Chapter 05

1460 Kata
"Mama kenapa bisa sampe masuk rumah sakit gini?" tanya Xander "Enggak papa, cuma kecapean aja paling besok dah boleh pulang," sahut Arimbi mengulas senyumnya, ada bagusnya juga dia sakit seperti ini. Karena Xander akan berubah lembut lagi padanya. "Ya udah, Mama istirahat yang cukup ya, Xander mau nyari makan dulu," ujar Xander mengusap pelan punggung tangan Arimbi Xander keluar dari ruang rawat sang Mama, di luar ia bertemu dengan sang adik yang entah datang darimana "Darimana lo?" tanya Xander  "Nyari makan, gue tau lo belum makan, makanya gue beliin lo ini!" ujar Alex menyerahkan kantung plastik ke arah Xander  "Makasih!" ujar Xander lalu meraih kantung plastik yang Alex sodorkan  Xander memakan nasi kotak yang Alex belikan dengan lahap. Xander memasukkan kembali kotak makan yang sudah habis ia makan. "Lo mending pulang aja! Biar gue yang jagain Mama malam ini," ujar Xander menyuruh sang adik untuk pulang  "Enggak papa, kita jagain Mama sama-sama, besok gue juga enggak ada kelas," sahut Alex Xander hanya menganggukkan kepalanya, Xander bangkit dari duduknya dan mendekati tong sampah yang tak jauh darinya dan membuang bekas kotak makannya. Memilih untuk memasuki kamar rawat sang Mama, Xander merebahkan tubuhnya diatas sofa yang disediakan sedangkan Alex memilih untuk duduk disamping ranjang sang Mama. Memejamkan mata tidak berharap bisa tertidur tapi nyatanya malah berlanjut tertidur hingga pulas, Alex yang melihat sang kakak tertidur dengan udara ruangan yang dingin dengan segera meraih selimut yang ada diatas nakas dan menyelimuti Xander sampai sebatas dagu. Hari beranjak sore tetapi Xander belum juga membuka matanya, Alex dengan inisiatif sendiri mengambil segayung air dari dalam kamar mandi dan mencipratkannya pada wajah sang kakak. Xander terbangun karena merasakan wajahnya basah akan air, dalam kebingungan ia berkata, "Ma, atapnya bocor ya? Kok wajah Xander basah gini,"  "Mana ada, ngaco kamu aah," sahut Arimbi Alex masih berdiri disamping sofa tempat Xander tertidur dengan kedua tangannya ia taruh dibelakang tubuhnya guna menyembunyikan gayung air yang tadi ia gunakan. "Tapi ini wajah Xander kok bisa basah gini sih?" tanya Xander  "Tuh, ulah adikmu. Dia cipratin air ke wajah kamu," sahut Arimbi memberitahu  "Sorry kak, habisnya lo dibangunin kagak bangun-bangun sih," ujar Alex lalu berlalu masuk kedalam kamar mandi menaruh gayung yang tadi ia gunakan. "Ya enggak gitu juga dong caranya," sahut Xander  "Terus mau cara yang kayak gimana? Mau gue jedotin tuh kepala lo ke lantai hah!" ujar Alex berkacak pinggang  "Udah udah, enggak usah berantem bisa kan," ujar Arimbi melerai jika tidak maka keduanya akan terlibat cekcok yang berkepanjangan "Bisa Ma!" sahut keduanya berbarengan  "Xander mending kamu pulang sana, ganti pakaianmu dulu nanti balik kesini lagi!" suruh Arimbi pada Xander  "Baik Ma!" sahut Xander , lalu menghampiri sang Mama dan mencium tangan Mama nya dan tak lupa juga mencium kening sang Mama Xander keluar dari ruang rawat sang Mama tanpa berpamitan pada sang adik, yang padahal sudah berharap Xander akan berpamitan juga padanya "Ngeselin banget deh si kakak," ujar Alex tersungut-sungut. ~`~ Bel istirahat berbunyi, semua anak yang ada dikelas Lucas berhamburan keluar bersama teman-temannya. Lucas hanya diam sendiri tanpa ada yang mengajaknya untuk keluar bersama. Lucas membuka kotak bekal yang sudah Mama nya siapkan untuknya, dengan lahap Lucas menyantap bekalnya tanpa gangguan dari siapa pun. Lucas mengalihkan perhatiannya dari bekalnya tatkala mendengar langkah kaki yang riang memasuki ruang kelas, senyum Lucas terpatri tatkala melihat Lala dengan senyum yang sumringah mulai mendekatinya. "Maafin Lala ya, tadi enggak ngajak Lucas untuk makan bareng," ujar Lala duduk disamping Lucas  "Iya enggak papa, Lucas udah biasa kok makan sendiri," sahut Lucas menampilkan senyum manisnya yang membuat Lala tersipu  "Heem, kalo gitu Lala duduk dibangku Lala aja ya," ujar Lala hendak bangun dari duduknya  "Disini aja sama Lucas, bel masuk kan masih lama," ujar Lucas menahan Lala agar tidak bangun dari duduknya  Lala menganggukkan kepalanya dan membenarkan posisi duduknya, sedangkan Lucas kembali menyantap bekalnya yang belum sepenuhnya habis. "Aaa, buka mulutnya!" pinta Lucas pada Lala Lala bingung kenapa Lucas meminta untuk membuka mulutnya "Iis, Lala cepet buka mulutnya, tangan Lucas pegel nih!" ujar Lucas yang membuat Lala spontan membuka mulutnya  Tangan Lucas dengan cepat memasukkan sendok yang berisi nasi itu kedalam mulut Lala. "Gimana? Enak enggak?" tanya Lucas  Lala mengunyah nasi yang ada di mulutnya dengan pelan meresapi setiap kunyahannya, Lucas menanti dengan sabar hingga Lala selesai mengunyah makanannya  "Gimana?" tanya Lucas  "Enak!" sahut Lala dengan senyum sumringah  "Lagi dong!" pinta Lala yang ketagihan  Lucas dengan cekatan menyuapi Lala hingga makanan didalam kotak bekal miliknya tandas dihabiskan oleh Lala, Lucas menyodorkan botol air minum miliknya kepada Lala. Lala menerimanya dengan senang hati lalu meneguk air minum Lucas hingga tersisa setengah, Lala mengembalikan botol minum Lucas. Hening, tak ada yang berbicara keduanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing, Lucas merapikan kotak bekalnya sedangkan Lala memperhatikan kegiatan Lucas. "Lala, kamu ngapain sih duduk bareng anak yang enggak punya ayah!" seru seorang anak yang baru memasuki kelas  "Terus masalah buat Anton kalo Lala deket sama Lucas?" tanya Lala  "Iya, masalah banget! Enggak seharusnya kelas ini diisi sama anak yang nggak punya ayah!" ujar anak lelaki yang bernama Anton itu "Anton, kamu apa-apaan sih! Lepasin tangan Lala!" ujar Lala menyentak tangan Anton agar melepas pergelangan tangannya tapi usahanya sia-sia  "Anton, lepasin Lala!!" Lala masih berusaha memberontak  "Diem!!" sentak Anton yang menarik Lala keluar kelas Lucas tak bisa melakukan apa-apa karena kedua tangannya dipegang oleh teman Anton, ingin sekali Lucas menghajar kedua orang yang memeganginya ini namun ia urungkan ketika ingat pesan Mama nya agar tidak membuat keributan di sekolah. ~`~ Hari beranjak malam, Aquena dengan sigap menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Lucas. Aquena bersyukur karena ia bisa melewati masa-masa sulitnya hingga sampai bisa seperti saat ini. Lucas menghampiri Aquena dengan mata yang sebenarnya ingin sekali terpejam dan melanjutkan mimpi yang sempat tertunda karena dering alarm yang menganggunya "Kenapa belum mandi sayang?" tanya Aquena pada Lucas  Lucas tak menjawab pertanyaan Aquena, ia malah menumpukan kepalanya diatas meja makan dan kembali memejamkan matanya. "Lucas, mandi dulu yuk biar segeran habis bangun tidur!" ujar Aquena mengusap lembut kepala Lucas  "Masih ngantuk Ma," sahut Lucas dengan mata yang masih terpejam  "Makanya biar enggak ngantuk mending sekarang mandi yuk," ujar Aquena  Lucas menegakkan badannya dan turun dari kursi dan berlalu menuju kamar mandi, Aquena membuntuti Lucas dari belakang setelah memastikan Lucas masuk kedalam kamar mandj, Aquena segera berlalu menuju kamar Lucas menyiapkan pakaian untuk Lucas pakai nantinya. Tak butuh waktu lama Lucas sudah memasuki kamarnya dengan handuk yang melilit tubuhnya, Lucas mendekat kearah sang Mama dan merentangkan kedua tangannya. Aquena mengangkat tubuh Lucas dan mendudukkannya diatas kasur, Aquena dengan telaten mengelap tubuh Lucas hingga kering tanpa ada air yang tersisa. Aquena memberikan baju yang ia ambil tadi ke arah Lucas, dengan cekatan Lucas memakai bajunya setelah itu ia juga memakai sendiri celananya. Selesai dengan urusan berpakaian Aquena menyisir rambut hitam milik Lucas hingga tertata rapi. "Aduuh, gantengnya anak Mama," ujar Aquena menjawil hidung Lucas  "Sekarang kita makan malam yuk!" ajak Aquena menurunkan Lucas dari atas ranjang  Saat makan malam hanya ada keheningan tak ada yang membuka suara, selesai makan malam Lucas memasuki kamarnya dan membuka ransel miliknya mengeluarkan semua buku yang ia bawa tadi siang dan menggantinya dengan jadwal untuk besok.  Karena tak ada tugas, Lucas memilih untuk membaca salah satu koleksi buku dongeng miliknya. Aquena masih sibuk dengan peralatan dapur yang tadi tak sempat dia bersihkan, setelah memastikan semuanya sudah benar-benar bersih Aquena mengelap tangannya yang basah hingga kering. Aquena melangkahkan kakinya menuju kamar Lucas, dilihatnya Lucas sedang fokus membaca diatas kursi meja belajar miliknya.  "Udah malam, bacanya di lanjutin besok aja ya! Sekarang Lucas cuci tangan sama kakinya terus tidur," ujar Aquena mendekati Lucas "Baik Mama!" sahut Lucas Lucas menaruh buku dongengnya dan berlalu keluar kamar menuju kamar mandi. Aquena merapikan meja belajar Lucas, hingga tak lama Lucas datang dan menuju sisi ranjang dan naik keatas. Aquena duduk disamping Lucas dan mengusap lembut rambut Lucas, mata Lucas terpaku menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi bintang-bintang yang memendarkan cahayanya. "Kenapa belum tidur, heem?" tanya Aquena karena Lucas belum juga memejamkan matanya "Mau Mama bacain lanjutan dongeng yang kamu baca tadi?" tanya Aquena sekali lagi dan disambut anggukan semangat oleh Lucas  "Baiklah!" sahut Aquena lalu mengambil buku cerita milik Lucas "Si Kancil pun mulai memikirkan cara bagaimana agar ia bisa mengelabui si buaya yang menunggunya dengan tatapan laparnya....." Bibir Aquena tak henti membacakan dongeng agar Lucas mau memejamkan matanya, Lucas mencari posisi ternyaman sambil memeluk guling miliknya, mata Lucas semakin terasa berat seiring dengan berakhirnya cerita yang Mama nya bacakan. "Akhirnya pun Si Kancil dapat menyebrangi sungai dengan selamat, Tamat .."  Aquena menatap Lucas yang sudah tertidur pulas, Aquena menarik selimut untuk menutupi tubuh Lucas hingga sebatas dagu, dengan hati-hati Aquena beranjak dari duduknya dan menutup pintu kamar Lucas. Aquena memasuki kamarnya yang ada disebelah kamar Lucas, ia membaringkan tubuhnya yang terasa lelah itu hingga tak lama matanya mulai terpejam mengarungi alam bawah sadarnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN