"Iya, Mah, Sena usahain ...." Sena mengunci pintu kamar yang didesain kedap suara, lalu meraung seperti orang gila sampai pita suaranya lelah memanggil-manggil seseorang yang sudah tidak beraga. "Papah, Sena mau ikut papah." "Mama jahat ke Sena, Pah, gara-gara punya pria lain setelah papa nggak ada. Sena pikir ... mamah sanggup ngejalani single parent, tapi ternyata mamah pun nggak sempurna." "Hidup di dunia melelahkan dan mengecewakan makanya papa memilih pergi iya, kan, Pah?" Sena dengan mata sembap memilih memeluk lututnya, terus meminta agar Hamdan ikut serta membawa putrinya bersamanya ke alam sana, mengapa semesta berbuat tidak adil mengambil pondasi terkuat di keluarganya? "Seandainya papa masih hidup, mama nggak akan ngalamin puber kedua dan berpaling mencari hati lain," isak

