Reina mendengus kesal, mulutnya tak henti-hentinya menggerutu mengingat kejadian tadi. Sebenarnya dia tak seharusnya bersikap demikian, karena sejak awal dia tahu, pernikahan ini tak diharapkan pria itu, tidak juga dengannya, awalnya. Pernikahan ini hanya kepalsuan untuk alasan yang dia sebenarnya tak tahu menahu. Reina segera menepikan motornya saat ponselnya bergetar, dia mengeluarkan ponsel dari celananya kemudian mengangkat panggilan yang berasal dari Mama nya itu. “Hallo, Ma?” “Rein, kamu dimana sayang?” “Rein lagi di jalan, Ma. Baru dari...” “Darimana?” Reina menghela napas pelan. “Kantor Bumi.” “Mama senang dengernya, ternyata hubungan kalian ada kemajuan, ya. Tapi, tunggu. Kenapa ramai banget sih? Kamu sendirian kesana?” “Iya, aku sendiri. Pakai motor.” Terdengar p

