Masih berbalutkan setelan piyama panjang disertai kerudung bergo, Qiara keluar dari kamar. Matanya masih tampak sayu. Kemudian meraih ponsel di atas meja makan dan melihat jam disana. “Jam 3” Ucapnya nyaris tanpa suara. Ia bergegas membangunkan Tiara. Membuka pintu kamar dengan tenaga seadanya. Menemukan kembarannya yang masih terbungkus selimut rapat-rapat “Ah iya, dia nggak puasa”. Qiara berbalik. Berjalan lemas menuju pintu kulkas untuk mencari bahan-bahan yang bisa dipakai untuk membuat makan sahur “Bikin apaan?” Lalu ia buru-buru menutup mulut saat menguap. Mengambil satu bungkus makanan instan dan membacanya dengan susah payah, sebab ia masih sangat mengantuk “Hoteok[1]?” Ia memeriksa lagi bungkusnya “Masa sahur makan beginian, mana

