"Nah, gini enak, adem." Terpejam, dia merekam momen-momen ketika angin menerpa dan membelai lembut pucuk rambut yang berantakan. Sebenarnya Rachel bingung menamai ini dengan definisi apa, mungkin definisi bersusah payah terbit harapan? Namun, belum ada sepuluh menit dia duduk manis, dering telepon rumah yang ada di ruang keluarga menarik Rachel kembali ke dunia nyata. Drap, drap, drap. Rachel menuruni undakan anak tangga yang seakan-akan tiada habisnya. Ingin mengeluh, tetapi ketika telepon rumah sudah diarahkan ke telinga, terdengar suara berat familier yang memporak-porandakan perasaan saat itu juga. "Halo, apakah ini bener nomor rumah Rachel?" Siang itu, entah kenapa walau teriknya begitu menyengat, ada setitik perasaan sejuk masuk ke sudut hati. "Iya, betul. Maaf, tapi ini s

