Waktu memang begitu cepat berlalu, tanpa terasa seminggu sudah penantian ini berakhir. Sebenarnya tak ada yang menantikan waktu ini akan tiba, terkecuali orangtua mereka. Dan terutama Tarumaharja, ayah dari mempelai wanitanya. Senyum lebar terpancar jelas di bibirnya saat ijab qobul sudah selesai di ucapkan dengan lantang oleh mempelai pria.
Reina cantik sekali. Dia sebagai mempelai wanitanya memang benar-benar menjadi pusat perhatian, satu-satunya yang paling bersinar diantara perempuan lain disini. Gaun pengantin berwarna putih tulang melekat indah di tubuh rampingnya, ditambah untaian gaun tersebut yang menyapu lantai. Wajahnya pangling. Namun masih terlihat natural meskipun sebenarnya wajahnya itu di lapisi beberapa lapis agar tak harus berkali-kali touch up karena aktifitas mereka yang seharian full ini.
Rakabumi tampan, bahkan jauh lebih tampan dari biasanya. Jas dengan warna senada seperti gaun yang dikenakan Reina melekat pas di tubuh atletisnya. Wajah tampan tak berkurang sedikitpun dengan kepala yang dihiasi kopiah senada semakin menambah ketampanannya. Auranya yang memang kuat sejak awal semakin membuat orang-orang terus menatapnya, terkhusus kaum hawa.
Dan, jika disandingkan. Tentu Pangeran dan Putri itu terlihat cocok sekali.
Akad dan resepsi di satukan, jadi tak ayal kalau acaranya bisa memakan banyak waktu. Juga banyaknya tamu undangan yang kebanyakan kolega bisnis orang tua mereka dan beberapa rekan kerja keduanya.
“Senyum.”
Reina menatap Rakabumi dengan terkejut, matanya kini menatap pada tangan pria itu yang bertengger di pinggangnya. Memeluk dengan erat pinggang rampingnya.
“Semua orang melihat kita, jadi saya terpaksa melakukan itu semua.” ucap Rakabumi pelan, dia seolah tahu apa yang menjadi tanda tanya Reina.
Reina bisa apa? Benar juga pria itu. Mereka berada diantara ratusan orang yang tertuju pada mereka. Tak mungkin sekali lelaki itu akan berbuat hal demikian jika hanya ada mereka berdua. Pandai bersandiwara, pikirnya. Lihat, bahkan pria itu terus melemparkan senyumnya, meskipun dia juga yakin itu senyum palsu semata.
“Rein...”
Reina tersenyum lebar, menatap Maha dan Bima yang berjalan menghampiri dirinya. Dia langsung memeluk erat Maha, di balas pelukan tak kalah erat meskipun sedikit terhalang karena gaun yang dikenakannya.
“Gue gak nyangka, bakal secepat ini.” ucap Maha girang, dia melepas pelukan diantara mereka.
“Apalagi gue.”
Mereka menatap Bima yang sudah tersenyum lebar. Bima itu tampan, humoris lagi. Dia tak kalah tampan dari Rakabumi, meksipun tubuhnya lebih berisi. Ya, meskipun kalau disandingkan tentu kaum hawa akan memilih Rakabumi daripada lelaki itu. Tapi, tetap saja. Sikap humorisnya terkadang membuat dia sulit dilupakan.
“Gue gak nyangka, ternyata bapak-bapak yang Lo maksud itu, dia.”
Reina langsung melebarkan matanya, menatap tajam Bima yang baru saja berucap demikian. Sedangkan, Rakabumi mengerutkan keningnya bingung mendengar ucapan pria yang sama sekali tidak dikenalnya. Lain halnya dengan Bima yang justru terlihat santai, bahkan lelaki itu mengulurkan tangan pada Rakabumi.
“Kenalin, saya Bima. Yang punya cafe pas bapak sama Reina ketemu pertama kali.” ucap Bima, dia masih mempertahankan senyumnya meskipun Rakabumi terlihat enggan padanya. Ya, meskipun tak lama kemudian pria itu membalas uluran tangan Bima.
“Rakabumi.”
“Saya Maharatu pak, sahabatnya Reina.” timpal Maha, dia pun mengulurkan tangannya berkenalan dengan suami sahabatnya.
“Rein... Beneran deh, gue benar-benar gak nyangka banget. Lo bisa nikah secepat ini. Apalagi...”
Rakabumi tak memperdulikan obrolan mereka, kedua tangannya masuk kedalam saku celana. Mata tajamnya dia edarkan melihat orang-orang yang ada disini. Hingga, matanya menangkap sosok wanita dengan gaun berwarna pastel yang berdiri di sudut ruangan, tengah tersenyum kearahnya. Dia memastikan, tak ada yang memperhatikannya. Dia harus menemui wanita itu.
Rakabumi berdehem, membuat mereka bertiga yang tengah asyik bertukar cerita menatap kearahnya. “Saya permisi sebentar.” ucap Rakabumi kemudian melangkah pergi tanpa mendengarkan jawaban apapun dari mereka. Dia tak peduli sebenarnya, itu hanya formalitas semata.
Rakabumi melangkah menghampiri Renata—kekasihnya itu yang masih tersenyum lebar meskipun dia hendak menghampirinya. Dia mencoba bersikap biasa, tak ingin mengundang curiga. Dia berhenti di salah satu meja yang tak jauh dari tempat wanitanya berdiri kini. Dia mengambil air berwarna, menyesap pelan isinya. Itu hanya alibi semata.
“Kamu ngapain disini, aku kan udah bilang. Kamu gak perlu datang.” ucap Rakabumi, matanya menatap lurus ke depan, tak menatap sedikitpun pada Renata.
Renata, wanita itu tersenyum manis kemudian melangkah menghampiri Rakabumi. Dia melakukan hal yang sama, mengambil air tersebut kemudian menyesapnya pelan. “Aku kan mau lihat pengantin wanitanya.” jawab Renata, dia menatap lurus ke depan. Menatap sang mempelai wanita yang tengah tertawa dengan rekan-rekannya.
“Buat, apa? Dia gak lebih dari kamu.”
Renata tersenyum manis, ada sesuatu dalam hatinya bergetar melihat mempelai wanita tersebut. Dia merasa tak asing, terasa wajah itu sangat familiar di benaknya. Namun, dia tak mau ambil pusing. Toh, untuk apa?
“Dia cantik, pantas bersanding sama kamu.” T
tukas Renata, dia melirik sekilas Rakabumi.
“Gak lebih pantas daripada kamu.”
“Dia juga sepertinya dari keluarga baik-baik, buktinya keluarga kamu mau menerima dia dengan mudahnya. Gak seperti aku, berjuang mati-matian. Bukannya mendapat restu, justru makian.”
Rakabumi sudah menahan ini semua sejak lama, namun semakin dibiarkan Renata semakin merendahkan dirinya. Padahal dia tahu, wanita itu tak seperti itu. Renata dari keluarga baik-baik, dia bahkan tahu siapa almarhumah ibunya.
“Ren, jangan mulai.” ucap Rakabumi kesal, dia sudah memutar tubuhnya menatap Renata.
Renata tersenyum, memainkan bibir gelas ditangannya sebelum kemudian menyimpannya kembali di atas meja. Lalu, memutar tubuhnya menghadap Rakabumi. “Aku harap, kamu mencoba buka hati kamu untuk dia. Perempuan baik-baik, gak pantas disakiti.” ucap Renata sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Rakabumi yang tak percaya dengan ucapan wanita itu.
Belum sempat dia melangkah menyusul wanita itu, namanya lebih dulu diserukan.
“Ayo, pengantin prianya. Ini pengantin perempuan sudah menunggu ingin berdansa bersama.”
Sial. Untuk apa juga keluarganya menyiapkan acara seperti ini. Dengan terpaksa, dia melangkah kembali menghampiri Reina yang menatap kedatangannya. Dia tak mungkin bersikap acuh atau apapun itu pada wanita ini, bisa hancur sudah citranya. Dan, kalau sampai dia menunjukan betapa dia tidak menikmati acara ini, sudah jelas akan ada headline berita yang tidak-tidak. Dia tak mau hal itu terjadi.
“Ayo!” ajak Rakabumi lembut, tangannya terulur menyambut Reina saat dirinya sudah berada dihadapan wanita itu.
Reina terdiam, menatap uluran tangan Rakabumi. Netranya melirik kearah kedua sahabatnya yang mengangguk seolah mengerti arti tatapannya. Akhirnya, tangannya pun terulur untuk menerima uluran tangan Rakabumi untuknya.
Musik mulai di putar, orang-orang mulai masuk dan ikut menggerakkan tubuh mereka mengikuti alunan musik bersama pasangannya masing-masing. Senyum bahagia terpancar jelas, berbeda dengan mereka yang hanya sama-sama diam dengan mata yang saling bertatapan.
“Kamu nemuin siapa tadi?” tanya Reina pelan, dia bukan tipikal orang kepo. Hanya saja, entah keberanian darimana dia bertanya demikian.
Rakabumi menarik sudut bibirnya. “Bukan urusan kamu.”
“Aku istri kamu.”
“Ingat, jangan pakai perasaan.”