° Episode - 16 °

1272 Kata
“Bumi, kamu ngapain disini?” Rakabumi tak menjawab, dia langsung melenggang masuk begitu saja melewati Renata yang hanya bisa menarik tipis kedua sudut bibirnya. Renata menutup kembali pintu apartemennya, duduk di samping Rakabumi yang sudah menyandarkan tubuhnya disana. Renata memutar tubuhnya menghadap Rakabumi, “Kamu kenapa?” tanya Renata pelan dan lembut, jemari lentiknya mengusap pelan pundak pria itu. Rakabumi menoleh, dia menggeleng dan tersenyum tipis, tangannya mengusap pelan tangan Renata di pundaknya. “Aku gakpapa kok. Gimana keadaan kamu?” tanya Rakabumi balik, dia sebenarnya senang karena Renata terlihat lebih sehat dari kemarin. “Kayak yang kamu lihat, aku udah baik-baik aja. Makanya, dokter bolehin aku pulang.” Rakabumi bersyukur, dia mengangguk pelan. Tangannya terbentang, pertanda kalau dia membutuhkan pelukan. Dia benar-benar membutuhkan Renata, hanya perempuan itu yang selalu mengerti dirinya. Dan, paham dengan kebiasaan kekasihnya itu, Renata langsung memeluk Rakabumi, membiarkan pria itu bersandar di bahunya. Biarkan saja karena hanya ini satu-satunya cara membuat Rakabumi tenang dan sedikit terbebas dari masalahnya. Dan, kebiasaan Rakabumi ini membuat Renata yakin jika pria itu dalam masalah besar yang tengah menimpanya. “Jangan tinggalin aku, ya.” Renata terdiam, dia menelan kasar ludahnya sendiri. Tanggapan dan jawaban seperti apa yang harus di berikan nya? Apa dia harus mengiyakan, namun justru jadi perusak dalam rumah tangga orang. Atau, dia menolak dan memilih menyelesaikan hubungan ini untuk kebaikan bersama? Mana yang harus dilakukannya? Renata bimbang. Rakabumi membuka perlahan matanya, dia mengerutkan keningnya. Pelukan semakin dia eratkan, wajahnya mendesak masuk di tengkuk perempuan itu. “Ren?” panggil Rakabumi, dia sedikit kesal dan was-was karena tak mendapat jawaban dari Renata. “Ah? Iya, aku gak akan ninggalin kamu kok.” jawab Renata akhirnya, dia sebenarnya asal bicara karena dia tak tahu harus menjawab apa. Dia juga tak tahu, akan bagaimana kedepannya. Apa iya, jawabannya saat ini akan tetap berlaku nantinya? Atau justru dia memang harus melepaskan Rakabumi? Kehilangan lagi untuk kesekian kali dalam hidupnya? Entah. Rakabumi tersenyum senang mendengarnya, dia kembali memejamkan matanya. Pelukan hangat dari Renata mampu menenangkan, membuatnya sedikit tenang dari permasalahan yang menimpanya. Cukup lama mereka berpelukan hingga akhirnya Rakabumi sendiri yang melepasnya, dia menatap lekat Renata yang tersenyum manis padanya. “Kamu udah makan? Biar aku masakin, ya?” Rakabumi menggeleng. “Jangan, kamu baru aja sembuh dan aku gak mau kamu kecapekan dan buat kamu sakit lagi. Biar aku pesan makanan aja, ya?” tawar Rakabumi yang diangguki Renata. “Kamu mau apa?” tanya Rakabumi, dia meronggoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya, dia akan memesan makanan lewat aplikasi online. “Terserah kamu, tapi jangan yang pedas-pedas sama bersantan.” “Oke,” Rakabumi mulai berkutat dengan ponselnya, mencari-cari makanan untuk mereka berdua. Dan, setelah selesai dia meletakkan begitu saja ponselnya. Tinggal menunggu dan pesanan mereka akan diantarkan. Dia menatap Renata yang saat ini tengah berdiri membelakanginya, berkutat di dapur mini perempuan itu, tengah meracik teh lemon kesukaannya. Rakabumi tersenyum melihatnya. Andai saja, perempuan yang menjadi istrinya adalah Renata, tentu dia akan bahagia. Mungkin, dia akan menjadi pria paling beruntung dan paling bahagia di dunia karena perempuan pilihannya menjadi istrinya. Sayangnya, itu semua hanya angan semata karena sampai kapanpun dia tak bisa meminang perempuan itu menjadi istrinya. Sebenarnya, bisa saja dia menikah diam-diam. Namun, tidak dengan Renata. Perempuan itu terhormat, ingin menikah dengan restu dan di kenal dengan segala hal positif nantinya jika menyandang status sebagai seorang istri. Karena itu lah, sebelum restu mereka dapat, tidak akan ada pernikahan. Rakabumi berjalan menghampiri Renata, langsung memeluk tubuh wanita itu. Tangannya melingkar di pinggang ramping Renata, maklum Renata itu seorang model jadi tak ayal kalau pinggangnya bisa seramping ini. Sedangkan, dagunya