“Taraa!!” Seru Rania membuka sebuah laci bagian atas yang menampilkan berbagai macam mi instan. Mulai dari mi instan bungkus, mi instan gelas, hingga mi cup. Mata Musa berpijar. Mulutnya terbuka lebar. Hembusan angin seolah menerpa rambutnya melihat barisan mi yang sangat banyak. “Dokter Musa mau yang mana? Saya buatin” Tawar Rania. Image ceria dan cerah memang melekat pada dokter residen satu ini. Musa meneguk salivanya kasar “Gue mau yang---”. “Eh! Kita baru buka puasa loh. Masa mau makan mi?” Sadar pria mungil itu. “Kan tadi udah makan kebab dari Aisyah” Rania menampakkan senyum innocent dengan barisan gigi yang rapi disana “Sekali doang, kok” Ia tertawa. “Okelah” Entah mengapa mi selalu punya cita

