"Dika? Bukannya kelas lo bukan di sini?"
"Hai Sen, lo nih, tetap cantik seperti kemarin-kemarin, ya. Tapi menurut gue, sih, hari ini lo lebih cantik sampe bikin cowok-cowok di sini terpesona termasuk gue." Wajah Sena seketika bersemu merah karena memperoleh pujian dari sang gebetan secara langsung begini. Sebuah keajaiban yang melelehkan hati seorang cewek berkemampuan spesial yang tanpa sadar lupa berkedip.
"Sen, gue mau ngajak lo. Boleh?"
"Eh, apa? Ke mana, Dik?" tanya Sena setengah gugup. Untuk pertama kali, Dika mau mendatangi meja cewek itu sekarang di kelasnya.
"Gue mau ngajak lo jalan bareng ke tempat sederhana, tapi romantis kok." Sena mengerjap, mendadak pikiran kosong. Berusaha sadar sambil tetap memproses segala yang terjadi, tidak terkecuali ucapan ambigu Dika yang barusan. Kepalanya dipenuhi banyak tanda tanya besar.
"Nggak lo jawab sekarang nggak apa, kok, Na. Intinya lo harus pergi karena gue ada urusan sama lo," tukas Dika sambil mengulas senyum yang paling ramah. Sena masih bungkam dengan berbagai perasaan berkecamuk entah bagaimana memahaminya. Cowok itu melengang meninggalkan kelas untuk kembali ke habitat awal.
"Heh, buntut ayam! Gue nggak salah liat lo abis ngobrol sama dia, kan? Oh, my God! Setelah bulan purnama terbit lo baru bicara normal, salut gue!" ujar Rachel yang tiba-tiba muncul dengan tawa mengejek. Sangat menyebalkan, tetapi kali ini Sena yang sedang baik hati akan memaafkan dosa si sahabat.
"Maksud lo apa, Chel? Mau ngehina gue atau muji?" Sena berdecak malas saat Rachel nampak paling heboh melihat pertunjukan gratis di depan mata. Yah, mau bagaimanapun mungkin someone yang ikut bahagia setelah dirinya tentu adalah cewek nyentrik ini. Even, bisa jadi kalau Rachel tidak lupa membawa uang jajan, sahabatnya akan mentraktir satu sekolah.
"Dua-duanya dong, apalagi?" Sembari cengengesan, Rachel menyambar satu buah nugget dari tempat bekal Sena-membuat si empunya melongo lebar. Dasar cecunguk, ngambil nggak minta izin pula! Mana itu bagian kesukaan yang sengaja cewek itu sisihkan untuk dimakan belakangan!
"Ih, sahabat nggak tau malu banget sih, lo, Ra! Bagian terakhir itu, huwaa!" jerit Sena dramatis. Rachel hanya bodoamat sembari mengunyah makanan dengan khidmat, ya, mengabaikan sang sahabat yang tengah kesetanan karena sebekal yang dirinya ambil.
"Lagian lo nggak makan-makan, jadi ya, gue ambil karena gereget. Siapa suruh lambat kayak makan batu, Na." Rachel berucap dengan ketus. Sena mencebik, matanya sudah mendelik tajam. Satu tangan menunjuk-nunjuk tepat ke arah wajah sahabat yang seolah tak berdosa telah mencuri isi bekalnya. Dasar tidak tahu diuntung, ya!
"Iya-iya, gini doang kok, gampang gue buat gantiin nanti," kata Rachel enteng membuat Sena memutar bola matanya malas. Sabar, yang terpenting makanan yang masuk mulutnya harus digantikan dua kali, eh, sepuluh kali lipat! Tak mau tahu pokoknya! Rachel harus tanggung jawab!
"Betewe, lo bakal pergi ke mana nanti kencannya?" Rachel kini mengalihkan pembicaraan agar suasana pun kembali cair. Sena menatap lekat sang sahabat sambil memasang wajah berpikir keras, bagaimana baiknya? Apa memang dirinya perlu mengatur tempat dan bukan Dika?
"Gue nggak tau, dikata gue yang cowok, tanya aja, tuh, sama yang ajak gue buat kencan." Sena saat tengah dongkol suka sewot. Rachel meringis ketika cewek itu langsung menjawab sinis setelah cukup lama diam sejak tadi. Sejujurnya Rachel tak paham kenapa semua hal berkaitan dengan Dika membuat Sena jadi orang yang bodoh sebab mulai dibutakan rasa cinta semu.
"Sena, suka boleh, tapi jangan b**o lho. Gue nggak suka liat lo terlalu lebay gini soal cowok." Rachel kadang bisa berubah menjadi bijak dan serius seperti ini. Sena heran tentang cara kerja otak sang sahabat sejak mereka mulai berteman dulu. Apakah sejak masih embrio bentukannya emang sudah begini? Maaf, tapi Sena penasaran sekali bagaimana proses Rachel bisa terlahir hingga tumbuh sebesar ini.
"Iya-iya, gue masih tau batasan kok. Tenang!" Sena hanya membagikan senyum semringah khasnya. Namun, mata adalah jendela hati, sesuatu yang tak bisa dibohongi ketimbang yang lain. Rachel tidak menunjukkan respon apa pun, dirinya hanya termangu memandangi Sena yang asyik mencatat di buku yang entah namanya buku harian atau apalah, tidak penting deh, buat diingat. Mungkin segalanya ada di buku tersebut, tidak ada seseorang yang tahu kecuali cewek beriris Indranilla yang duduk di sebelahnya saja. Lagipula, Rachel bukan tipe-tipe yang senang mengorek-ngorek privasi orang.
"Gue cuman takut kalo lo khilaf nanti, Na, dan terjerumus makin dalam ke hal yang nggak seharusnya lo lewati." Sena tidak ada niatan menjawab nada yang tersirat kekhawatiran di sana. Rachel memang baik, hanya saja Sena tak mau langsung menurut dengan mudah.
"Tapi yang paling gue pikirin kenapa si Dika berubah tiba-tiba? Hm, kayak ada bau-bau mencurigakan nggak sih, Sen? Coba lo ingat-ingat lagi, deh," celetuk Rachel tanpa dosa. Setelah mendengar itu, rasanya tangan Sena gatal untuk menempeleng kepala sahabat dengan sangat keras, sungguh mengada-ngada.
Ya walau rasa agak janggal karena Dika yang mengajak, tetapi bukan berarti itu bisa dijadikan salah satu alasan di balik sikap pura-pura manis dirinya, kan?
"Sekarang semua pilihan ada di tangan lo, terserah lo mau pilih jalan apa. Tapi sebagai sahabat, gue nggak bakal biarin lo pas mengarah ke hal negatif ya!" kata Rachel mengingatkan yang ditanggapi anggukan oleh Sena saat itu. Untuk kali ini, bolehkan cewek itu berpetualang di dunia yang penuh dengan hal-hal baru, dunia merah jambu di mana perasaan akan lebih mendominasi.
Sena merasa terharu sebab ada orang yang tidak sungkan mendukung pilihan dirinya sejak mereka resmi berteman.
"Gue percaya sama elo, karena lo pasti udah memikirkan bobot dan bibit, kan? Nggak salah sih, lo juga perlu mencari orang yang bisa menjaga lo abis ayah lo meninggal, Na." Rachel mengelus surai Sena bak seorang ibu yang mengayomi anaknya. Selama ini, dirinya selalu saja menyaksikan orang-orang yang sedang meratapi luka di atas senyum dan tawa, belum pernah secara langsung melihat Sena yang mengukir senyuman legowo setelah bercerita tentang kematian sang ayah.
"Tapi Sen, ingat satu hal. Meski sesuka lo sama Dika, kalo orangnya nggak mau diperjuangin. Lo bukan harus mundur lagi, tapi berhenti." Sena hanya dapat menganggukkan kepala. Rachel tak bisa melihat sang sahabat kembali bersedih, cukup si ayah yang meninggalkannya. Jangan sampai gara-gara seorang saja, dunia Sena pun ikut runtuh.
Bagaimanapun, mau tidak mau Rachel harus mengamati diam-diam mengenai sosok yang disukai sahabat yang sudah dianggap sebagai saudara kandung. Ah, dirinya wajib mengumpulkan aib Dika dan membuat Sena ilfeel usai menyebarkan!