"Lo berhak bahagia. Cuman lo harus menunggu waktu yang tepat untuk berbahagia, Sena!" "Apa mengambil waktu mama itu dosa besar? Apa gue bakal dicap anak durhaka jika ingin mendapatkan perhatian mama kayak dulu lagi?" Sena bertanya-tanya dalam getaran tangis yang memilukan. Sena akhirnya meledakkan emosinya dan air mata yang ditunggu-tunggu turun seperti aliran sungai. Dion yang baru kembali hanya celingak-celinguk dan tampilan wajah bodoh itu terasa menyebalkan bagi siapa pun yang melihatnya. "Tuhan, sekali aja," rintih Sena memukul dadanya dengan tangisan tanpa suara. "Gue mau ngerasain perhatian hangat mama lagi, walau cuman sebentar. Nggak apa-apa." Sena menatap wajah sahabatnya dengan wajah kesakitan, tenggorokan miliknya tercekat—itu terasa pedih, tetapi hatinya benar-benar seolah
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


