Reina turun terlebih dahulu dari mobil dan langsung disambut para ibu yang tengah tersenyum lebar penuh godaan padanya. Dia terdiam beberapa saat, melirik sekilas Rakabumi yang baru saja keluar juga. Terdiam kikuk hingga akhirnya pria itu yang justru menggengam tangannya, membawanya masuk menghampiri para ibu itu.
Jujur, Reina tak terbiasa digandeng oleh pria. Jangan kan di gandeng, tangannya bersentuhan dengan pria saja di tak terbiasa. Tentu saja dia tak terbiasa, toh pria yang pernah dekat dengannya hanya beberapa, bahkan mungkin bisa dihitung jari. Dan, juga. Dia tak terbiasa melakukan kontak fisik dengan siapapun, bukan tipenya. Jadi, tak ayal saat tangannya digenggam Rakabumi, dia bergetar seketika.
”Kalian ini darimana sih? Berduaan mulu, ya mentang-mentang pengantin baru.”
“Biasalah, Ra. Namanya juga pengantin baru, pasti mau menghabiskan banyak waktu berdua. Apalagi mereka ini kan gak sempat pacaran sebelumnya, aku yakin pasti mereka mau menikmati masa-masa pacaran pas nikah. Iya, kan, sayang?” tukas Ambar, dia tersenyum manis melihat putrinya. Dia menatap Shara, terkekeh bersama besannya itu.
Reina hanya tersenyum kikuk menanggapinya.
“Yaudah, aku mau ke kamar ganti baju dulu. Permisi, ya, Ma, bun.”
Rakabumi langsung melenggang begitu saja meninggalkan mereka, dia bergegas menuju kamarnya—kamar Reina maksudnya. Sampai di kamar, dia tak langsung melakukan apa yang disebutkannya sebagai alasan untuk pergi dari mereka. Dia justru meronggoh saku celananya dan langsung mengetikan nama seseorang, menelpon orang itu saat ini juga.
“Hallo... Ada apa?”
Rakabumi berjalan kearah balkon kamar, ponsel pintar keluaran terbaru sudah menempel di telinganya. “Kamu udah sampai di apartemen?” tanya Rakabumi, dia menumpu sebelah tangannya diatas pagar pembatas.
“Belum, aku kejebak macet. Kenapa emangnya?”
“Aku cuma khawatir sama keadaan kamu. Aku takut kamu kenapa-napa.” jawab Rakabumi, dia bisa mendengar kekehan dari lawan bicaranya.
“Aku udah sehat kok, Rak. Jadi, kamu tenang aja. Jangan terlalu khawatir gitu. Oh, iya, kamu ini telpon aku emangnya kamu dimana? Gak lagi di rumah?”
“Aku di rumah kok, baru aja sampai. Tapi, aku buru-buru ke kamar cuma buat telpon kamu. Pikiran aku tuh mikirin kamu terus, aku gak tenang sebelum dengar suara kamu. Apalagi, tadi kamu pergi gitu aja, padahal aku belum selesai ngomong.”
“Raka... Tadi tuh ada istri kamu, makanya aku buru-buru pergi. Aku gak mau dia salah paham, apalagi sakit hati. Emangnya kamu gak khawatir sama dia? Aku aja khawatir.”
“Yang aku khawatirkan itu kamu. Justru aku khawatir kamu salah paham dan sakit hati karena perempuan itu. Aku benar-benar minta maaf.”
“Gak perlu minta maaf. Oh, iya, tangan kamu gak papa?”
Rakabumi memutar tubuhnya, dia menatap tangannya yang sedikit membengkak. “Enggak kok, gakpapa. Bentar lagi juga sembuh, bengkak dikit doang.” jawab Rakabumi, dia duduk di sofa yang ada di balkon.
“Syukur deh, aku senang dengarnya. Aku kaget lihat Reina ada di rumah sakit dan lebih kagetnya ada kamu juga. Tapi, itu tangan kamu kenapa sih bisa sampai kayak gitu? Kamu ngapain?”
Rakabumi terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Bagaimana mungkin dia menceritakan yang sebenarnya, tak mungkin lah. Bisa-bisa perempuan itu salah paham karenanya.
“Raka? Kamu masih disana kan?”
Rakabumi menggeleng cepat, dia segera menyadarkan diri. “Gak sengaja jatuh di kamar mandi.”
“Tck, kamu mah ada-ada aja. Lain kali hati-hati! Masih mending kamu sakitnya cuma segitu, kalau terjadi hal lebih buruk lagi, gimana?”
“Iya, iya, makasih, ya sayang.”
***
“Iya, iya, makasih, ya sayang ...”
Reina seketika mengentikan langkahnya yang hendak mengambil pakaian. Dia terdiam cukup lama dengan kening mengerut mendengar suara Rakabumi. Dengan siapa pria itu berucap? Dan, sayang? kepada siapa?
Reina berjalan pelan, mengintip Rakabumi yang saat ini tengah menelpon dengan seseorang. Rakabumi yang saat ini dilihatnya benar-benar berbeda, seperti ada sosok Rakabumi yang lain. Dimana dia terbiasa melihat wajah pria itu datar dan terkadang ketus padanya, sedangkan saat ini? Pria itu justru tersenyum lebar dan berbicara dengan lembutnya, penuh kehangatan. Benar-benar kebalikan dari sosok Rakabumi yang dia kenal.
Reina membalikkan tubuhnya cepat, pergi. Bibirnya mencebik kesal, bola matanya berputar jengah. “Iyuh banget sih!” cibirnya, dia berjalan menuju ruang ganti di kamarnya, dia mengambil asal salah satu dress berwarna hitam dengan lengan pendek. Dia duduk di sofa yang ada disini. Pikirannya justru berkelana tentang apa yang didengar dan dilihatnya beberapa saat yang lalu.
“Apa jangan-jangan, tuh cowok ninggalin gue tadi karena nemuin pacarnya lagi?” pikirnya, dia mencebik kesal. “Dih, apaan banget sih tuh cowok. Kalau dia emang udah punya pacar, kenapa juga dia harus terima perjodohan ini? Kenapa gak tolak aja, nikahin tuh ceweknya. Bukannya kayak sekarang, 'kan tetap gue yang jadi korbannya. Nyebelin banget sih!"
Reina menggerutu kesal seperti ini bukan karena dia cemburu pada Rakabumi yang ternyata mempunyai kekasih. Tapi, kesal karena pada ujung-ujungnya hidupnya juga yang dipertaruhkan. Sekarang dia sudah menikah dengan pria itu, sedangkan pria itu ternyata masih menjalin hubungan dengan kekasihnya. Jadi, jika seperti ini, siapa yang menjadi korban? Tentu saja dirinya!
Setelah puas menggerutu kesal, dia sudah selesai dengan mandinya. Dia memang mandi karena menunggu Rakabumi tadi, di bawah sinar mentari pagi cukup membuat tubuhnya berkeringat. Dan, dia tak suka kalau tubuhnya terasa seperti itu. Jadi, jalan terbaik adalah kembali membersihkan diri.
Dan, sekarang dia sudah lebih fresh dengan dress dan makeup yang dipoles sangat tipis di wajahnya.
Rakabumi? Entah kemana pria itu sekarang. Dia tak melihat keberadaan pria itu disini. Baru saja dia berniat pergi, pintu kamarnya sudah di buka, menampilkan Rakabumi yang sudah segar dan berganti pakaian sama sepertinya.
“Kamu mandi dimana? Kan aku lagi mandi tadi.”
Rakabumi menoleh, menatap datar dirinya. “Kamu lupa kalau rumah kamu ini banyak kamar mandinya?” tanya Rakabumi yang kemudian melenggang pergi begitu saja meninggalkan Reina yang kesal karena pertanyaannya.
”Ih, nyebelin banget sih jadi cowok.” kesal Reina, dia menatap kesal kepergian Rakabumi. Dia memutar tubuhnya menghadap cermin, menatap pantulan dirinya sendiri disana. “Padahal tinggal jawab aja, di bawah kek, dikamar sebelah kek. Simpel gitu.”
“Emang nyebelin tuh cowok! Sama ceweknya aja sayang-sayangan, sok manis. Sama gue? Cih, menyebalkan!”