° Episode - 15 °

1638 Kata
“Kamu abis darimana tadi sama Bumi?” Reina menoleh, dia tersenyum kikuk pada Ambar. “Jalan-jalan sebentar kok, Ma. Gak kemana-mana sih sebenarnya.” jawab Reina pelan, dia asal bicara saja. Karena tak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya. Tak mungkin juga dia mengatakan kalau pria yang berstatus sebagai suaminya itu sempat meninggalkan dirinya seorang diri. Ambar tersenyum tipis, dia mengusap pelan pipi halus Reina. Putrinya yang dulu masih kecil, kini sudah dewasa bahkan sudah terikat dengan seorang pria. Seorang ibu selalu bisa merasakan apa yang anaknya rasakan dan itu terjadi kini padanya. Sekuat apapun, se yakin apapun ucapan yang diberikan Reina, dia masih bisa melihat bahwa ada kebohongan disana. “Jangan bohong. Mama tahu kok, kamu sekarang lagi bohong.” ucap Ambar pelan, sangat pelan. Reina lupa kalau Mama nya ini bukan orang yang bisa dibohongi begitu saja. Mama nya ini orang yang akan dengan mudahnya tahu bahwa ada kebohongan yang terjadi. Jadi, sekarang dia memang harus mengatakan yang sebenarnya. “Sebenarnya, kita dari rumah sakit, Ma.” Ambar terkejut, keningnya mengerut bingung. “Rumah sakit? Ngapain kalian kesana?” “Tangan Bumi agak bengkak, jadi kita ke rumah sakit buat periksa.” Ambar memincingkan matanya. “Kamu gak lagi bohong kan?” tanyanya, dia tak lagi melihat kebohongan di mata Reina. Reina terkekeh, dia langsung merangkul pundak Ambar. “Ya, enggak lah, Ma. Itu udah jujur tahu. Iya sih, awalnya bohong. Tapi, berhubung Mama pintar banget baca kebohongan aku. Jadinya, aku terpaksa jujur. Padahal, Bumi sendiri yang minta aku buat rahasiakan ini semua. Buku gak mau semuanya khawatir.” jelas Reina yang cukup membuat Ambar tenang dibuatnya. Dia benar bukan? Dia tak bohong loh. Dia menceritakan kenyatannya, meskipun tidak sepenuhnya. Dia tak mengatakan saat dimana Bumi meninggalkannya seorang diri. “Terus sekarang keadaannya gimana?” “Gakpapa kok, cuma bengkak doang. Bentar lagi juga sembuh.” Ambar menghela napas kasar, dia mengangguk pelan. Matanya menatap lekat Reina. “Dengerin, Mama. Kalau sampai terjadi apapun sama kamu dan hubungan kamu, ingat, selalu ada Mama. Jangan pernah ambil keputusan sendiri apalagi karena tergesa-gesa. Bagaimana pun, Mama jauh lebih berpengalaman dari kamu. Jadi, kamu harus berdiskusi sama Mama.” “Mama gak akan ikut campur urusan kalian. Tapi, kalau setidaknya permasalahan itu membuat akibat yang besar untuk hubungan kalian. Tolong, jangan ambil keputusan seorang diri. Libatkan kami, keluarga kalian.” Reina tersenyum hangat, dia mengangguk. Tangannya langsung merengkuh tubuh Ambar, memeluk erat Mamanya. Dia benar-benar bersyukur. Hidupnya dikelilingi orang-orang baik. Tapi, dia juga bingung. Alasan apa yang akan diberikan nanti jika di masa depan hubungannya dengan Rakabumi selesai begitu saja. Karena sejak awal, hubungan mereka memang tak baik-baik saja. Bahkan, pria itu masih menjalin hubungan dengan kekasihnya disaat mereka sudah terikat hubungan sakral. *** “Bumi,” Rakabumi menoleh, dia menatap datar Reksa yang kini menghampirinya. Dia ada di taman belakang, seorang diri. Tadi dirinya bersama mertuanya, mengobrol beberapa saat sebelum kemudian mertuanya itu pamit untuk mengangkat panggilan dari kantor. “Kenapa, Yah?” “Darimana tadi kamu?” Rakabumi diam, dia membasahi bibirnya. “Keluar sebentar,” jawab Rakabumi datar. “Kamu gak nemuin perempuan itu kan?” “Siapa?” Reksa tersenyum sinis, dia mencebik. “Kamu tahu maksud ayah siapa.” jawab Reksa, matanya memincing tak suka. “Renata maksud Ayah?” “Jangan sebut nama