langsung dia jatuhkan di pundak wanita itu. “Kamu ngapain lagi sih?” ”Aku cuma buatin kamu teh doang kok,” “Jangan capek-capek lah...” Renata terkekeh, dia menggeleng tak percaya mendengar itu. Tubuhnya dia putar pelan menghadap Rakabumi, jarak mereka sangat dekat kini. Dia tersenyum simpul pada lelaki itu. “Mana ada orang kecapekan cuma karena buat secangkir teh doang, ngaco kamu!” tukas Renata, dia terkekeh pelan. Rakabumi tertawa, “Ada lah.” “Gak ada! Jangan ngaco!” balas Renata lagi, dia mencoba melepaskan tangan Rakabumi dari pinggangnya. “Udah ah, lepasin! Aku mau lanjut bikin teh nya.” “Gak mau, gini aja. Lagian, teh nya udah jadi ini.” “Emang udah jadi, tapi apa harus kita kayak gini?” “Harus lah!” “Gak pegal? Aku pegal loh...” Rakabumi tersenyum lebar, dia melepaskan pelukannya dan berdiri tegak di depan wanita itu. Tangannya membingkai wajah Renata, merapikan anak rambut yang sedikit menghalangi wajah cantik itu. Dan, satu kecupan mendarat mesra di kening Renata. Seulas senyum pun terbit di bibir wanita itu, bersama dengan matanya yang terpejam merasakan kecupan itu. “Aku cinta kamu, Renata...” *** “Aduh... Tuh cowok kemana sih? Nyebelin banget!” Reina terus saja menggerutu di depan pintu apartemen milik Rakabumi. Sudah hampir satu jam setengah dia disini sejak dia memutuskan untuk pergi ke minimarket bawah untuk membeli makanan dan dia justru kelupaan membawa dompet dan ponselnya. Dia tak bisa langsung masuk begitu saja karena tak tahu password dari tempat ini. Alhasil, disini dia sekarang. Duduk di depan pintu apartemen sambil menunggu kedatangan pria itu. Rasanya, dia lemas sekali. Perutnya lapar dan di luar cukup dingin untuknya yang hanya mengenakan baju berlengan pendek saja. Bahkan, matanya sudah terasa berat, mengantuk sekali. Beruntungnya, tak terlalu banyak orang yang melintas disini. Maklum, di lantai ini hanya tersedia beberapa ruang saja. “Reina?” Seketika, Reina membuka matanya yang hampir terpejam. Dia bergegas berdiri, terkejut menatap mertuanya disini. Rasanya, untuk menelan ludah saja dia kesusahan. “Bunda?” Shara terkejut mendapati menantunya duduk lesehan didepan pintu apartemen dan yang semakin membuatnya terkejut adalah saat menemukan Reina yang terlihat hampir ketiduran. “Kamu ngapain di luar? Duduk lesehan lagi.” ucap Shara bingung. Reina ternganga, dia menyelipkan anak rambutnya. “Aku...” “Bumi mana?” Reina bingung harus menjawab bagaimana. Bukan jawaban yang justru keluar dari mulutnya, namun suara perut keroncongan yang menjadi jawaban. *** “Jadi, Bumi kemana?” Reina mengentikan suapan ramen nya, dia mendongak menatap Shara, ibu mertuanya. “Bumi ada urusan bunda, jadi pergi.” jawab Reina, dia rasa itu sudah benar. Setidaknya, Rakabumi pergi mungkin karena memang ada urusan. Atau jangan-jangan, pria itu menemui kekasihnya? Kalau iya, menyebalkan. “Terus, kenapa kamu bisa sampai lesehan di lantai tadi?” “Jadi, sebenarnya Bun. Aku mau beli makanan di bawah, tapi aku lupa gak bawa uang. Pas aku balik, aku lupa juga kalau aku gak tahu password apartemen apa. Jadi, terpaksa deh aku di luar nunggu Bumi pulang. Dan, sayangnya aku justru ketiduran.” Shara menggeleng tak percaya. Ajaib, dia melihat menantunya yang saat ini tengah makan dengan lahap seperti orang kelaparan dan katanya tadi hampir ketiduran. Bukannya susah untuk orang yang kelaparan untuk tidur? “Ya, kenapa kamu gak telpon dia aja? Jangan bilang, kamu gak punya lagi nomor Bumi.” Reina diam, ibu mertuanya sepertinya bisa tahu semuanya. Dia memang tak punya nomor pria itu. Jangankan untuk punya, sekedar berniat menyimpan dan bertanya saja dia enggan. Tapi, dia tak mungkin mengatakan iya. Jadi, dia menggeleng saja. “Bukan gak punya, Bun. Tapi, hp aku ketinggalan di dalam.” ”Ya ampun... kamu ada-ada aja. Kalau aja bunda gak mampir kesini karena mau kasih kue ini, mungkin sekarang kamu masih di luar dan ketiduran.” Reina tersenyum kikuk. “Iya, Bun. Makasih, ya...” Shara mengangguk, dia meronggoh ponsel dari hand bag nya. “Yaudah, biar bunda telepon Bumi buat suruh dia pulang.” ucap Shara yang diangguki Reina. ”Hallo, Bumi. Pulang ke apart sekarang!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN