Siang telah berganti menjadi malam, Aquena mencoba membangunkan Lucas yang tertidur pulas diruang kerjanya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, sebentar lagi cafe miliknya akan tutup.
"Lucas! Bangun sayang!" Aquena mengguncang pelan tubuh Lucas untuk membangunkan anak itu dari tidur pulasnya.
Lucas menggeliat, merasakan tubuhnya terguncang Lucas membuka perlahan kelopak matanya.
"Pagi Ma!" ujar Lucas melantur
"Malam sayang!" sahut Aquena terkekeh
"Uuh, anak Mama ayo bangun kita pulang. Udah malam bentar lagi cafe mau Mama tutup." Aquena mendudukkan Lucas yang matanya masih sedikit terpejam.
Lucas mengucek pelan matanya, sesekali mulutnya menguap. Aquena terkekeh melihat betapa menggemaskan anaknya saat baru bangun tidur, Aquena memakaikan Lucas jaket karena cuaca malam ini sangat dingin.
Aquena menuntun Lucas menuruni anak tangga, didepan kasir Aquena melihat Tara sedang membereskan meja kasir. Rara yang melihat Aquena dengan segera menyapanya.
"Mau pulang mbak? Ini si ganteng masih ngantuk ya?" Rara mengusak rambut Lucas
Lucas hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Rara.
"Mbak duluan ya, kasihan si Lucas udah ngantuk banget. Kalian kalo udah selesai langsung istirahat ya!" suruh Aquena
Sebagian karyawan Aquena memang tinggal didalam cafe, Aquena menyediakan tempat tidur untuk karyawan yang rumahnya jauh dari cafe. Aquena menuntun Lucas menuju motor miliknya yang terparkir, setelah memastikan Lucas duduk dengan nyaman barulah Aquena melajukan motornya membelah jalanan yang lenggang. Masih ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang menemani perjalanan Aquena menuju rumah.
Motor Aquena berhenti didepan pagar rumah, Lucas turun membukakan pagar agar sang Mama bisa memasukkan motornya. Lucas dengan sabar menunggu sang Mama membukakan pintu rumah. Setelah pintu terbuka Lucas segera berlari menuju kamarnya, meninggalkan Aquena yang geleng-geleng melihat tingkah anaknya.
"Buka dulu jaketnya, terus cuci muka sama kakinya. Mama mau buatin kamu s**u dulu!" suruh Aquena lalu menuju dapur membuatkan Lucas segelas s**u.
Lucas yang tadinya sudah berbaring nyaman diatas kasur, segera bangkit lagi dan menuju kamar mandi yang ada diluar.
Aquena membawa segelas s**u kedalam kamar Lucas, Lucas yang sudah mengganti pakaiannya menjadi piyama tidur bergambar beruang itu langsung menerima segelas s**u yang diberikan Mama nya dengan senang hati. Setelah beberapa teguk akhirnya s**u itu tandas tak bersisa.
Selesai meminum s**u, Lucas segera membaringkan tubuhnya diatas kasur. Berbalut selimut yang tidak lumayan tebal itu, Lucas memejamkan matanya setelah rasa kantuk menyergap dirinya dan membawanya mengarungi dunia mimpi.
"Nice dream sweet heart!" Aquena mencium kening Lucas sesaat dia sudah merasa Lucas terlelap tidur.
Aquena menutup pintu kamar Lucas pelan, ia tak mau membuat Lucas terbangun karena suara pintu yang berderit menggangu tidur anaknya itu.
~`~
Seorang pria menatap bengis kearah anak buahnya, dengan emosi pria itu melempar kertas yang ia genggam kearah dua pria berbadan kekar yang berdiri dihadapannya.
"Bodoh! Mencari wanita lemah itu saja kalian enggak becus, 6 tahun saya beri kalian waktu supaya menemukan wanita itu! Tapi nyatanya nihil kalian hanya buang-buang uang saya saja. Keluar!! Sebelum saya habisi kalian disini!!" gertak pria itu hingga membuat anak buah didepannya bergetar ketakutan
Tak mau nyawanya melayang begitu saja, kedua anak buah pria itu melenggang pergi dari ruangan bosnya.
Pria itu adalah Alexander Lucas Sastrawan, sudah hampir 6 tahun dia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan istri dan anaknya. Atas semua kebohongan dan rencana sang Mama, dia harus kehilangan anak dan istrinya. Mungkin, jika istrinya tidak pergi membawa kabur anak yang didalam kandungan itu bisa saja dia sudah menghabisi bayi yang tak berdosa itu. Apalagi bayi didalam kandungan istrinya itu adalah anak kandungnya bukan anak dari selingkuhan yang seperti Mama nya tuduhkan bertahun-tahun yang lalu.
Xander mengeratkan giginya hingga berbunyi, emosi dalam dirinya sudah tak tertahan lagi. Tangannya menghempas apapun yang ada didepannya.
Prang!!
Brugh!!
Semua barang yang ada dimeja kerjanya terhempas kelantai, Xander menumpukkan kedua tangannya yang terkepal ditepian jendela ruangannya.
Xander menatap lukisan yang terpajang di dinding dengan seksama, ia harus kehilangan wanita yang ia cintai. Harusnya dulu dia memastikan semuanya lebih dulu bukan menyiksa istrinya seperti malam saat hujan turun dengan deras saat itu.
"Xander!" Arimbi -mama Xander- memanggil anaknya dengan nada yang bergetar saat melihat kondisi ruangan anaknya itu. Berantakan! Belahan-belahan kaca sudah berserakan diatas lantai, laptop yang tadinya masih bagus itu kini sudah tergeletak terbelah menjadi dua.
"Puaskan Ma? Mama udah buat Xander hancur kayak gini. Xander enggak tahu apa alasan Mama sampai bikin sebuah kebohongan sebesar itu. Apa Mama enggak bisa lihat kebahagiaan Xander saat sama Aquena dulu? Aquena kurang baik seperti apa sama Mama?" tanya Xander menatap Arimbi dengan mata yang memerah.
"Mama minta maaf Xander, Mama tahu Mama salah. Itu semua Mama lakuin karena merasa Aquena enggak pantes buat kamu. Dia hanya gadis miskin yang enggak pantas bersanding disamping kamu." sahut Arimbi matanya sudah berlinang air mata saat ini, berharap Xander simpati dengan air mata yang keluar itu.
"Maaf? Setelah sekian lama Mama baru bisa ngucapin kata itu ke Xander? Kemana saja Mama hah?" tanya Xander
"Mama bilang Aquena enggak pantes bersanding dengan Xander karena dia dulunya gadis miskin gitu?" tanya Xander sekali lagi dan dibalas anggukan oleh Arimbi.
"Terus apa bedanya dengan Mama dulu sebelum nikah sama Papa pun Mama adalah gadis miskin, tapi nenek enggak pernah tuh kayak Mama yang mempermasalahkan hal seperti itu. Nenek menerima Mama dengan suka cita, kenapa Mama enggak bisa kayak nenek aja?"
"Beda Xander! Mama sama Nenek itu berbeda, kalau nenek bisa biasa aja menerima menantu dari keluarga miskin berbeda dengan Mama yang enggak pernah mau menerima menantu dari keluarga miskin.Mama malu Xander tiap kali temen arisan Mama pada ngebanggain menantu mereka karena dari keluarga kaya, terus Mama harus ngebanggain apa dari Aquena yang keluarganya miskin!" sahut Arimbi lantang.
"Xander muak Ma! Lebih baik Mama keluar dari ruangan Xander!" usir Xander
"Enggak! Mama enggak bakalan pergi!" sahut Arimbi menolak
"KELUAR!!" teriak Xander dan membuat Arimbi terlonjak kaget.
"Berani kamu ngebentak Mama, Xander?" tanya Arimbi tak percaya.
"Kenapa tidak? Kelakuan Mama yang kayak gini bikin Xander muak Ma!" sahut Xander lalu masuk kedalam kamar yang ada didalam ruangannya itu, meninggalkan Arimbi sendirian mematung tak percaya.
~`~
Aquena sedang menyiapkan sarapan untuknya dan Lucas. Menata piring yang berisi nasi goreng, Aquena memanggil nama Lucas tapi anaknya itu tak kunjung datang menghampirinya
"Lucas sayang! Sini nak kita sarapan, Mama udah buatin nasi goreng kesukaan kamu!"
"Bentar Ma!" sahut Lucas sedikit berteriak
Tak lama Lucas datang dengan tas di punggung nya. Aquena mengambil alih tas dipunggung Lucas, memasukkan kotak bekal kedalam tas anaknya.
Lucas menyantap nasi goreng yang dibuatkan sang Mama hingga habis. Lucas meneguk s**u buatan sang Mama. Aquena yang sudah rapi menuntun Lucas kedepan rumah, Lucas duduk diatas lantai mengenakan sepatunya sedangkan Aquena menunggu anaknya didepan pagar. Lucas menutup pintu rumah dan menghampiri sang Mama yang sudah menunggunya.
Setelah menutup pagar rumah, Lucas naik keatas jok motor Mama nya. Aquena melajukan motornya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang sudah ramai kendaraan.
Motor Aquena berhenti didepan gerbang sekolah sang anak, Lucas turun dari motor dan berusaha membuka pengait helm.
"Sini Mama bantu!" ujar Aquena saat melihat anaknya kesusahan melepas pengait helmnya
Lucas mendekatkan tubuhnya kearah sang Mama, tak lama terdengar bunyi 'cklek'
"Belajar yang pinter, jangan nakal. Mama pergi dulu nanti Mama jemput!"
Aquena melambaikan tangannya kearah Lucas yang juga melambaikan tangan kearahnya, setelah tubuh Lucas tak terlihat oleh matanya barulah Aquena menghidupkan motornya.
Dering ponsel menghentikan Aquena yang hendak melajukan motornya menuju cafe, nama Rara terpampang pada layar ponselnya
"Halo Ra! Ada apa?" tanya Aquena
"Mbak, udah jalan ke cafe belum?" tanya Rara balik
"Mbak masih disekolah Lucas, kenapa?"
"Nah kebetulan, bahan kue di cafe habis. Terus disini nggak ada kendaraan, mumpung Mbak masih diluar sekalian mampir supermarket bisa nggak Mbak?" tanya Rara
"Bisa! Kamu kirim list apa aja yang harus Mbak beli ya!" suruh Aquena
"Siap Mbak, aku tutup ya!"
"Hmm."
Aquena mengantongi ponselnya kembali dan menghidupkan mesin motornya lagi. Motor Aquena melaju menuju supermarket yang tak jauh dari sekolah Lucas.
Aquena melepas helm yang ia kenakan, sedikit merapikan rambutnya yang berantakan Aquena sesekali mengecek ponselnya apakah Rara sudah mengiriminya list belanjaan apa belum, ternyata Rara sudah mengiriminya sejak 5 menit yang lalu.
Aquena mendorong pintu supermarket, mengambil satu keranjang belanja Aquena berjalan menuju rak khusus bermacam tepung dari segala merk. Aquena mengambil tepung yang sesuai dengan list. Selesai belanja kebutuhan cafe, Aquena menyempatkan mampir ke rak cemilan dirinya berniat untuk membelikan Lucas cemilan kesukaannya.
Saat ingin mengambil cemilan paling atas, tubuh Aquena tak sengaja bersinggungan dengan tubuh disampingnya dan membuat cemilan yang ia ambil terjatuh
"Maaf, saya enggak sengaja!" Aquena meminta maaf lalu mengambil cemilan yang terjatuh
"Iya enggak papa," sahut suara bariton didepan Aquena
Aquena mendongak untuk melihat siapa pria yang didepannya.
"Mbak Aquena!!" pekik pria didepan Aquena
"Alex!? Kamu ngapain disini?" tanya Aquena was-was menatap sekeliling mencari keberadaan mantan/suaminya itu. Aquena masih bingung dengan statusnya kini istri bukan janda bukan
"Kebetulan Alex lagi liburan semester, Mbak Aquena ngapain?" tanya Alex
"Mbak habis belanja, kamu sendiri kan?" tanya Aquena
"Iya Mbak, Alex sendiri. Mbak enggak mau pulang? Udah 6 tahun lo Mbak ninggalin Bang Xander,"
"Mbak enggak bisa Lex," sahut Aquena
"Bang Xander nyariin Mbak terus selama 6 tahun ini, aku kadang kasihan Mbak lihat kondisi bang Xander yang enggak ke urus" tutur Alex
"Enggak usah ngarang, palingan abang mu udah bahagia sama wanita pilihan mama mu, Lex!" sahut Aquena yang masih nggak percaya sama penuturan Alex
"Bang Xander udah tahu semuanya Mbak, semua kebohongan Mama udah ke bongkar 3 tahun yang lalu,"
"Aku mohon pulang ya Mbak! Alex kasian lihat kondisi Bang Xander" bujuk Alex
"Kamu enggak usah sebegitunya membujuk mbak seperti ini, jika memang kakakmu masih menginginkan Mbak seharusnya dia yang minta Mbak buat pulang bukan malahan kamu yang mohon-mohon sama Mbak!" sahut Aquena
"Mbak mohon jangan beritahu keberadaan Mbak ke kakak kamu. Mbak mau dia sendiri yang menemukan Mbak, kalaupun dia nggak bisa nemuin Mbak mungkin kita memang ditakdirkan untuk berpisah," pinta Aquena
"Iya Mbak, Alex enggak bakalan ngasih tahu tentang pertemuan ini. Alex juga mau lihat seberapa keras usaha Bang Xander untuk menemukan Mbak!" sahut Alexa
Aquena bernafas lega seenggaknya Alex bisa dipercaya saat ini.
"Mbak mau bayar belanjaan, kamu udah selesai?" tanya Aquena
"Udah Mbak, barengan ya!" sahut Alex
Alex bersama Aquena berjalan beriringan menuju kasir. Selesai membayar semua belanjaannya Aquena menenteng tas kresek yang berisi barang belanjaan miliknya dan dibantu oleh Alex.
"Mbak mau pulang?" tanya Alex saat menaruh belanjaan Aquena di motor nya
"Enggak! Mbak mau ke cafe, mau ikut?" tawar Aquena
"Boleh nih?" tanya Alex
"Boleh dong!" sahut Aquena
"Ya udah Mbak jalan duluan, Alex ikutin dari belakang pake mobil!" sahut Alex
Mobil Alex membuntuti motor Aquena dari belakang, tak butuh waktu lama motor Aquena berhenti didepan cafe 'L'Daisy' miliknya.
Alex turun dari mobilnya dan menghampiri Aquena yang kesusahan membawa belanjaannya.
"Sini biar Alex yang bawa sisanya," ujar Alex dan mengambil 3 kantong kresek dari tangan Aquena
"Eeh! Enggak usah biar Mbak aja" tolak Aquena
"Enggak biar Alex aja! Udah yuk masuk tuh pelanggan udah pada nungguin!" tunjuk Alex kedalam cafe yang ramai pembeli
Aquena berjalan terlebih dahulu setelah itu di ikuti oleh Alex dibelakangnya.
"Taruh disana aja Lex!" suruh Aquena agar Alex menaruh tas kresek diatas meja dekat dapur.
Dering ponsel Alex mengalihkan perhatian Aquena yang tadinya sedang berbicara dengan Rara
"Siapa Lex?" tanya Aquena
"Bang Xander Mbak!" sahut Alex
"Ya udah kalo gitu Alex jawab dulu ya Mbak!" pamit Alex lalu keluar dari cafe Aquena
Tak berapa lama Alex masuk kembali kedalam menemui Aquena yang masih berdiri ditempatnya semula.
"Mbak, kayaknya Alex enggak bisa lama-lama. Bang Xander nyuruh Alex buat balik sekarang! Lain kali mungkin Alex bakalan main kesini!" pamit Alex
"Ya udah, hati-hati Lex. Inget pesan Mbak jangan kasih tahu kakakmu keberadaan Mbak ya!"
"Iya Mbak!"
Aquena mengantar kepergian Alex, setelah mobil yang dibawa Alex menjauh dan tak terlihat oleh pandangannya barulah Aquena masuk kedalam cafe.