“Argh .... Mama ...”
Rakabumi terbangun begitu saja dari tidurnya, matanya masih memerah karena kantuknya. Mata itu kini membulat sempurna, ternganga mendengar pekikan keras yang terasa menusuk ke telinganya. Dia melirik tajam perempuan yang berada di sampingnya, masih tengah memekik sambil menutup matanya. Apa-apaan ini, kenapa paginya disambut dengan pekikan seperti ini. Perempuan itu masih waras kan? Tanyanya.
“Kamu apa-apaan sih!”
“Kamu yang apa-apaan! Kenapa tidur di samping aku, mana gak pakai baju lagi!”
Rakabumi ternganga, dia menghela napas kasar kemudian menjatuhkan kembali tubuhnya di kasur. Tangannya meraup kasar wajahnya sendiri, benar-benar tak habis pikir dirinya dengan perempuan disampingnya ini. Kenapa juga harus berteriak? Mengganggu tidurnya saja.
“Ya, kamu pikir aja. Masa saya tidur di sofa, mana sofa nya kecil lagi. Dan, kamu enak-enakan tidur di ranjang ini, empuk, hangat, leluasa lagi.”
Reina masih menutup matanya, dia benar-benar malu saat membuka mata dan terpampang wajah tampan Rakabumi dihadapannya. Mungkin awalnya dia tak apa, mengangumi ciptaan sang Kuasa. Tapi, saat matanya turun kebawah dan mendapati tubuh atas pria itu yang tak tertutup kain apapun justru membuatnya malu seketika. Matanya ternodai saat itu juga.
Dan, berhubung dengan ucapan Rakabumi tadi. Pria itu bilang akan tidur di sofa, enggan satu ranjang dengan dirinya. Dia sih oke-oke saja, tak masalah. Tapi, kenapa sekarang pria itu sendiri yang menggerutu tak jelas. Dasar!
“Ya, terus kenapa kamu gak pakai baju!”
“Gerah.”
“Ya, tapikan harusnya kamu—”
Suara ketukan pintu menghentikan perdebatan kecil diantara mereka. Siapa juga yang pagi-pagi datang berkunjung ke kamar mereka? Tapi, apakah dia harus bersyukur atau justru mendengus kesal pada orang yang mengetuk pintu kamar mereka? Pasalnya, kalau tidak ada suara ketukan itu mungkin perselisihan masih saja terjadi diantara mereka.
“Bukain tuh!”
“Kok aku sih.”
“Ya, masa saya sih.”
Dengan malas, Reina mencoba turun dari ranjang. Dia masih menutup matanya, hanya saja sedikit membuka celah diantara sela-sela jemari tangannya. Dia berjalan pelan kearah pintu dan saat tubuhnya sudah membelakangi Rakabumi yang masih terlentang di atas ranjang, dia menurunkan telapak tangan yang menutup matanya.
Tangannya terulur membuka pintu kamar dan langsung bertatapan dengan seorang wanita paruh baya yang sudah terlihat rapi dan wangi pagi ini. Berbanding terbalik sekali dengannya yang masih berlapis baju tidur berlengan panjang.
“Ma,”
“Rein, kamu kenapa tadi teriak panggil Mama?”
Reina diam, dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin juga kan, dia menjawab sejujurnya. Tak mungkin juga, dia berkata dia hanya terkejut tadi mendapati ada seseorang disampingnya. Tak mungkin juga, dia berkata dia malu melihat tubuh atas pria yang sudah menjadi suaminya tadi tanpa sehelai benang pun. Bukannya mendapat apa, nanti justru hanya tawa ejekan yang di terimanya. Dia yakin itu.
Sedangkan, Ambar mengerutkan keningnya melihat diamnya Reina. Putrinya terlihat kebingungan hanya karena pertanyaan singkatnya. Netranya tanpa sengaja menatap kedalam, menemukan menantunya yang masih memejamkan mata dengan tubuh atas yang tanpa penutup apapun, sehelai benang pun tak ada. Orang dewasa, pasti akan berpikiran sama sepertinya. Ya, memangnya apa lagi kalau bukan... Itu.
Ambar tersenyum simpul menatap Reina, dia mengusap pelan sebelah pipi putrinya yang membuat Reina kini menatapnya. “Janganlah teriak-teriak kayak tadi lagi, kamu kan udah nikah. Malu dong sama suami, masa pagi-pagi teriak panggil Mama sih.” ucap Ambar pelan, dia terkekeh.
Reina tersenyum kikuk, dia mengangguk pelan.
“Yasudah, mending sekarang kamu bersih-bersih sekalian bangunin Raka nya. Kita sarapan bareng-bareng, udah ada keluarga Raka juga kok dibawah.”
“Iya, Ma.”
Reina segera menutup kembali pintu kamarnya dengan pelan saat Ambar melangkah pergi, dia bersandar pada pintu tersebut dengan netra yang tertuju pada Rakabumi yang kembali tertidur itu. Tck, dia berdecak. Kenapa juga pagi nya harus seperti ini?
“Ya udah, deh. Mending gue bersih-bersih duluan aja. Mumpung tuh cowok tidur lagi, kan aman jadinya.” pikir Reina, dia mengedikan bahunya kemudian melangkah menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Tak lupa membawa baju ganti, dia tak mau hal-hal yang tak diinginkan yang sering kali dibacanya di novel-novel romance terjadi padanya. Tidak...
***
“Raka... Raka...”
Rakabumi mengerjapkan matanya pelan, keningnya langsung mengerut bingung mendapati seorang perempuan dengan sheet mask di wajahnya. Dan, kerutan nya semakin terlihat jelas saat netranya bertemu dengan netra perempuan itu, netra yang sangat dikenalnya.
“Ren, kamu ngapain disini?”
“Hah? Ya, ini kamar aku lah. Kamu apa-apaan sih, orang kamu juga udah tahu aku disini!”
Rakabumi sadar, itu bukan suara wanitanya. Itu suara perempuan yang kemarin sudah resmi menyandang status sebagai isterinya. Ternyata, dia salah. Dia pikir, perempuan yang ada dihadapannya adalah Renata—kekasihnya. Tapi, ternyata Reina. Tapi, kenapa mata Reina mengingatkan dia pada sosok Renata? Entahlah.
Rakabumi tak merespon apapun ucapan Reina, bahkan wajahnya kini sudah kembali datar. Dia memilih beranjak, melewati begitu saja perempuan itu dan masuk ke kamar mandi. Dia harus menyegarkan tubuhnya, otaknya perlu di bersihkan. Agar otaknya tak bodoh lagi, sampai-sampai membedakan Renata dan Reina saja dia tak bisa.
Sedangkan, Reina. Dia menatap kepergian pria itu dengan kesalnya. Moodnya semakin buruk saat wajah datar itu kembali dipampangkan, padahal jelas-jelas tadi sebangun tidur. Pria itu tak terlalu begitu datar. Kenapa, sekarang sifat aslinya kembali lagi coba?
Reina mengedikan bahunya acuh, memilih berjalan kearah meja rias nya dan mulai memakai skincare nya seperti biasa setelah sheet mask yang menempel diwajahnya dia lepas. Tak lupa, dia mengeringkan rambutnya dan membiarkan rambutnya terurai lurus begitu saja. Beberapa menit berlalu begitu cepatnya, hingga teriakan Rakabumi membuat Reina menoleh kearah pintu kamar mandinya.
Reina beranjak, berjalan kearah kamar mandi. “Apa?” tanya Reina, dia sudah berdiri didepan pintu.
“Ambilin saya handuk, saya lupa bawa.”
Reina ternganga, dia pikir tak ada adegan seperti ini. Tapi, ternyata ada. Kalau dalam novel yang biasa dia baca, pasti adegan ini diperankan oleh wanita. Tapi, dalam real life nya justru sebaliknya. Adegan ini di perankan oleh sang pria yang lupa membawa handuk untuk mandi. Lalu, selanjutnya apa? Huft!
“Bentar, bentar.”
Dia berjalan kearah lemari kamarnya, mengeluarkan handuk bersih berwarna putih gading kemudian terdiam kaku di depan pintu. Tangannya dengan pelan mengetuk pintu tersebut. “Nih.”
Reina segera mengalihkan pandangannya saat pintu kamar mandi terbuka sedikit, bahkan dia menutup matanya karena tak mau hal yang tidak-tidak terlihat oleh matanya. Jangan sampai matanya kembali ternodai, cukup tadi saja saat bangun tidur justru menemukan tubuh toples bagian atas milik pria yang berstatus sebagai suaminya.
Brak!
Pintu sudah ditutup kembali dan sekarang Reina mendengus kesal saat tak ada ucapan terimakasih atau apapun itu yang dilontarkan pria itu. Benar-benar! Baru saja tubuhnya hendak berbalik, dia dikejutkan dengan Rakabumi yang sekarang sudah keluar dari kamar mandi. Dia memekik keras. Satu hal yang membuat dia memekik keras yaitu tubuh atas pria itu kembali terpampang nyata di depan matanya.
Argh...
Mendengar pekikan keras dari Reina membuat Rakabumi terkejut bukan main, tanpa sadar dirinya langsung berjalan cepat menghampiri perempuan itu berniat menutup mulut yang sejak tadi selalu memekikkan telinganya. Sialnya, justru dia tergelincir karena licinnya lantai. Tapi, salahkan kakinya yang masih basah sudah menyentuh lantai. Tidak... Tidak... Salahkan Reina yang memekik keras yang membuat dia melakukan kebodohan itu.
Alhasil, tubuh Rakabumi terjatuh menimpa tubuh Reina. Kesialannya pagi ini benar-benar bertambah saat dengan refleks tangannya melingkar di bahu perempuan itu, seolah menyangga punggung perempuan itu agar tak langsung menyentuh lantai. Dan, resikonya sekarang tangannya sendiri yang kesakitan saat berbenturan dengan lantai secara langsung, apalagi menyangga tubuh Reina dan tubuhnya.
Jantung Reina berdetak tak karuan, dia tak tahu apa maksudnya. Yang jelas, kini matanya menatap mata Rakabumi yang berada sangat dekat dengannya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, bergerak sedikit saja sudah bisa dipastikan akan ada yang menyatu.
“Ya ampun... Deket banget.” batin Reina, dia menatap was-was Rakabumi sambil merasakan debaran jantungnya sendiri.
“Kenapa mata Reina bisa mirip banget sama Renata? Kenapa gue baru sadar sekarang.” batin Rakabumi tak mengerti, keningnya mengerut bingung menatap netra perempuan itu yang selalu mengingatkannya pada kekasihnya.
Hingga, kesadaran mereka kembali saat pintu kamar tiba-tiba dibuka oleh beberapa orang. Mereka menoleh, terkejut mendapati orang tua mereka disini. Dan, posisi mereka sedang dalam mode tidak aman. Mereka yakin, pasti semua orang berpikir yang tidak-tidak.
“Ups, sorry.”