perempuan itu!” Rakabumi mendesis pelan. “Kenapa, aku gak boleh sebut nama Renata? Bukannya ini semua udah bukan masalah? Aku udah nurutin kemauan kalian, aku udah nikah sama perempuan pilihan kalian. Berarti aku bebas dong sekarang?” “Kamu bebas, bukan berarti kamu bisa sama perempuan itu. Ingat, kamu sudah beristri. Kamu gak bisa menjalin hubungan dengan perempuan manapun, terutama perempuan itu. Kamu harus jaga perasaan istri kamu. Karena sekali dia terluka, perempuan itu taruhannya.” jawab Reksa dengan begitu tajam dan tegasnya. Rakabumi terkekeh, dia tertawa mengejek pada ayahnya sendiri. Dia beranjak dari duduknya, menatap lekat Reksa. ”Aku udah menuruti kemauan Ayah sama nenek dan seharusnya waktunya kalian menuruti kemauan aku.” balas Rakabumi, dia melenggang melewati Reksa begitu saja. “Ingat, Bumi. Keselamatan perempuan itu, tergantung sikap kamu.” Seketika langkah Rakabumi terhenti, dia menggeram kesal. Kembali, ayahnya mengancam dirinya dengan keselamatan Renata. Dan, kembali. Dia tak bisa berbuat apa-apa jika keselamatan wanitanya yang menjadi taruhan. “Licik,” Rakabumi melangkah kembali dengan kesalnya memasuki rumah. Dia terus menggerutu dalam hati tentang ini semua. Dia merasa di perbudak, terlalu di ikat dalam keluarganya. Rasanya, dia ingin pergi saat ini juga. Tapi, dia tak bisa karena dia bukan siapa-siapa. *** “Ayah bisa siapin rumah buat kalian.” “Gak perlu, Pa. Saya masih punya apartemen yang lumayan luas dan saya rasa cukup untuk kami berdua. Jadi, saya cuma butuh izin Papa untuk bawa Reina bersama saya, tinggal disana.” Semua keluarga diam mendengarkan keinginan Rakabumi. Pria itu memilih membawa Reina tinggal di apartemen daripada harus hidup bersama keluarganya, dia tak mau hidupnya terus di kekang nantinya. Dan, penolakan untuk rumah yang diberikan mertuanya tentu saja ditolaknya. Dia tak mau tinggal di rumah yang bukan hasil kerja kerasnya. Dan, dia rasa percuma juga rumah itu nantinya. Toh, hubungan mereka tak akan berlangsung lama. Jadi, setidaknya apartemen miliknya pas untuk hubungan singkat mereka dan lagi hidupnya bisa bebas nantinya. “Kamu tahu 'kan, saya ini gak suka penolakan.” ucap Taru, dia mencoba mengingatkan menantunya kalau dia tak suka di tolak. Dan, juga. Rumah itu akan sangat berguna untuk mereka sebenarnya. Dia juga hanya mau memastikan kalau kehidupan putrinya akan tetap terasa indah dan mewah. Rakabumi terdiam, dia lupa kalau sedang berhadapan dengan siapa. Reina yang duduk disamping pria itu, melirik sekilas. Reina sebenarnya setuju dengan usulan Rakabumi untuk tinggal disebuah apartemen, setidaknya hubungan pura-pura mereka nantinya akan lebih aman karena tidak harus tinggal satu atap dengan dua keluarga itu. ”Pa... Bukannya selama ini, Papa gak pernah di tolak?” tanya Reina, semua mata kini tertuju padanya. ”Tapi, aku mohon sekali aja Papa terima penolakan ini. Toh, ini semua juga demi kebaikan kita semua. Lagipula, aku sama Bumi mau hidup mandiri. Please, Pa... izinin aku tinggal sama Bumi di apartemen.” “Gak salah saya memilih menantu,” timpal nenek, dia tersenyum simpul melihat bagaimana dewasanya Reina. Dan, semua orang setuju akan hal itu. Dia kini beralih menatap Taru. “Kamu izinkan saja mereka tinggal di apartemen. Saya yakin, Bumi bisa menjaga putri kamu. Bukankah dia juga putri keluarga saya? Jadi, saya yakin Bumi pasti akan menjaga Reina.” Entah kenapa, mendengar penuturan nenek membuat hati Reina sedikit sensitif. Dia bisa melihat bagaimana harapan semua orang akan hubungan sakral ini. Tapi, mereka sebenarnya tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya jika semua fakta terungkap nantinya. Dengan berat hati, Taru mengangguk. “Saya izinkan kamu untuk bawa Reina tinggal disana.” putus Taru yang membuat semuanya tersenyum senang mendengarnya karena hanya jawaban Taru lah yang memutuskan semuanya. “Tapi... Ingat satu hal. Jangan pernah buat putri saya kesusahan. Jangan buat dia kecapekan dan—” Reina ternganga, dia mengerjap-ngerjapkan matanya. “Pa... sttt ...” Dan, semuanya tertawa melihatnya. Bisa dilihat, bagaimana seorang Taru sangat mencintai putrinya. *** “Kamu bilang, apartemen kamu luas. Tapi, apa? Masa kamarnya cuma satu sih!?” Reina sejak tadi tak henti-hentinya menggerutu setelah berkeliling apartemen dan hanya menemukan satu kamar tidur saja. Luas? Bahkan ini hanya dua kali lipat dari kamarnya saja. Oke, sebenarnya bukan masalah luasnya. Tapi, tentang hanya satu kamar tidur yang ada. Kalau begitu, bagaimana tidurnya nanti? Apa iya dia akan satu ranjang lagi dengan lelaki itu? Kalau hal yang tidak-tidak terjadi, bagaimana? “Kamu pikir kamarnya ada berapa? Ini apartemen, bukan istana kamu.” sindir Rakabumi, istana yang dimaksudnya adalah rumah megah Reina. Lagipula, apartemen ini hasil usahanya, tempat yang dibelinya menggunakan gajinya sendiri. Apartemen ini juga luas sebenarnya, sangat malah. Tapi mungkin Reina saja yang terbiasa hidup di rumah yang bagai istana dengan luas tak terbatas. Reina mencebik. “Terus aku tidur dimana?” “Ya, silahkan di kamar.” “Sama kamu gitu? Dih, itu sih akal-akalan kamu aja supaya seranjang sama aku dan nantinya hal enggak-enggak terjadi.” tukas Reina, dia melipat tangannya dan membuang muka. Hening, tak ada balasan dari Rakabumi. Dia menoleh, terkejut melihat pria itu menatapnya lekat dan datar. Tangannya kini sudah terjatuh di samping tubuhnya, susah payah menelan kasar ludahnya sendiri. Kakinya melangkah mundur saat pria itu melangkah mendekat padanya. “Ka-mu mau ngapain?” Rakabumi tak menjawab, dia terus melangkah mendekat pada Reina. Dekat, dekat dan semakin dekat. Reina meringis saat punggungnya menabrak pintu pembatas, dia membelalakkan matanya saat jaraknya dan Rakabumi terbilang tidak aman. “Please... Mundur. Please ...” “Terjadi hal yang enggak-enggak? Sepertinya, apa? Ini?” Reina langsung menjerit seketika saat Rakabumi tiba-tiba hendak menciumnya, namun tak jadi karena pria itu langsung menarik tubuhnya menjauh pada Reina yang kini bernapas dengan memburu. “Saya bahkan bisa lakuin itu sekarang juga, tanpa harus menunggu di kamar.” Reina semakin membelalakkan matanya. “Tapi, sayangnya saya gak mau. Saya gak berminat sama kamu, gak tertarik sedikitpun. Jadi, kamu tenang aja. Hal yang ada di otak kamu, gak mungkin terjadi sama kita.” ucap Rakabumi membuat Reina kini menatapnya terkejut. Dia mengendikan bahunya. “Ya, sekali lagi. Saya gak tertarik sama kamu." lanjut Rakabumi kemudian membalikkan tubuhnya pergi meninggalkan Reina. Reina menatap kesal kepergian Rakabumi, dia menggeram, jemari tangannya sudah mengepal sempurna. “Kamu pikir, aku tertarik sama kamu?Enggak!” teriak Reina, dia langsung menjatuhkan bokongnya begitu saja diatas sofa. Benar-benar kesal dengan sikap yang ditunjukkan Rakabumi. Dia terdiam sejenak, tangannya terulur menyentuh dadanya yang bergemuruh hebat. ”Ini gue deg-degan karena cowok itu mau kurang ajar, udah, karena itu. Bukan karena yang lainnya.” ucapnya pada dirinya sendiri, menyakinkan bahwa debaran ini bukan hal yang luar biasa. Dan, debaran ini bukan karena jatuh cinta. Iya, tidak mungkin dia jatuh cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN