15. Ajakan Kencan

1000 Kata
"Please, jangan memperkaos gue." Lol, Sena menutupi bagian atas tubuhnya dengan kedua tangan seolah tengah melindungi diri dari tangan-tangan nakal p****************g semacam Dalilan. Matanya melirik, kemudian menatap seseorang yang sialnya itu adalah Frasa. Kok, berasa seperti habis kepergok sedang selingkuh ya? Sena diam-diam meringis sembari menyembunyikan kotak musik yang ditemukannya di ruangan ini. "Ngapain lo ke sini, Sa?" "Memang cuman lo aja yang bisa ke sini? Orang lain kan punya akses yang sama." Akting Frasa yang totalitas ini mampu memacu adrenalin Sena yang sudah ketakutan setengah mati. Aduh, seharusnya dirinya keluar lebih cepat dari sebelumnya. "Kotak musik yang lo pegang saat ini, bisa lo jelaskan di mana lo nemunya?" Frasa melangkah mendekat dengan angkuh hingga tepat di hadapannya membuat Sena meneguk ludah kasar, cowok itu lalu sengaja menggoyang-goyangkan kotak musik dari tangan cewek itu usai mengambil paksa. "Nggak, gue ketemunya di atas piano secara nggak sengaja. Itu pun gue aja baru megang sama muterin sedikit." Sena ngeles, padahal sudah mainkan kotak musiknya berulang-ulang kali. Hanya saja rasanya memalukan sebab itu adalah mainan anak kecil, tidaklah cocok untuk anak sebayanya. Seram kalau nanti rumor yang dibumbuhi omongan berlebihan jadi beredar di kalangan siswa-siswi di Jewel High school yang tidak mengenakkan. Sena tersenyum masam tatkala Frasa melontarkan sarkasme tentang sanksi kalau mencuri barang orang lain di Jewel High School selayaknya Ketua OSIS, akan di-skors selama sebulan, mendapatkan surat peringatan juga nilai plus akan dikurangi dan nama akan tercantum di catatan hitam. "Gue udah bilang kalo gue nggak ada niat mau nyolong," tuturnya dengan nada yang terdengar geram. Dirinya merasa bahwa kesabarannya sudah hampir mencapai batas, mengapa tak ada orang yang paham? Karena para manusia hanya melihat apa yang mau mereka dengar daripada melihat hal yang sebenarnya. "Tapi kenapa lo terus memegang ini? Ini mainan Ila dan dia kemarin juga bilang kalo mainannya hilang," ucap Frasa tenang, tetapi lain halnya Sena yang menatap tajam dalam kebisuan. Percuma saja, tidak akan ada orang yang akan memercayai cewek yang senang bermain dengan para cowok. Itu sudah hal yang pasti, bukan? "Gue nggak tau kalo itu ... mainan Ila yang hilang, karena gue yang nemu di tempat ini. Kalo lo nggak percaya, ya udah. Gue nggak pernah maksa yang lain ataupun lo buat percaya gue, Sa." Sena bangkit dari acara duduk, lantas melangkah melewati Frasa yang kini termenung. Masa bodoh, mau cowok itu percaya atau tidak, itu, kan, bukan urusannya. Cewek itu membuka pintu dan lanjut mencari Rachel yang kalau dilihat belum menampakkan batang hidung. Sementara di sisi lain, Frasa menoleh dan tak menemukan punggung Sena lagi. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum kecut. "Sori, gue jadi terpaksa bentak-bentak lo, biar lo nggak bakal terbebani sama rumor gue. Gue takut kalo lo ikut diserang gara-gara teman sama duda beranak satu." "Terlepas dari semua itu, gue nggak memandang lo sebagai teman aja, Na, tapi enggak bakal bisa bilang sampe detik terakhir. Lalu rahasia yang ada di dalam kotak ini perlu gue simpan dan dijaga selamanya." Bergumam. Frasa membuka kembali kotak musik yang terdapat miniatur balerina itu, mata elang itu terlihat berkaca-kaca. Karena kotak itu adalah kenangan terakhir dari seseorang yang sudah lama pergi. "Gue nggak bisa biarin kalo kotak ini disentuh orang lain termasuk lo. Ah, mungkin juga kalo gue terus begini lo nggak bakalan pernah ngerti sampe kapan pun, Sena." Benar, saat hari itu Frasa tidak membeberkan semuanya. Masih ada rahasia yang diendapkan selama bertahun-tahun tanpa seorang pun yang mengetahui faktanya. Frasa lebih senang kesalahpahaman murid-murid terus berlanjut hingga dirinya lulus sekolah daripada menjelaskan kenyataan yang tentu tidak digubris. "Papa, kenapa nangis?" *** "Lo punya utang cerita sama gue, Na!" Rachel mendatangi meja yang sudah diduduki Sena beberapa menit yang lalu dengan pipi yang mengembang dipenuhi makanan dari kantin yang belum sepenuhnya dikunyah. Cewek yang notabene sahabat itu membuang wajah, seolah enggan melihat dirinya. "Eh, lo kenapa? Kok, mukanya pucat gitu, sih? Lo lagi sakit?" Sena dibordir banyak pertanyaan saking khawatir Rachel padanya. Harusnya si sahabat tahu kalau cewek itu sedang tak ingin diajak bicara karena lagi bad mood. "Gue nggak sakit, cuman lemas doang karena habis lari dari ruang musik ke kelas, Chel." Yang ini Sena telah jujur. Dia tak sanggup membohongi Rachel yang tingkat kepekaan bukan main-main hebatnya. Bagaimana tidak, sih? Lah, cewek itu baru berniat menutupi tentang peristiwa di ruang musik, eh, Rachel kembali menginterogasi. "Ngapain lo ke ruang musik? Lo, kan, bukan anak musik yang ekskul. Rada aneh lo emang." Sena hanya cengar-cengir tanpa berusaha mengatakan alasan. Beruntung, sahabatnya tidak lagi mengungkit-ungkit, justru sibuk meminta contekan pada teman yang paling pintar, karena sebentar lagi akan diadakan ulangan harian. "Lo kasih gue contekan jawaban buat ulangan matematika, nanti gue ganti sama traktir lo dua mangkuk bakso sekalian gerobaknya Mang Icip, deh." Rachel dengan iming-iming traktiran akhirnya mendapatkan contekan soal beserta jawaban. Sena menarik napas dan menggeleng pelan, tak heran jika kelakuan sahabatnya yang abnormal. "Mending belajar." Sena mengambil buku paket, kemudian membacanya sambil meresapi setiap kalimat yang masuk satu per satu ke sel-sel dalam otak. Namun, sebelum dirinya dapat menamatkan lembaran terakhir dari materi untuk ulangan harian sebuah tangan menghalangi pandangan. Aih, sungguh mengganggu. Siapa mau cari gara-gara dengan Sena? Lalu kenapa suara yang tadi berisik mendadak sehening ini? Apakah ada guru yang sudah duduk di mejanya? Atau Sena yang jadi melupakan waktu karena terhanyut dalam kegiatannya membaca ulang materi? Sebenarnya apa yang terjadi? Sena mendongak dengan slow motion, sepasang iris Indranilla itu mengerjap menelaah wujud yang dari dulu selalu menari-nari dalam pikiran. Amit-amit jangan sampai dirinya dikira ngehalu tentang doi karena terlalu kangen dan kebenarannya berhasil membawanya ke alam kesadaran. "Dika? Bukannya kelas lo bukan di sini?" "Hai, lo tetap cantik seperti kemarin-kemarin, ya. Tapi menurut gue, sih, hari ini lo lebih cantik sampe bikin cowok-cowok terpesona termasuk gue." Wajah Sena seketika bersemu merah karena memperoleh pujian dari sang gebetan secara langsung. Sebuah keajaiban yang melelehkan hati cewek berkemampuan spesial yang tanpa sadar lupa berkedip. "Sen, gue mau ngajak lo. Boleh?" "Eh, apa? Ke mana, Dik?" tanya Sena setengah gugup. "Gue mau ngajak lo kencan bareng ke tempat sederhana, tapi romantis kok."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN