terimakasih terlontar dari mulutnya. Ia masuk kedalam toilet, masuk ke salah satu bilik dan memeriksanya disana.
“Tuh kan, bener. Gue datang bulan.” decak Reina. Bukan perkara dia datang bulan nya, namun lebih pada dia yang tak membawa keperluan perempuan saat datang bulan seperti biasanya. Salahkan Rakabumi, membawanya begitu saja membuat dia meninggalkan tasnya. Biasanya, dia selalu membawa keperluan disaat datang bulan kemanapun. Tapi, sekarang tasnya tak ada. Lalu, dia harus bagaimana?
Reina menghela napas kasar, dia membenarkan kembali pakaiannya kemudian keluar pelan dari bilik kamar mandi tersebut. Matanya menemukan seorang wanita muda yang terlihat seumuran dengannya. Wajahnya tak asing, seperti pernah ditemuinya. Tapi, dimana? Entahlah.
Apa tak apa, kalau Reina meminta bantuan wanita itu? Bisa saja, wanita itu membawa keperluan untuk perempuan datang bulan kan?
“Permisi.”
Wanita itu menoleh, menatapnya sedikit terkejut yang membuat dia bingung. Apa seseram itu dirinya sehingga membuat wanita itu terkejut hanya karena melihat wajahnya?
“Mbak?’ panggil Reina pelan, dia menunjukkan senyumnya.
Wanita itu tersadar, dia mengerjap-ngerjapkan matanya kemudian menyugar rambutnya. Dia tersenyum manis menatap Reina. “Iya, ada apa?” tanya wanita itu, dia ikut tersenyum membalas senyuman Reina.
“Ini, maaf banget ya ganggu kamu. Jadi sebenarnya aku tiba-tiba datang bulan hari ini. Tapi, aku gak bawa pembalut gitu. Jadi...”
Reina ragu, dia tak enak sebenarnya. Baru pertama kali bertemu, namun sudah merepotkan seperti ini. Wanita itu tersenyum, terkekeh membuat lesung pipi tercipta di pipinya. Sungguh, Reina sedikit terpesona. Wanita itu cantik sekali.
“Kamu butuh pembalut?”
Reina mengangguk pelan. Wanita itu kembali terkekeh, lucu melihat Reina.
“Ya ampun... Kenapa malu-malu gitu? Kita sama-sama perempuan, jadi santai aja.” ucap wanita itu, dia membuka tasnya kemudian mencari cadangan pembalut yang biasa dibawanya. “Nih.” lanjut wanita tersebut, dia menyerahkan pembalut pada Reina.
“Makasih, ya. Maaf ngerepotin.”
“Gakpapa, santai aja.”
Reina mengangguk-angguk. Tangannya terulur. “Eh, iya. Nama kamu siapa? Kenalin, aku Reina.” ucap Reina.
Wanita itu terdiam sejenak, dia tak menyangka akan berkenalan dengan Reina—perempuan yang merupakan istri dari kekasihnya (?). Iya, mungkin. Rakabumi mungkin masih menjadi kekasihnya kini, belum ada kata putus diantara mereka. Dan, sepertinya dia sendiri yang akan menyudahi hubungan ini. Tak mungkin juga kan, dia menjalin hubungan dengan suami orang? Dia wanita, dia bisa merasakan sakitnya. Juga, kenangan masa lalu membuat dia tak tega jika harus melakukan hal yang sama sesama perempuan.
Reina mengerutkan keningnya melihat keterdiaman wanita itu, dia tersenyum lebar. “Mbak?”
“Eh, iya. Saya, Nata.”
***
Reina melangkahkan kembali kakinya, atensinya dia edarkan mencari sosok Rakabumi. Langkah kakinya seketika terhenti, mengerutkan kening bingung melihat Rakabumi yang tengah berbincang dengan seorang wanita yang baru saja menolongnya tadi.
Renata, wanita itu bernama Nata. Wanita cantik yang ternyata bekerja sebagai influencer sekaligus model. Tubuh jangkung, wajah cantik dengan senyum manis, tentu mampu memikat siapapun. Tak terkecuali Rakabumi kini. Dia bisa melihat, bagaimana berbeda tatapan pria itu pada Nata
Cemburu? Tentu tidak. Memangnya dia punya rasa pada pria itu? Hello... Satu malam tidur seranjang dengan pria itu tak membuatnya serta merta langsung jatuh cinta. Terkesan murahan sekali kalau dia langsung jatuh cinta begitu saja.
Reina tak peduli, dia melanjutkan langkahnya. Belum sempat dia menemui Nata kembali, wanita itu lebih dulu pergi. Menyisakan Rakabumi yang tak sedikitpun mengalihkan atensinya dari kepergian wanita itu.
“Dia teman kamu?”
Reina bisa melihat keterkejutan diwajah Rakabumi, namun itu tak berlangsung karena pria itu sudah menatapnya datar kembali. Lihat, tadi bersama Nata saja pria itu mengeluarkan aura ramahnya, sedangkan bersamanya? Tck, jangan ditanya. Memangnya kalian berekspektasi apa?
Rakabumi tak menjawab, pria itu justru melangkahkan kakinya meninggalkan Reina. Bahkan lelaki itu tak repot-repot bertanya, darimana dirinya. Tck, menyebalkan memang.
“Kok cepat banget sih?”
“Kamu tahu siapa saya.”
Sombong! Mentang-mentang punya kekuasaan, bisa berbuat seenaknya. Reina yakin, Rakabumi pasti menggunakan kekuasaan. Enggan mengantri bersama orang-orang, terbukti hanya ditinggal beberapa menit saja pemeriksaan pria itu sudah selesai.
Dia bersandar pada kursi mobil, menatap lurus kedepan dimana Rakabumi kini mengemudikan mobilnya dengan sebelah tangan keluar dari parkiran. Berhenti sejenak yang membuat Reina bingung dibuatnya.
“Kenapa berhenti?”
Rakabumi tak menjawab, namun tatapan pria itu pada Nata yang berdiri dipinggir jalan kemudian masuk ke dalam taxi seolah menjawab pertanyaan. Karena detik berikutnya, mobil Rakabumi pun melaju meninggalkan pelantaran rumah sakit. Sekarang dia tahu, Rakabumi ternyata memastikan keselamatan seseorang, yaitu Nata
.
“Dia teman kamu atau pacar kamu sih sebenarnya?” tanya Reina, dari gelagat Rakabumi tadi sih, dia yakin bahwa Nata itu merupakan kekasih dari pria itu.
Rakabumi tak menjawab, membuat Reina mendengus kesal.
Bodoamat! Mau Nata teman, pacar, simpanan, selingkuhan, istri—tidak, jangan sampai kalau istri! Dia tak akan peduli.
“Mbak Nata baik ya, dewasa lagi.”
Seketika Rakabumi menatap Reina, menaikkan sebelah alisnya mendengar pernyataan perempuan itu. Sedangkan, Reina kini tersenyum menunjukkan deretan giginya.
“Iya, tadi aku kenalan sama dia di toilet. Dan, orangnya baik banget, mau nolongin aku.”
“Nolongin kamu?”
Reina mengangguk cepat.
“Nolongin apa?”
Reina tersenyum jahil, melirik sinis Rakabumi sekilas sebelum kemudian kembali menatap lurus kedepan. “Kepo!” jawabnya yang membuat Rakabumi mendengus kesal di tempat.
Bodoamat! Lagipula, siapa suruh tidak menjawab pertanyaannya tentang siapa Nata sebenarnya. Jadi, ini dia balasannya. Haha...