“Kamu minta saya jemput sore-sore, pengen jalan dan ternyata ajak saya ke tempat kayak gini?” Reina menoleh pada Rakabumi yang berjalan disampingnya, dia tersenyum simpul pada pria itu. “Kenapa emangnya? Benar kan, ini juga namanya jalan-jalan?” tukas Reina, dia mengendikan bahunya. “Ya, saya pikir kita jalan kemana gitu. Masa, ini jalan-jalan di pinggiran sih?” “Ih... Kita bukan di pinggiran, tapi pingir jalan. Kita mau hunting street food disini. Okay?” Rakabumi mengerutkan keningnya, dia tak mengerti dengan Reina. Berkali-kali berdecak pelan saat beberapa orang menubruknya. “Tapi, Rein. Ini orang banyak banget, desak-desakan kita. Terus—” “Aduh!” Belum selesai Rakabumi bicara, Reina sudah lebih dulu meringis karena bahunya tersenggol oleh orang-orang, dia bahkan hampir terjat

