Wow, sopankah begitu? Dirinya tahu betul siapa yang orang itu bicarakan, sorot mata binal tertuju pada Rachel.
Menyinggung Rachel, berarti nyenggol Sena yang siap meluruskan serangan maut. Kurang ajar! Ini sudah termasuk pelecehan! Tidak akan Sena biarkan!
"Apeni? Kok rasanya kepala gue bolong? Punggung gue kok rada panas euy."
Cowok itu melirik melalui ekor mata, ingin tahu siapa sosok pelaku yang menembakkan laser tak kasat mata tersebut. Netra mereka antara Sena dan dirinya bertumbuk di satu titik. Entah mengapa, cowok berandalan itu merasakan aura kematian yang makin mendekat.
"Yok, betumbuk kita! Lo berani genitin sahabat gue, gue kebiri punya lo yang baperan!" ancam Sena tidak main-main dengan ucapannya, menatapnya tajam membuat cowok itu kelabakan dengan keringat yang bercucuran. Tidak ingin berlama-lama bersama gadis yang kini menjelma sebagai malaikat kematian, langsung ngibrit tanpa membawa uang kembalian usai membayar.
"Yah, Sena. Kenapa dia pergi gitu aja, sih?" gerutu Rachel yang mengalihkan pandangan, memandangi Sena sejenak yang segera menormalkan ekspresi yang sempat mengeras. Bibir semerah cherry itu mengerucut sebal.
"Lumayan dia cakep gitu, buat baikin keturunan gue nantinya. Yang lama mending dibuang, muehehe." Rachel cengengesan membuat Sena menarik napas, tidak bisa mengerti bagaimana jalan pikir sahabatnya.
"Heh, Checel zheyeng, anyway asal lo tau gimana isi kepala cowok yang lo taksir tadi isinya tuh, sembilan puluh sembilan persen cuman sampah semua, sepersennya hilang di jalan," aku Sena mengacak rambut frustrasi, bingung tentang kelemahan Rachel yang mudah sekali jatuh hati dengan seseorang yang baru dikenalnya. Sudah puluhan cowok yang pernah ditaksir ... selama itu pula tidak berhasil.
"Udahlah, lo jangan buka kartu gue, Na. Pusing gue lama-lama." Rachel yang tak sengaja melihat seringaian khas Sena seketika terkoneksi. Pasti pertanda ada bibit-bibit maunya.
"Rachel, kalo mau gue kenalin semua cowok yang luar dalamnya lumayan bersih buat lo entaran, traktir gue es krim cone tiga sama jus jeruknya dua, ya," pintanya dengan senyum merekah manis. Rachel yang memang mudah luluh pun hanya bisa pasrah membuat sesuai pesanan.
Mungkin secara fisik, Sena bukanlah apa-apa dibanding cewek luaran sana. Namun, cewek itu seakan-akan punya pesona tersendiri di mata orang-orang yang cukup mustahil terlihat dengan mata telanjang, eak. Ada-ada saja, pikir Rachel yang tersenyum kikuk ketika Sena meliriknya heran, seolah baru bertemu spesies alien super ajaib.
Rachel minta tolong dong, siapa pun seret dia paksa! Yang aneh situ, tau!
Jika membanting tubuh teman sendiri halal dilakukan, mungkin sudah sejak dulu Rachel merealisasikan semua hal keji yang terancang apik di otak cantik miliknya saking menyebalkan tingkah laku Sena.
"What, udah numpang doang di kedai gue, minta gretongan mulu, hidup lagi. Senaaa, kapan lo bakalan balik ke jalan yang lurus? Lo udah terlalu sesad, sista. Si doi lo belum tentu betulan balas rasa suka lo."
Hati Sena yang selembut kulit bayi seketika mencelos. Ibaratnya bagai pungguk merindukan bulan. Bolehkah dirinya melarikan diri dari kenyataan?
"Bukan gue nggak mau ngedukung lo sama Dika, lho, Na. Tapi makin dalam rasa suka lo ke dia, nanti bakal makin dalam pula luka lo ... dan gue enggak bisa ngeliat lo makin sakit. Cukup saat itu aja, " tambah Rachel tanpa menatap ke arah sahabat yang membisu seribu bahasa sambil menggerakkan tangan cewek itu yang sudah cekatan di bagian dapur kedai, nampak hebat membagi fokus dalam berbicara dan tetap ngasih perhatian pada Sena.
"Percayalah, tanpa dia pun, masih ada gue, mama gue, dan Mama Cecil yang bakal ada di sisi lo selama napas kami nggak berhenti berembus. Papa lo kan, nggak pernah mau anaknya menderita sepeninggalnya." Aura keibuan Rachel terpancar di saat-saat begini. Cewek itu menghampiri Sena, meletakkan sebuah nampan besar berisi pesanannya—ya, masa dibungkus atuh, soalnya bukan makanan berat.
"Pfft, lo tau nggak? Gue tuh, berasa jadi emak ketiga buat lo yang sepantaran ih. Kasih award gitu kek, capek ngemeng sama patung!" seru Rachel hiperbola seperti berusaha mencairkan suasana, ditanggapi kekehan oleh Sena setelah ditemani keheningan yang panjang.
"Lo nggak cocok pasang wajah murung gitu." Terdengar deritan seseorang yang menarik kursi dan duduk di sebelahnya sontak Sena menoleh cepat. Ternyata si Ketua Biotek—otaknya yang agak lemot segera memproses apa yang terjadi ....
"Frasa?" Suaranya seakan tertahan di tenggorokan, banyak pertanyaan berputar di benak, Sena sungguh terperangah. Bagaimana bisa anak cowok yang galak, tetapi penyayang tanaman (ekhem) ini berada di kedai Rachel? Jelaskan, please!
"Ehe, selamat menikmati pesanannya." Rachel yang peka mengedipkan sebelah mata, mengode entah pada siapa dan hei sejak kapan kedainya tutup? Lantas, melenggang masuk ke rumah yang nyambung dengan kedai begitu saja meninggalkan Sena dan Frasa berdua, catat berdua.
Rachel aka gozilla:
Hehe jgn lupa ye, ceritain momen kalian di sklh besok^^
Notifikasi pesan muncul di layar ponsel pintarnya. Hah? Apa-apaan emoji hepi itu? Sena seketika jadi memberenggut sebal. Hancur lebur sudah rencananya untuk langsung pulang melepas penat.
Sena kembarannya Kim So-hyun:
Lo hutang penjelasan ke gue, Rara!
Menutup ponselnya kasar sebagai salah satu manifestasi kekesalan, itu semua tidak ada yang luput dari mata elang Frasa. Sena yang tersadar membeku, bingung berbuat karena mati kutu.
"Lo m-mau es krim nggak? Belum sama sekali gue gigit, kok." Sena berkata kaku menawarkan tanpa mengambil es krim cone di nampan, masih cukup trauma tentang tangan yang kehilangan arah dulu, harga diri yang dijunjung tinggi terluka berat.
"Nggak, lo aja yang makan," ucap Frasa singkat, sibuk olahraga jempol mesra bersama gawai kerennya, sedang Sena kepayahan menelan air ludah, bahkan rasanya perutnya tak bisa mencerna sensasi dingin es krim cone usai masuk lambung. Ini salah cowok songong itu, huwaa!
"Kenapa lo? Nggak bisa menikmati ya, gara-gara gue, heh?" Sena tersedak es krim cone yang belum habis digigitnya. Hishh, vibesnya persis disidang guru BK! Kenapa banget sih, dia harus nanya? Oh, dirinya tahu, jangan-jangan lagi diprank? Kalau gitu, mana kamera? Mau melambai pasrah saja, capek sekolah mau nikah sama Oh Sehun aja.
"Bu-bukan, kok. Ada gambar bias gue di sono jadi gue bengong dikit," alibi Sena sambil sok cengengesan memasang tampang polos, asal menunjuk papan iklan di seberang jalan. Pokoknya kita selamatkan dulu nyawa dan urat malu yang tertinggal di ketiaknya Papa Regis alias Duke Floyen yang tersohor dalam dunia pergepengan.
Frasa tidak lagi menjawab. Cowok itu malah semakin memperhatikan wajah Sena menggunakan mimik yang mampu menggoyahkan hati sebelum sebuah pertanyaan tak disangka mengentak kuat pertahanan yang dibangunnya.
"Lo cantik, harusnya cari yang lebih pantas daripada cowok yang udah punya tunangan yang dicintainya, 'kan?"