Dalilan kelihatan tergemap sekitar tiga detik, tetapi dia terlalu lihai mengatur ekspresi wajahnya. "Wah, baiknya. Iya, boleh, tolong bantu saya." Sena perlahan beranjak, padahal nasi dan lauk tinggal setengah di piringnya, harusnya lebih baik dimakan sampai habis tak bersisa, begitulah arti tatapan Cecil yang menyayangkan. "Oke, Sena bantu, ya, ah—" Kala Sena hendak menghampiri Dalilan, kakinya tersandung sehingga hampir mencium lantai apabila cewek beriris Indranilla itu tak lekas memegang ujung celana Dalilan dengan erat. Ternyata perkiraan Sena tidak meleset. Benar saja, celana Dalilan sontak melorot sampai Sena tahu warna celana dalam pria yang wajahnya merah padam. Timing yang pas! Amat pas sampai-sampai Sena kesulitan mengulum tawa, melihat tampang sang pria tua tersebut s

