Hal paling sulit bagi seorang Reina adalah bersikap biasa saja disaat berada di dekat Rakabumi. Dia sekuat tenaga mencoba membiasakan diri, toh sejak awal dia sendiri yang menginginkan ini semua. Sejak awal, dia sendiri yang mengambil keputusan untuk membuat pernikahan ini serius. Jadi, ya, dia harus serius. “Reina,” Reina mendongak, tersenyum simpul menatap Taru yang sudah mulai ada kemajuan. Hari demi hari di lewati, dari yang hanya diam tanpa suara yang kini bahkan sudah bisa menunjukkan tawa. Ya, secepat itu waktu berlalu begitu saja. Memakan waktu sampai berbulan-bulan hingga Taru bisa kembali menunjukkan senyumnya, meskipun tubuh tegapnya masih belum kembali seperti sedia kala. Selama itu pula, Reina berusaha dalam pernikahannya. “Kenapa melamun?” tanya Taru, dia menatap pu

