18. Majalah Untuk Cecil

1011 Kata
Rencana mencoret om-om genit dari list suami idaman Mama Cecil ala Sena: 1. Pura-pura tidak sengaja menarik celana Dalilan sampai sempaknya terlihat ketika makan malam keluarga. 2. Memergoki Dalilan yang memainkan boneka barbie di kamar gue setelah mengajak Mama bicara di dalam. 3. Memaksa Dalilan pakai dress punya gue dengan dalih bakal menerima dia sebagai papa tiri sambil nyanyi dangdut depan Mama gue. Dst. Sena mengembuskan napas ragu. Apa dengan Sena melakukan semua list ini, bisa membuat pria gila harta itu sepenuhnya jera? Huft, bukankah ini sama saja dengan mengundang amukan bapak-bapak tua yang menurutnya sudah bau tanah? Ya, lagipula tidak masalah asal terjamin setelah menanggung rasa malu yang tentu tak terelakkan, Dalilan terlempar secara tidak terhormat. Ini yang Sena inginkan. Tidak akan Sena biarkan keluarga kecil yang berusaha dijaga rusak begitu saja setelah diusik orang luar. Tidak akan pernah! Soal membujuk Cecil, sudah Sena sejak awal pikirkan sebelum membuat list ide tergila ini. Cara termudahnya agar mau mengadakan pertemuan keluarga segera adalah dengan sebuah koleksi majalah yang ada di kamarnya kini, cewek itu tersenyum tipis menoleh tepat ke laci yang tergembok kunci. Iya, benar ... majalah. Keesokan harinya, di sinilah Sena berada, berdiri tegak menghadap ke arah sang mama yang menyilangkan kedua kaki menatap angkuh setelah mendengarkan apa yang ingin anak gadis semata wayangnya sampaikan. "Kamu bilang mau ngadain apa?" Cecil bertanya dengan nada menekan, bola matanya menyipit. "Yah, Sena mau ngadain pertemuan keluarga, tapi Mama yang ngundang. Semacam pengen ... bahasa halusnya sebagai ucapan maaf karena udah berlaku nggak sopan ke Papa Dalilan gitu, Ma." Eh, tapi bohong, ya kali minta maap segampang itu. Sena kicep, tidak mengucapkan kalimat yang satu ini. Bahkan sampai kapan pun, cewek itu bersumpah tidak akan pernah meminta maaf setulus hati, karena orang seperti Dalilan tidak pantas menerima maaf. Oh ya, TMI (to much information) Sena tidak memiliki sanak saudara ataupun kerabat jauh, jadi yang dimaksudnya adalah perkumpulan yang bersifat pribadi antara dirinya, Cecil, dan Dalilan alias tiga orang. Vibesnya seperti makan malam biasa, kok. Biasanya om-om genit itu mengajak keluarga untuk berkunjung yang numpang makan, lalu memilih di luar rumah setelah berbincang ria. Jadi dirinya menginginkan pertemuan tertutup. "Tenang aja, Mama dapat imbalan, kok. Ambil semua majalah dewasa koleksi di kamar Sena." Ceritanya Sena kepengin nyogok Cecil dengan iming-iming satu box besar berisi majalah dewasa yang memuat gambar lekukan tubuh pria tanpa busana, sesuatu yang pasti sang mama tidak dapat menolaknya. Lihat, mata Cecil seketika berbinar cerah. "Yang bener, Na? Boleh Mama ambil semuanya?" jawab Cecil tanpa aba-aba spontan mengguncangkan bahu anak gadisnya kuat, bibir yang belum keriput itu tercetak bahagia usai diiyakan Sena. "Iya, anggap aja dengan ini Sena jadi bisa ketemu sama Om—eh, Pa-Papa Dalilan buat minta maaf langsung." Sejak kapan kau pintar membual, wahai Sena yang Maha Benar ini? Bukankah Sena dan Dalilan sering bertemu di sekolah, malahan di jam-jam produktif di kelas? Coba bayangkan jika Cecil mengetahui salah satu fakta tersebut, nuklir saja kalah jauh dibanding seminar panjang sang mama tercinta. Cecil yang mendengar permintaan Sena yang terasa berbeda daripada kemarin kontan mengangkat alis terheran. "Ah, kalo disogok gini Mama nggak bisa berbuat banyak. Mama pikir kamu emang nggak ada niatan minta maaf. Mama senang kamu mau coba buka hati buat Papamu, Sen. Bagus-bagus, anak pintarnya Mama." TOLONGLAH, JUSTRU MAMA NGGAK SENANG, DONG! ANAK MAMA YANG PALING CANTIK INI MAU MENDEPAK OM DALILAN TERSAYANG MAMA BIAR KALIAN NGGAK JADI NIKAH WOI! "Hehe iya, Ma." Andaikan kemampuan Sena dimiliki Cecil sudah pasti ketahuan seribu jurus ngibul tralala trilili yang emang amatiran banget, cewek bermata indah itu terus meneguk saliva kasar. Ada gunanya juga, sih, tingkat kepekaan terendah dimenangkan oleh Cecil, terbukti sang mama nampak tak merasa aneh akan perusahaan sikap Sena. Lengkungan bibirnya terpatri jelas di wajah Sena, menunjukkan rasa senang dalam makna lain. Cewek itu beranjak dan bertanya kembali, "Artinya Mama setuju, nih?" Anggukan diberikan disusul pekikan keras Cecil karena Sena pun langsung menerjang wanita berkepala tiga itu dengan pelukan erat. "Makasih, Ma!" Makasih karena makin mempermudah rencana gila-gilaan Sena ini, Mama. *** Rachel sontak menggeleng kaku setelah menyimak cerita dari sahabatnya yang mesem-mesem, siapa yang sangka akan ada perang dunia baru yang didalangi Sena sendiri, malapetaka oleh pemilik kemampuan spesial pembaca pikiran. Ngeri sekali kalau sampai berurusan dengan Sena Sambora yang terkenal play girl. Mungkin kalian tidak akan kuat, deh, menghadapinya. "Hm, terus abis ini lo mau apa?" Rachel memilah kata mana yang akan dirinya lontarkan mengingat tak ingin merusak mood baik sahabatnya, yaitu menjadi pihak netral. Sena yang kini sedang mengupas kulit jeruk meletakkan telunjuk di dagu dan terpejam sambil mengunyah perlahan daging jeruk yang lembut. "Ya, apa lagi? Menyusun rencana kayak yang sedang gue gambar di otak gue, 'kan?" Rachel tersenyum masam. Ya sudah, terserah dia, ini lebih baik ketimbang fokus Sena berpusat pada Dika Aristo. Cewek berambut model kepangan satu itu melangkah, mengedarkan pandangan kembali ke arah mesin minuman yang berada di depannya, lanjut melayani pelanggan. "Maaf, Kak? Silakan pesan sesuai menu yang tertera, ya," tunjuk Rachel kepada papan reklame yang terletak di sebelah kedai es krim, lengkap dengan senyum bisnis. Sang pelanggan mengucapkan pesanan dan cewek itu dengan sigap melaksanakan pesanan yang dipinta. Sena memperhatikan dengan mulut yang penuh buah jeruk. Tidak heran, karena Sena numpang duduk di kedai milik keluarga Rachel, tempatnya tentu tidak jauh dari JHS, serta target pasar yang memangsa remaja dan anak muda sudah jelas letaknya cukup strategis. Oh, kebetulan pelanggan yang dilayani Rachel adalah seorang cowok bertindik terkesan berandalan dan urakan. Sena bergidik melotot begitu mendengar isi pikiran kotor cowok itu. "Wah, gunung kembar cewek ini boleh juga ternyata." Wow, sopankah begitu? Dirinya tahu betul siapa yang orang itu bicarakan, sorot mata binal tertuju pada Rachel. Menyinggung Rachel, berarti nyenggol Sena yang siap meluruskan serangan maut. Kurang ajar! Ini sudah termasuk pelecehan! Tidak akan Sena biarkan! "Apeni? Kok rasanya kepala gue bolong? Punggung gue kok rada panas euy." Cowok itu melirik melalui ekor mata, ingin tahu siapa sosok pelaku yang menembakkan laser tak kasat mata tersebut. Netra mereka antara Sena dan dirinya bertumbuk di satu titik. Entah mengapa, cowok berandalan itu merasakan aura kematian yang makin mendekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN