"Bu-bukan, kok. Ada gambar bias gue di sono jadi gue bengong dikit," alibi Sena sambil sok cengengesan memasang tampang polos, asal menunjuk papan iklan di seberang jalan. Pokoknya kita selamatkan dulu nyawa dan urat malu yang tertinggal di ketiaknya Papa Regis alias Duke Floyen yang tersohor dalam dunia pergepengan.
Frasa tidak menjawab. Cowok itu jadi makin memperhatikan wajah Sena menggunakan mimik yang mampu menggoyahkan hati sebelum sebuah pertanyaan tak disangka mengentak kuat pertahanan yang dibangunnya.
"Lo cantik, harusnya cari yang lebih pantas daripada cowok yang udah punya tunangan yang dicintainya, 'kan?"
Sena menyatukan kedua alis diliputi perasaan yang campur aduk. Apakah dirinya seekpresif itu sampai hampir semua orang menyadarinya?
"Ya, gue emang cantik, semua orang tau fakta itu," balas Sena dengan guyonan. Namun, raut wajah Frasa tak berubah membuatnya merasa tidak enak hati (?) karena tak dapat membalikan keadaan yang perlahan terasa canggung. Cewek itu menyedot kuat krim di es krim cone yang sudah meleleh, bingung saat diri dihadapkan situasi seperti ini.
"Hahaha, just teasing you! Lagian hati nggak ada yang tau, Frasa. Mana gue tau kalo malah suka sama dia yang udah tunangan." Sena menggigit ujung lidah gelisah, lalu menoleh pelan sembari memaksakan senyum menatap Frasa yang seperti terlalu betah dalam diamnya. Sudah tertangkap basah, mau mengelak bagaimana, akhirnya bangkit dan menunduk, berbisik lirih tepat di kuping cowok itu.
"Jangan lo kira gue nggak tau kalo elo dengar percakapan gue dari tadi sama Rachel." Sena mendesah kasar, melirik sinis ke arah Frasa yang tidak berkutik. Dia mengukung tubuh tegap cowok itu menggunakan tangan kiri, mengimpit Ketua Biotek ke tembok.
"Lo jangan coba-coba cepuin rencana gue ke makhluk titisan setan itu atau gue bakal bikin perhitungan sama lo!" Sena merendahkan tubuhnya hingga pandangan mereka berdua bisa sejajar, "lo pikir bisa mempermainkan gue? Ah, gue nggak senaif yang lo pikirin."
"Oh ya, semoga hari lo Senin terus! Lo bikin males gue tau nggak!" Cewek itu berkata dengan nada yang terdengar seolah mencibir, beda halnya pada Frasa yang mencetak sebuah senyum menyiratkan banyak makna sembari bersedekap d**a.
"Dasar, cewek yang aneh."
***
Tibalah hari yang ditunggu-tunggu Sena semalam penuh.
Sena sudah berdiri bersama seluruh penampilan yang sudah di make up hingga sedemikian rupa, glow up gitu lho, bund. Bagaimana tidak? Semua itu berkat tangan ajaib Rachel yang punya julukan gold finger kini menatap sang sahabat dengan wajah berseri-seri. Ya, siapa, sih, yang tidak ikut bergembira ketika bakatnya bisa digunakan untuk mempercantik orang terdekatnya?
"Cantik ... eh, terlalu biasa banget kalo gue puji gini, ganti ah, jadi wah banget sahabat gue ini! Pengen diunyel-unyel huhu," seru Rachel tersenyum lebar merangkul erat Sena yang hanya bisa terkekeh melihat kelakuannya di pantulan cermin.
"Jangan ih, Chel, riasan gue bakal rusak kalo lo lagi lupa!"
Kalau sampai rusak, akan memakan waktu lebih lama dan bisa jadi Dika sudah menunggu di depan rumah. Oh, dia belum bilang, ya? Orang tua Rachel sedang dinas keluar kota, maka dari itu mumpung rumah sepi sekalian dipakai mencari kegiatan; membantu merias Sena sampai mencocokkan pakaian seperti sekarang ini, pokoknya sebagai sahabat yang baik harus menuruti satu permintaan Sena yang mau tidak mau harus dilakukan.
"Jujur deh, gue bakal lebih ikhlas lahir batin kalo lo pergi nge-date sama Frasa ketimbang lo belain bangun pagi buat dandan syantik demi Dika yang punya Daisy sebagai prioritasnya, lo tuh, Sen, cuman urutan yang kesekian." Rachel mengoceh ria sambil menepuk pundak Sena keras seakan ingin menyadarkan pada realitas yang terasa terasa sangat pahit. Benar-benar makhluk betina ini, mengapa membahas seseorang yang ingin Sena lupakan untuk hari ini saja?
Rachel yang merasa kesadaran Sena sedang tidak berada di tempat hanya dapat mengembuskan napas letih. Ah, lucu sekali, sahabatnya ini tidak sadar bila tengah menyiksa diri sendiri dan hal ini sungguh membuatnya gemas bukan main.
"Sen, gue mau cerita kalo lo belum tau. Si doi katanya mau belajar buat suka sama gue, sumpah bilang gitu doang udah bikin gue baper gila!" pekik Rachel histeris. Sena yang sudah tahu mengapa raut wajah anak itu nampak cerah dibanding hari-hari sebelumnya memutar kedua bola mata malas usai mengintip isi pikirannya.
"Oh, ya? Bagus dong kalo gitu," jawab Sena seperti tiada minat menanggapi kicauan panjang Rachel, masih sibuk memperhatikan polesan yang belum sepenuhnya selesai. Hanya tinggal satu sentuhan terakhir, tetapi sahabatnya malah sibuk dengan dunianya.
"Iya, gue pasti bisa bikin dia jatuh ke gue sampai sejatuh-jatuhnya dalam sekejap, lo liat aja nanti, ya!" Netra Rachel berkilau, berapi-api seakan siap berperang membuat Sena mengulum tawa, sableng juga, nih, anak.
"Ra, stop talking," tegur Sena di saat kesabaran mulai di ambang batas dan ampuh membungkam Rachel hingga cewek berkepang satu itu terkesiap, lalu menambahkan lip balm di bibir Sena yang kering dan sudah perfect penampilannya pagi ini.
"Dah, sana lo cepetan siap-siap, lepas itu lo langsung samperin Dika gih, Na."
Setelahnya Rachel tak lagi bawel seperti biasanya, tetapi dirinya tak mau ambil pusing segera menyambar tas tenteng dan membanting pintu.
Mendatangi Dika yang sudah berdiri menyender di moncong mobil, makin kepincut di Sena saking coolnya cowok tersebut. "Lo udah nunggu lama, Dik?"
Dika mendongak, kemudian tersenyum simpul yang anggap saja berarti adalah tidak apa-apa. Aw, begini saja rasanya Sena ingin terbang tinggi, belum lagi saat Dika menggiringnya sampai masuk mobil. Eh, menggiring?
Bukankah terdengar seperti seorang penggembala memperlakukan hewan ternaknya untuk masuk kandang?
Astaga dragon, kenapa pikiran Sena OOT sekali, kapan benarnya coba?
Sena menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pikiran yang kepalang absurd. Tidak lama menoleh antusias tatkala Dika menyebut tujuan mereka berdua, mulai bertingkah jaim.
"Nanti main ke arcade, tapi sebelum ke sana mampir dulu ke cafe langganan gue dulu, ya."
Meanwhile si Rachel; tengah duduk di sofa menghadap balkon kamar di mana tirainya terbuka dengan buku di tangan seraya menyeruput s**u coklat hangat dan kedua telinga disumpel earphone, menikmati me time mendengarkan lagu Gyutto yang dinyanyikan Mosawo, usai merasakan bagaimana penat dirinya membereskan peralatan make upnya yang tidak sedikit.
"Nah, gini enak, adem." Terpejam, dia merekam momen-momen ketika angin menerpa dan membelai lembut pucuk rambut yang berantakan. Sebenarnya Rachel bingung menamai ini dengan definisi apa, mungkin definisi bersusah payah terbit harapan?
Namun, belum ada sepuluh menit dia duduk manis, dering telepon rumah yang ada di ruang keluarga menarik Rachel kembali ke dunia nyata.
Drap, drap, drap.
Rachel menuruni undakan anak tangga yang seakan tiada habisnya. Ingin mengeluh, tetapi ketika telepon rumah sudah diarahkan ke telinga, terdengar suara berat familier yang memporak-porandakan perasaannya saat itu juga.
"Halo, apakah ini bener nomor rumah Rachel?"
Siang itu, entah kenapa walau teriknya begitu menyengat, ada perasaan sejuk masuk ke sudut hati.