17. Cara Cantik, ya?

1042 Kata
"Tapi Sen, ingat satu hal. Meski sesuka lo sama Dika, kalo orangnya nggak mau diperjuangin. Lo bukan harus mundur lagi, tapi berhenti." Sena hanya dapat menganggukkan kepala. Rachel tak bisa melihat sang sahabat kembali bersedih, cukup si ayah yang meninggalkannya. Jangan sampai gara-gara seorang saja, dunia Sena pun ikut runtuh. Bagaimanapun, mau tidak mau Rachel harus mengamati diam-diam mengenai sosok yang disukai sahabat yang sudah dianggap sebagai saudara kandung. "Iya, gue tau kapan harus berhenti, Ra. Lo mah tenang aja, gue nggak sebego yang lo pikir." Tapi lo emang b**o, Na. Teriakan batin Rachel yang mustahil akan terdengar, seperti kata orang bahwa cinta itu buta dan tuli. Mau gadis itu berbicara hingga mulut berbisa, kalau Sena sendiri belum memiliki keinginan untuk berhenti, semua akan terasa rumit. "Na, gue udah ingatin lo. Semua yang bakal terjadi nanti itu karena pilihan lo sendiri, gue sebagai sahabat nggak bisa ikut campur lebih jauh. Camkanlah itu." Sena memandang lamat Rachel yang menekankan kalimat terakhir, lantas menghela napas tidak habis pikir. Si sahabat rasa emak mencemaskannya rupanya, etiket yang baik tentu saja menenangkan Rachel. "Ra, lo nggak usah khawatirin gue yang jelas-jelas masih bisa mengedepankan logika, kok. Gue juga masih bisa bedain yang salah dan mana yang benar," ujar Sena menanggapi kalem. Rachel hanya mencibir walau dalam hati meragukan perkataan si bestie. Ya, mungkin lebih baik kita pantau saja dulu. "Terus lo usah nentuin mau pakai baju apa buat date lo sama si Dikanjir cap kadal gurun? Dah ada Daisy, gue nggak mau, ya, lo sama di—" Sena melotot jengkel saat mendengar panggilan nyeleneh dari Rachel yang memang ditujukan untuk doi. Sudah serius-serius begini, mengapa malah tidak bertobat? "Dika, Ra! Dika namanya! Tau ah, sana lo minggat aja ke alam barzah. Ogah ih, sebumi sama makhluk astral bentukan lo." Rachel mengambil gagang sapu di pojok belakang kelas dan lanjut berlari mengejar Sena yang sudah ngibrit. Ah, indahnya masa-masa damai seperti ini, betul? "Halah, suka kok sama cowok yang udah tunangan? Mikir dong, Na! Mana tunangannya calon bibit-bibit sad girl pula, apa kabar dunia pergosipan nanti coba," seru Rachel menggelegar di sepanjang koridor, masih dengan tangan yang terus memegang gagang sapu—siap menimpuk kepala Sena yang mungkin sudah setengah tidak waras, ralat, tidak pernah waras. Ya, mana ada sih, seorang Sena waras sepenuhnya, bukan? *** Langkah Sena sudah berada di depan pintu rumah utama. Melengok ke arah jendela yang tersibak gorden, dengan penerangan cahaya yang minim. Itu berarti Cecil sudah tertidur lelap. Ya, gadis itu baru sampai setelah keasyikan belanja keperluan di mall bersama sang sahabat yang memang sukarela mau (re: nelangsa) membantu dirinya untuk memilih apa saja barang-barang yang dibutuhkan nge-date. "Sena pulang, Ma," lirihnya ketika netra cantiknya menemukan kegelapan yang menakutkan sebelum jemari lentik itu berhasil meraba saklar. Sena akui saja, terkadang benci dengan rasa gelisah yang menyekik ini. Bukan takut gelap, melainkan ada banyak perasaan lain yang agak sulit dijelaskan. "Ukh ... air." Sena merasa bahwa kini rasa haus lebih mendominasi acap kali menjejali fakta tentang gelap yang jadi pemicu lututnya lemas. Gadis periang itu kalah oleh perasaan trauma. Sekarang bukan waktunya bersantai, Sena harus memikirkan ulang rencana menendang Dalilan agar tak jadi nikah dengan mamanya. Jangan harap gadis itu sudi menjadi anak tirinya, apalagi