Lucas mengayunkan kaki kecilnya sembari menunggu sang Mama yang belum menjemputnya. Mata bulat miliknya menatap iri kearah anak-anak sepantaran dirinya yang dijemput oleh kedua orangtua mereka. Tak mau semakin iri dengan apa yang ia lihat Lucas memilih untuk mengeluarkan buku bacaannya dari dalam tas.
Terik matahari tak membuat Lucas beranjak dari duduknya diatas kursi yang ada didepan pos satpam. Seorang pria menatap kearah Lucas dengan tatapan yang sulit diartikan.
Pria itu mendekat kearah Lucas dan tanpa Lucas sadari ada seseorang yang duduk disebelahnya.
"Hai nak! Kenapa kamu sendirian disini, orangtua kamu dimana?" tanya pria itu
Lucas mengalihkan matanya dari buku yang ia pegang kearah pria disampingnya.
"Mama belum jemput Lucas, mungkin sebentar lagi datang!" sahut Lucas dan kembali melanjutkan bacaannya
Pria itu terkejut melihat wajah Lucas, ia seperti melihat dirinya waktu masih kecil. Mata itu mengingatkannya pada seorang wanita yang sangat ia cintai.
"Kalau Papa kamu?" tanya pria itu
"Papa Lucas lagi pergi jauh dan enggak pulang-pulang! Om ini siapa? Kok tanya-tanya Lucas daritadi, om penculik ya?" tanya Lucas polos tak ada binar ketakutan di mata nya.
"Bukan om bukan penculik!" elak pria itu
"Kalo bukan penculik, terus apa?" tanya Lucas
"Om itu..."
"Lucas! Kenapa belum pulang?" tanya wanita paruh baya mendekati Lucas
"Mama belum jemput tante!" sahut Lucas
"Gimana kalau tante antar mau?" tawar wanita itu
"Boleh!" sahut Lucas
Lucas memasukkan buku bacaannya kedalam tas miliknya, dia menatap pria disampingnya sebentar lalu berkata.
"Om yang Lucas nggak tahu namanya, makasih ya udah nemenin Lucas. Lucas pulang dulu dadah om, sampai jumpa lagi!!"
Lucas turun dari duduknya dengan sedikit meloncat dan meninggalkan pria itu seorang diri. Pria itu terus menatap tas punggung Lucas hingga anak itu masuk kedalam mobil putih didepannya.
"Andaikan kamu masih disisi aku, mungkin anak kita udah sebesar dia. Aquena kamu dimana? Maaf karena tak mempercayai mu dulu, aku terlalu buta akan kebenaran yang ada, hingga kini aku harus kehilangan kamu dan juga anak aku!"
Pria itu beranjak dari duduknya dan masuk kedalam mobil yang sudah menantinya. Mobil yang membawa pria itu melaju membelah jalanan yang padat akan kendaraan. Setelah menghubungi sang adik pria itu langsung menyuruh supir untuk kembali ke kediamannya yang lumayan jauh dari sekolah dasar tadi. Entah kenapa dia bisa menyuruh sopirnya untuk berhenti didepan gerbang sekolah dasar itu, hatinya tergerak saat melihat sosok anak kecil tadi yang bernama Lucas itu.
~`~
Lucas turun dari mobil yang ia tumpangi didepan cafe milik sang Mama, setelah mengucapkan terimakasih Lucas segera berlari masuk kedalam cafe mencari sang Mama.
Rara yang melihat anak bosnya datang seorang diri dengan segera ia menghampirinya.
"Lucas datang sama siapa?" tanya Rara pasalnya Aquena baru saja pamit ingin menjemput Lucas
"Sama Mama nya Lala, Mama Lucas kemana?" tanya Lucas
"Mama Lucas baru aja pergi mau jemput Lucas, sekarang Lucas ganti baju dulu biar Mbak hubungin Mama ya!" suruh Rara
Lucas masuk kedalam ruang ganti pakaian yang biasa digunakan para karyawan, karena loker tempat pakaiannya hanya sebatas wajahnya sehingga memudahkan Lucas untuk mengambil pakaiannya tanpa bantuan orang lain. Selesai mengganti pakaiannya Lucas keluar mencari Mbak Rara tapi yang ia temukan hanya Kak Tara yang sedang menjaga kasir
"Lucas cari siapa?" tanya Tara pada anak bosnya
"Mbak Rara kemana kak?" tanya Lucas mendongak menatap Tara dari balik kasir.
"Mbak Rara nya lagi di dapur, Lucas mau apa? Biar kakak yang ambilin," tawar Tara
"Nggak ada kak, ya udah Lucas mau ketempat biasa ya kak!" pamit Lucas
Lucas berjalan kearah tempatnya bermain, sepanjang jalannya banyak yang menatap gemas kearahnya.
"Kamu siapa?" tanya Lucas pada anak lelaki yang sedang mengobrak-abrik tempat mainan nya
"Eeh, ada si anak yang nggak punya ayah disini! Ngapain kamu disini?" tanya anak itu
Lucas tak tahu nama anak lelaki itu, tapi dia ingat jika anak lelaki itu yang mengejeknya beberapa hari yang lalu dan juga merupakan teman sekelasnya.
"Ini tempat bermain Lucas, harusnya Lucas yang nanya kamu ngapain disini!"
"Ya main lah, emang nggak boleh?" tanya anak lelaki itu tajam
"Boleh, tapi jangan berantakan mainan Lucas dong!!" ujar Lucas agak berteriak karena anak lelaki itu menumpahkan tumpukan lego miliknya kelantai
"Sengaja hahaha!" tawa bocah itu
"Balikin buku gambar Lucas!"
Lucas mencoba mengambil kembali buku gambar miliknya yang ada ditangan bocah kecil yang tingginya hanya sebatas dagu Lucas itu. Lucas yang berusaha mengambil kembali barang miliknya tanpa sengaja mendorong bocah itu hingga membentur lantai.
"HUUAA!! Mama!! Anzel didorong huaa!" teriak bocah yang bernama Anzel itu hingga menjadikan mereka pusat perhatian.
"Hei! Bocah! Kamu apakan anak saya hah!!" teriak wanita paruh baya yang mengaku orangtua dari Anzel kearah Lucas
Lucas yang dibentak menundukkan kepalanya, baru kali ini ada orang yang membentaknya padahal Mama nya tak pernah membentaknya kalaupun ia membuat kesalahan, ini hanya orang asing berani membentaknya padahal itu bukan salahnya.
"Anzel sayang, mana yang sakit nak?" tanya Mama Anzel
"Huaa! Mama tangan Anzel sakit, didorong sama dia!" tunjuk Anzel kearah Lucas
"Bukan salah Lucas! Dia saja yang nakal ambil buku Lucas!" elak Lucas tak mau disalahkan karena itu memang bukan salahnya
"Berani sekali ya kamu buat anak saya luka! Rasain ini karena kamu udah berani buat anak saya terluka,"
Mama Anzel mencubit lengan Lucas hingga meninggalkan bekas luka yang tidak seberapa tapi sakitnya itu yang luar biasa.
Lucas hanya menitikkan air matanya tanpa ada suara tangisan yang keluar dari mulutnya, tak ada seseorang yang berani mendekat karena mereka tahu siapa wanita paruhbaya itu. Dia adalah istri dari pebisnis terkenal sehingga tak ada yang berani padanya.
Rara terus mencoba mengubungi Aquena yang sedari tadi tidak menjawab panggilannya, hingga panggilan terakhir barulah Aquena menjawab panggilan Rara.
"Halo Ra ada apa?" tanya Aquena
"Gawat Mbak gawat!!" ujar Rara
"Gawat kenapa Ra? Yang jelas ngomongnya ada apa?"
"Lucas Mbak, di cafe ada keributan!"
"Lucas kenapa? Keributan bagaimana? Mbak nggak paham Ra!"
"Pokoknya Mbak cepetan kesini, situasinya udah memanas ini! Rara nggak berani buat lerai!"
"Tunggu Mbak udah mau masuk ke cafe!"
Aquena menutup panggilan telepon Rara, langkah kaki yang tergesa-gesa masuk kedalam cafe. Aquena melihat jika orang-orang berkerumun dipojok tepat ditempat biasa anaknya bermain. Hati Aquena tak tenang memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.
"Permisi ini ada apa ya?" tanya Aquena membelah kerumunan
"Astaga Lucas!!" teriak Aquena saat melihat Lucas sudah menangis sambil memeluk buku gambar miliknya.
"Ini anak Mbak ya? Tolong ajarin anaknya supaya nggak nyelakaian anak saya. Lihat tangan anak saya sampai berdarah terbentur ujung meja, untung aja hanya tangan anak saya gimana kalo kepala anak saya yang kebentur, Mbak mau tanggungjawab?" tanya wanita paruhbaya didepan Aquena
"Maafin anak saya ya Bu, Lucas ayo minta maaf!" suruh Aquena
Lucas menuruti perkataan Mamanya untuk meminta maaf
"Sudahkan Bu? Pengobatan anak ibu nanti biar saya yang tanggungjawab!" ujar Aquena
"Nggak usah! Saya masih bisa biayain pengobatan anak saya! Ayo Anzel kita pergi dari sini, Mama gerah dikelilingi sama rakyat jelata!" ujar Mama Anzel mengibaskan tangannya dan mengajak anaknya untuk keluar dari cafe itu
Setelah kepergian wanita sombong dan anaknya itu, kerumunan mulai membubarkan diri dan kembali ke tempat nya masing-masing. Aquena menggendong tubuh Lucas dan membawanya keruangannya yang ada dilantai 2.
"Ada yang luka sayang?" tanya Aquena lembut dan mengelus kepala Lucas
"Perih Ma!" tunjuk Lucas kearah lengannya
"Astaga! Kamu diapain nak, sampai merah gitu! Bentar ya Mama ambil obat merah dulu!" Aquena terkejut melihat lengan anaknya yang terdapat bekas cubitan
Aquena membawa kotak p3k miliknya diatas pangkuannya, dengan telaten Aquena mengobati luka Lucas.
"Anak Mama kuat, besok pasti sembuh huh!" Aquena meniup luka Lucas setelah itu menutupnya dengan penutup luka.
~`~
"Darimana aja kamu?" tanya seorang pria pada lelaki yang baru memasuki ruangannya
"Dari cafe bentar Kak, ada apa nyuruh Alex kesini?" tanya lelaki yang ternyata Alex itu
"Pulanglah besok, Mama sendirian di Bali!" ujar pria yang ternyata kakak Alex
"Kenapa bukan kakak aja yang pulang ke Bali?" tanya Alex
"Kakak belum bisa pulang untuk saat ini, perusahaan disini membutuhkan kakak untuk saat ini. Maka dari itu Kakak suruh kamu buat balik cepat sebelum kuliah kamu dimulai bulan depan!" ujar sang Kakak.
"It's oke, gimana kakak ipar udah ketemu?" tanya Alex pura-pura menanyakan tentang keberadaan kakak iparnya
"Belum, tapi kakak yakin kalau Aquena ada disini!" sahut sang kakak
"Ya udah, Alex pulang ya mau siap-siap buat balik ke Bali besok!" pamit Alex yang hanya dibalas anggukan oleh kakaknya.
Pria itu menatap matahari yang sebentar lagi akan tenggelam dibalik gedung pencakar langit didepannya, warna orange keemasan itu berpendar diatas kaca-kaca gedung perkantoran. Siluet seseorang dibawahnya mengalihkan atensinya yang semula menatap matahari yang terbenam kini beralih menatap sesosok wanita dibawahnya.
"Apakah itu kamu Aquena? Pikiranku ragu tapi hati aku yakin jika itu kamu." batin pria itu terus menatap kepergian sosok wanita yang ia yakini sebagai istrinya yang pergi 6 tahun yang lalu karena kebodohannya.