Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri diatas singgahsananya. Qiara sudah bergegas menuju ruang operasi bersama pakaian perangnya. Namun sebuah pandangan membuatnya terhenyak. Ia lantas menoleh pada sosok yang berpakaian serupa di ujung sana. Ya, hatinya berdesir kala merasakan ada mata yang terus terpaku padanya. Sosok itu melepas masker yang menutup wajahnya. Ridwan. Pria tampan dengan senyuman hangat itu menyemai pagi buta dengan segala ketulusan. Pria yang memilih untuk menyerah. Ralat! Lebih tepatnya melapangkan jalan baru untuk Qiara. Dia masih sama. Masih indah. Mereprentasikan sebuah keabadian dalam kepribadiannya yang luhur. Qiara terdiam untuk beberapa waktu. Menatap pria yang lebih muda darinya itu mendalam. Ada