akik-akik tua itu ada pikiran ngembat menjadikan Sena sebagai istri kedua! Sebenarnya si Dalilan tidak tua-tua amat, baru mau masuk kepala empat. Bila jujur, parasnya rupawan di usia yang tidak lagi muda. Hanya Sena sangat keberatan jika namanya nanti bersanding dengan Dalilan, terlebih berubah status suami sah Cecil. Dengan langkah yang terbilang lemas, Sena menggapai kamar yang terletak lumayan jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Kenapa susah-susah berjalan, tinggal terbang saja seperti novel genre fantasi yang kerap dibacanya? Hal ini menguras tenaga, you know? Apa kalian pernah mendengar suatu penggalan yang berbunyi seperti ini, laki-laki semakin kaya akan semakin nakal, sedangkan wanita semakin nakal akan semakin kaya? Ekhem, secara nalar Sena menafsirkan begini, bagi pria mungkin prioritasnya adalah harta, tahta, baru wanita. Dua hal pertama ialah sesuatu yang krusial sekali. Wanita hanya numpang lewat menurut mereka, kebanyakan dari pria menjadikannya sebagai alat pemuas nafsu bejatnya maupun mengambil keuntungan dengan menyalahgunakan kuasa yang dimiliki. Lalu, untuk yang wanita? "Gue bingung," gumam Sena setelah membaca ulang secarik kertas yang penuh coretan tinta. Sebagian kecil dari kaum Hawa ... menukarkan mahkota yang seharusnya dijaga sepenuh hati ke p****************g dengan nilai mata uang yang tidak seberapa? Bukan ingin menggurui, meski butuh uang untuk makan—tidakkah mereka berpikir jika mementingkan kesucian diri jauh lebih mulia dan dibarengi pekerjaan yang halal. Sena tahu, tak mudah menjalani hidup, tetapi semua itu pasti ada jalan keluar, 'kan? Lantas mengapa, malah menyerahkan diri begitu saja dan tunduk pada pria yang sudah jelas maksud dan tujuan, berakhir dicampakkan di kemudian hari? Sena tidak mengerti, memang dirinya tidak begitu tertarik menilik isi pikiran perempuan, tetapi ada waktu di mana gadis itu membaca pikiran tanpa unsur sengaja. "Huu, buat apa gue ambil pusing. Ada yang lebih penting, gimana pun gue perlu cara cantik bikin si bapak-bapak tua bangka kapok tanpa malu-maluin diri gue sendiri." Sena menyeka anak rambut yang berjatuhan di kening, nampak lepek karena dijemur bagai ikan asin menghadap Bendera Pusaka ketika di sekolah. Lupa mandi, hohoho. Aduhai, kalau ada yang lihat Sena kini, pasti, deh, mantan-mantannya dahulu pada klepek-klepek. Lah, wong tambah seksyihh gini, batinnya membanggakan diri sendiri dengan seringai khas badut menyeramkan Pennywise. Tuhan sayang kali padanya, makanya dikasih kemampuan istimewa dan Sena sebagai manusia budiman dan akhlak mulia menggunakannya dengan tujuan kebaikan. Nah, kawan-kawan, jangan sampai kalian meniru perilaku Sena Sambora yang sedang mode sedeng. "Duh, kumat lagi gue. Ayolah, kapan gue normalnya." Tuh, ngaku juga Sena kalau dirinya tidak normal. Gadis itu menegakkan sandaran kursi, mata Indranilla itu terpaku pada secarik kertas yang dicoret-coretnya. Rencana mencoret om-om genit dari list suami idaman Mama Cecil ala Sena: 1. Pura-pura tidak sengaja menarik celana Dalilan sampai sempaknya terlihat ketika makan malam keluarga. 2. Memergoki Dalilan yang memainkan boneka barbie di kamar gue setelah mengajak Mama bicara di dalam. 3. Memaksa Dalilan pakai dress punya gue dengan dalih bakal menerima dia sebagai papa tiri sambil nyanyi dangdut depan Mama gue. Dst. Sena mengembuskan napas sedikit ragu. Apa dengan Sena melakukan semua yang ada di dalam list ini, bisa membuat pria gila harta itu sepenuhnya jera?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN