Chapter 04

1541 Kata
Aquena meringis melihat tampilan Lucas saat ini, pipi, bibir bahkan mata Lucas saat ini berwarna merah yang disebabkan oleh lipstik yang Lucas pegang. Meja rias milik Aquena yang tadinya rapi dan bersih kini menjadi acak-acakkan gara-gara Lucas.  Lipstik yang tadinya masih utuh kini tinggal setengah karena Lucas mematahkannya. Tanpa banyak bicara Aquena membereskan kekacauan yang Lucas perbuat, Lucas tak menghiraukan Mama nya yang membereskan kekacauan yang ia sebabkan, Lucas memilih membaringkan tubuhnya dan menatap sang Mama dan bertumpu pada bantal yang berwarna putih itu. Aquena selesai membereskan kekacauan yang Lucas sebabkan berbalik menatap anaknya. Tatapan terkejut kembali Aquena perlihatkan, Lucas bingung kenapa Mama nya menatapnya begitu. "Astaga Lucas! Mama baru aja ganti alas kasur sama sarung bantal, sekarang kamu kotorin!"  "Awas ya kamu, Mama hukum nanti!" ujar Aquena dan mendekati Lucas yang masih berbaring  "Hahahaha, geli Ma. Udah...udah hahaha ... perut Lucas sakit ... hahaha," ujar Lucas disela-sela tawanya  "Enggak! Mama mau kasih kamu hukuman karena udah berantakin meja rias Mama, terus udah kotorin kasur Mama juga," sahut Aquena masih menggelitik perut Lucas  "Huhuhu ... Ampun Ma udah, Lucas udah enggak kuat Ma!"  "Sekarang kamu mandi, Mama mau ajak kamu ke taman mumpung masih pagi," ujar Aquena menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi. Lucas turun dari kasur dan keluar menuju kamarnya yang ada disebelah. Selesai mandi Lucas memakai pakaian yang sudah sang Mama siapkan diatas kasur. Lucas keluar kamarnya mencari sang Mama yang sudah menunggunya diruang keluarga. "Aduh gantengnya anak Mama!" puji Aquena  "Gantengan mana sama Papa?" tanya Lucas spontan  "Sama-sama ganteng!" sahut Aquena  "Apa Lucas enggak bisa bertemu dengan papa untuk pertama dan terakhirnya Ma?" tanya Lucas "Berangkat sekarang yuk! Biar nggak makin siang," ajak Aquena mengalihkan pertanyaan Lucas  Lucas membuntuti sang Mama yang sudah keluar rumah terlebih dahulu. Aquena menutup pintu rumah dan menuntun Lucas berjalan menuju taman dekat rumahnya.  Ini adalah weekend jadi banyak orang yang berlalu lalang di taman, ada yang olahraga sampai ada yang hanya datang untuk jajan di pinggiran taman yang terdapat stand-stand makanan yang berjejer.  "Ma, Lucas mau ice cream!" pinta Lucas dan menunjuk kearah stand ice cream "Mau rasa apa? Biar Mama yang beli kamu duduk disini tunggu Mama!"  "Lucas mau rasa coklat!" sahut Lucas  "Oke! Jangan kemana-mana, kalau ada orang asing ngajak kamu pergi jangan diikuti ya!!" peringat Aquena sebelum meninggalkan Lucas yang duduk dikursi panjang taman yang berwarna putih itu. Lucas hanya mengangguk menjawab peringatan dari sang Mama, tubuh Aquena sudah berbaur dengan orang-orang yang berkerumun pada stand ice cream.  Lucas sampai harus memicingkan matanya untuk menemukan sang Mama yang ada didalam kerumunan itu. ~`~ Kaki Xander berjalan menyusuri lintasan lari yang ada di taman dekat apartemennya, entah kenapa hari ini ia sangat ingin pergi ke taman setelah ia tadi memimpikan bocah kecil yang ia temui disekolah dasar beberapa waktu lalu. Xander bermimpi jika ia bertemu dengan bocah itu disebuah taman yang dimana bocah itu sedang duduk sendirian. Xander sebenarnya malas tapi karena ingin membuktikannya ia melawan rasa malasnya, mata Xander memicing saat melihat bocah kecil yang familiar di mata nya sedang duduk sendirian.  Xander mendekat untuk melihat lebih jelas wajah bocah lelaki itu, senyumnya mengembang saat melihat wajah bocah itu, ternyata mimpi yang ia alami memberi petunjuk akan pertemuan mereka hari ini.  Kaki Xander mendekati kursi dimana bocah itu terduduk sendirian, Xander mendudukkan dirinya tanpa menimbulkan suara. Lucas yang masih melamun menatap ke arah stand ice cream masih belum menyadari jika ada seseorang yang duduk disampingnya.  Lama kelamaan Lucas merasa ada yang menatapnya lekat, Lucas menengok ke kiri tak ada yang mencurigakan tapi saat ia menengok ke kanan Lucas sedikit terkejut, saat melihat ada om-om yang tak ia ketahui namanya itu duduk disana menatapnya lekat. Lucas menatap polos kearah Xander dan bertanya  "Om siapa? Kenapa menatap Lucas seperti itu?"  Bukannya menjawab Xander malah bengong menatap wajah Lucas, wajah itu seakan menjadi candu untuk dirinya. Dia merasa ingin selalu menatap wajah polos didepannya ini. "Om kalau ditanya tuh jawab jangan diem aja!!" kesal Lucas karena pertanyaannya tadi tidak direspon Xander  "Eh iya? Maaf Om enggak denger kamu ngomong apa!" sahut Xander kikuk  "Om siapa?" tanya Lucas sekali lagi  "Kenalin nama Om, Alexander Lucas Sastrawan, panggil aja Om Xander ya!" ujar Xander memperkenalkan namanya  "Nama Om, mirip sama nama Lucas" sahut Lucas  "Ooh ya? Emangnya siapa nama kamu?" tanya Xander pura-pura antusias ia ingin mendengar nama lengkap bocah disampingnya "Lucas... " Drt drt drt  Getaran ponsel milik Xander yang ada didalam saku celana mengintrupsi Lucas untuk menghentikan perkataannya. Xander segera menjauh untuk menjawab panggilan dari salah satu koleganya, Lucas menatap punggung Xander dari kejauhan. Entah kenapa Lucas ingin sekali memeluk tubuh kekar Xander dari belakang pasti rasanya nyaman seperti dekapan seorang ayah pada putranya. Hangat dan menenangkan, tapi ia tahan karena ia tidak terlalu mengenal Xander untuk saat ini. "Lucas! Kita pulang sekarang yuk! Kak Rara sudah nungguin di rumah!" Aquena datang dengan dua cone ice cream ditangannya. Tanpa banyak bicara Lucas langsung turun dari duduknya dan berjalan bersisihan dengan sang Mama. Tangan kanannya memegang cone ice cream sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Aquena. Xander membalikkan badannya dan menatap sosok perempuan yang sedang berbicara pada bocah lelaki tadi yang ia ajak bicara. "Aquena!" teriak Xander memanggil nama Aquena. Xander sedikit berlari karena jarak antara ia dan Aquena memang lumayan jauh, Xander mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Aquena dan bocah lelaki tadi.  "Enggak mungkin gue halusinasikan? Tadi jelas-jelas gue lihat Aquena lagi ngomong sama Lucas sekarang kok udah enggak ada!" gumam Xander  Dibalik kerumunan itu Aquena bernafas lega karena Xander tak menemukan dirinya, dia masih belum siap untuk bertemu Xander untuk waktu yang dekat ini. "Mama! Kenapa kita jalannya cepet-cepet gini, emangnya ada orang jahat yang lagi ngikutin kita ya?" tanya Lucas saat menyadari jika langkah kaki sang Mama sedikit cepat sehingga mengakibatkan dirinya juga ikut mempercepat langkah. "Enggak ada sayang! Mama cuma mau cepet-cepet sampai rumah, kasian kak Rara nya nanti kelamaan nunggu!" sahut Aquena beralasan. Lucas hanya mangut-mangut saja mendengar perkataan sang Mama. Lucas kembali berjalan dengan menautkan tangannya pada tangan sang Mama. ~`~ Xander menendang botol bekas yang ada didepannya meluapkan kekesalannya yang kehilangan jejak wanita yang ia anggap Aquena itu. ARGHH!! Xander berteriak meluapkan kekesalannya karena tak berhasil menemukan Aquena dibalik kerumunan tadi. Padahal tadi jelas-jelas dia melihat Aquena bersama anak kecil yang bernama Lucas itu membelah kerumunan orang-orang. Drt drt drt Getaran ponsel membuat Xander menghentikan langkah kakinya. Nama Alex si adek paling bontot terpampang di layar ponselnya. Dengan segera Xander menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan itu. "Hallo, ada apa?" tanya Xander to the point pada sang adik "Pulang! Si Mama masuk rumah sakit, jantungnya kumat!!" ujar Alex dari seberang telepon  "Besok gue pulang!" sahut Xander dan langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa mendengarkan perkataan selanjutnya dari sang adik Xander langsung menaruh ponselnya didalam saku celana dan langsung berlalu menuju apartemennya.  Xander membuka lemari pakaiannya dan memasukkan beberapa baju dan celana kedalam ransel miliknya, selesai menyiapkan pakaiannya Xander beralih menelepon sang sekretaris agar memesankannya tiket ke Bali untuk besok. Oke bilang aja kalo beberapa hari yang lalu Xander sempat membentak Mama nya tapi itu semua diluar kendalinya, mau seperti apa pun sikap Mamanya. Xander tidak akan berpaling muka begitu saja saat Mama nya di katakan masuk rumah sakit, dia sebisa mungkin untuk menjenguk barang sebentar untuk melihat kondisi sang Mama. ~`~ Hari beranjak siang Aquena menghampiri Lucas yang bermain didepan rumah bersama anak-anak seumurannya. "Lucas, makan siang dulu yuk nanti di lanjutin mainnya. Kalian pulang dulu ya, nanti habis makan siang kalian lanjutin main lagi ya!" ujar Aquena pada anak-anak didepannya itu "Siap Tante!!" serentak kelima anak-anak itu menjawab "Lucas, ayo masuk!" ajak Aquena pada sang anak  Lucas mengekori Aquena dari belakang untuk masuk kedalam rumah. "Kenapa makanannya cuma dilihatin? Kamu enggak suka sama masakan Mama?" tanya Aquena karena Lucas hanya menatap makanan yang ada dipiring tanpa mau memakannya  "Apa Lucas bener-bener enggak bisa ketemu sama Papa, Ma?" tanya Lucas menatap sang Mama  Aquena terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut anaknya itu, lidahnya kelu tak mampu menjawab pertanyaan Lucas. "Mama kan udah bilang, Papa udah bahagia dengan keluarganya yang baru. Jadi Lucas juga harus bahagia sama Mama walaupun tanpa Papa disini," ujar Aquena, bolehkan ia egois sendiri mengatakan hal seperti itu. Ia tak mau Lucas terus menanyakan Papanya walaupun sebenarnya sah-sah saja tapi Aquena belum siap. "Lucas iri sama temen-temen, setiap hari mereka bisa bermain sama Papanya sedangkan Lucas cuma punya Mama!" sahut Lucas menunduk  "Kenapa Lucas enggak bisa kayak yang lainnya Ma? Kenapa? Apa Lucas enggak boleh tau siapa Papa Lucas? Seenggaknya kasih lihat foto Papa supaya Lucas tau Papa seperti apa walaupun hanya sekedar foto saja," pinta Lucas tanpa mau menatap kearah Aquena  "Lucas enggak perlu iri sama teman Lucas yang punya Papa, seharusnya Lucas bersyukur masih ada Mama disamping Lucas. Lucas enggak tahu kan kalau diluar sana ada yang enggak punya orangtua tapi mereka enggak pernah tuh mengeluh kayak Lucas hanya gara-gara Papa enggak ada disamping Lucas." ujar Aquena  "Nanti Mama kasih tau siapa Papa kamu," "Jadi Lucas enggak boleh iri sama teman Lucas ya, sekarang ayo makannya dihabisin setelah itu Mama mau ngajak kamu ketemu sama Om Darren," ujar Aquena  Lucas segera memakan makanannya setelah mendengar sang Mama ingin mengajaknya ketemu sam Om Darren yang merupakan teman sang Mama. 'Papa, Lucas kepengen ketemu sama Papa. Papa kapan pulang? Lucas rindu Papa'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN