"Happy mother day Ma!" ujar Lucas pada sang Mama dengan membawa piring yang berisi satu donat yang lumayan besar itu, tak lupa juga lilin yang sudah menyala di atas nya
"Makasih sayang," Aquena mengecup pipi Lucas
"Sama sama Mama, tiup lilinnya dong eits ... make a wish dulu," ujar Lucas mengingatkan
Aquena memejamkan matanya selang beberapa menit Aquena membuka matanya dan meniup lilin hingga padam.
"Kamu dapet donat ini darimana hmm?" tanya Aquena pada Lucas
"Beli, tadi ada mamang-mamang tukang donat lewat yaudah Lucas stop," sahut Lucas sambil mengunyah donat yang tadi ia beli
"Ini donat buat Mama kan? Tapi kok kamu yang makan?" tanya Aquena menatap Lucas yang sedang asyik mengunyah donat yang tadi dia beli
"Hehehe, habisnya donatnya kelihatan enak jadi Lucas cicipin duluan," sahut Lucas memamerkan deretan gigi rapinya yang sudah ternodai oleh coklat isian donat tadi
"Ya udah, Lucas habisin aja Mama mau lanjut beres beres dulu," ujar Aquena
Lucas kembali melanjutkan kunyahannya, sedangkan Aquena kembali ke dapur menyiapkan sarapan untuknya dan Lucas.
Kebetulan hari ini Lucas libur sekolah, Aquena berniat untuk mengajak anaknya untuk mengunjungi panti asuhan yang beberapa hari terakhir kemarin ia kunjungi.
Hari beranjak siang Aquena telah siap begitu juga dengan Lucas yang sudah rapi dengan kemeja lengan pendek nya dan juga celana selutut. Aquena menuntun Lucas menuju depan rumah.
Motor Aquena melaju meninggalkan rumahnya, membelah jalanan yang lumayan padat siang ini, hampir setengah jam perjalanan akhirnya Aquena sampai didepan gerbang panti asuhan Kasih Ibu.
"Kita ngapain kesini Ma?" tanya Lucas yang berdiri disamping Aquena
"Ketemu temen-temen, Lucas mau kan?" tanya Aquena balik
"Mereka baik kan Ma? Enggak kayak Anton sama Anzel kan?" tanya Lucas
"Mereka baik kok, jadi Lucas juga harus baik sama mereka yaa. Nanti juga Lucas ketemu sama kakak-kakak yang ada disana," ujar Aquena
"Ya udah, yuk masuk diluar panas!" ajak Aquena
Aquena menggandeng tangan Lucas memasuki pekarangan panti asuhan yang ia kunjungi hari ini, panti asuhan itu lumayan besar dan tampak terurus dengan baik. Banyaknya anak-anak yang tinggal disana membuat mereka sedikit kewalahan mencari donatur tetap untuk memenuhi kebutuhan semua anak-anak yang tinggal disana.
"Tante Aquena!" seru bocah 4 tahun yang melihat kedatangan Aquena
Tak hanya satu anak yang mendatangi Aquena tapi semua anak-anak yang sedang ada dihalaman juga menghampirinya.
"Halo Ekal," sapa Aquena pada anak yang tadi menyerukan namanya
"Halo tante, halo kakak," sapa Ekal ceria pada Lucas juga yang hanya dibalas senyum canggung
Ekal tak lupa juga menyalimi tangan Aquena dan diikuti oleh anak yang lainnya
"Ibu ada?" tanya Aquena pada remaja perempuan disampingnya
"Ibu ada didalam, lagi ada tamu," sahut Resta menatap Aquena
Aquena hanya menganggukkan kepalanya, tadi ia sempat melihat mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari motor miliknya
"Tante mau ketemu sama Ibu?" tanya Resta
"Nanti aja, takut ganggu," sahut Aquena
"Itu anak tante?" tanya Resta menatap Lucas yang asyik bermain dengan anak sebayanya
"Iyaa, ganteng yaa?" tanya Aquena menaikkan salah satu alisnya
"He'em, imut tapi kok agak mirip sama tamu yang ada didalam ya?" gumam Resta bertanya sendiri.
"Mungkin cuma kebetulan mirip kali," sahut Aquena yang masih bisa mendengar gumaman Resta disampingnya.
"Mungkin,"
Aquena dan Resta berjalan beriringan menuju tempat anak yang lainnya bermain. Aquena duduk di kursi putih yang disediakan disana sambil melihat Lucas yang asyik bermain.
~`~
Xander berjalan menyusuri halaman belakang panti asuhan yang ia kunjungi, halaman yang lumayan luas ini terlihat kosong hanya ada beberapa pepohonan dan juga kursi tak ada tempat bermain disana hanya tanah lapang saja.
Ia kesini berniat untuk menyelesaikan sengketa tanah yang dimana panti asuhan ini dibangun diatas tanah yang hendak ia beli. Mata Xander bersibobrok dengan sepasang mata kecil yang familiar di ingatan nya.
"Itu Lucas! Bocah yang sudah dua kali aku temui, kenapa dia ada disini? Apa dia tinggal di panti ini?" gumam Xander saat mengingat nama lelaki kecil itu.
Xander menatap gerombolan anak-anak yang sedang bermain dihalaman depan pandangannya lurus menatap bocah yang terlihat menjulang diantara anak-anak yang lainnya.
Kaki Xander secara perlahan mulai mendekat kearah sekumpulan anak-anak yang sedang bermain, ia berhenti tepat dibelakang dua perempuan berbeda usia yang duduk di kursi putih.
Xander merasa familiar akan postur tubuh wanita dewasa didepannya itu, saat hendak lebih mendekat suara sekretarisnya menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badannya menatap Anggun sekretarisnya.
"Apakah bapak tega menggusur bangunan ini? Sedangkan anak-anak itu hidup bergantung dibawah atap panti ini," ujar Anggun mencoba menegosiasi dengan bosnya
"Entahlah, tapi saya rasa tanah ini memiliki lokasi yang sangat strategis yang dimana bisa membuat bisnis saya berjalan lancar," sahut Xander tanpa menatap sekretarisnya
"Jika bangunan ini digusur, dimana anak-anak itu akan tinggal? Tidakkah bapak kasihan dengan mereka?"
"Saya tidak peduli, bulan depan saya mau bangunan ini sudah rata akan tanah," ujar Xander lalu berlalu meninggalkan Anggun yang masih berdiri
Aquena menatap sesosok pria sedang berbicara dengan perempuan dibelakangnya, ia tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan tapi jika dilihat dari raut wajah sang perempuan mungkin saja itu hal yang sangat penting. Aquena kembali menatap Lucas yang berjalan kearahnya, dengan peluh yang bercucuran dari pelipisnya.
"Kalian haus tidak?" tanya Aquena pada anak-anak
"Haus tante!!" sahut mereka serempak
Aquena meraih kantong plastik berisi beberapa minuman dan juga ada s**u kotak kesukaan Lucas juga, Aquena membagikan minuman yang ia bawa pada anak-anak panti.
Mata Aquena menatap siluet pria yang masuk kedalam sedan hitam yang terparkir didepan panti dan juga sosok perempuan yang tadi ia lihat ikut masuk kedalam mobil, setelah mobil melaju dan tak terlihat lagi oleh pandangannya Aquena kembali menatap kearah Lucas.
"Kamu disini dulu ya, Mama mau kedalam ketemu Ibu panti," ujar Aquena pada anaknya
"Resta, jagain adik-adikmu tante mau ketemu Ibu panti dulu,"
"Iya tante," sahut Resta
Aquena melangkahkan kakinya masuk kedalam panti asuhan, di ruang tamu Aquena melihat Ibu panti dengan raut wajah yang terlihat sedih air mata terlihat sudah sedikit mengering di pipinya.
Aquena mendekat dan duduk disamping Ibu panti, Aquena mengusap pelan bahu Ibu panti. Ibu Ratna menatap Aquena teduh dan mengusap air matanya senyumnya terkembang seolah-olah mengatakan jika beliau baik-baik saja.
"Aquena tahu ibu sedang tidak baik-baik saja, berhenti tersenyum seolah-olah semuanya baik-baik saja," ujar Aquena
"Tidak, ibu tidak apa-apa," sahut Ibu Ratna
"Iya, ibu baik-baik saja tapi keadaan panti asuhan ini yang tidak baik-baik saja," ujar Aquena
"Ya, kamu benar keadaan panti sekarang sedang tidak baik-baik saja. Mereka datang lagi setelah sekian lama, panti ini ibu dirikan bersama almarhum suami ibu diatas tanah milik kami berdua tetapi setelah kematian suami ibu, ibu terpaksa menggadaikan sertifikat tanah kami untuk menutupi hutang-hutang yang suami ibu tinggalkan,"
"Ibu khawatir, jika panti ini digusur anak-anak akan tinggal dimana? Mereka tak punya tempat tinggal selain panti ini," ujar Ibu Ratna
"Ibu nggak usah khawatir, Aquena akan bantu sebisa mungkin agar panti ini tidak digusur," sahut Aquena menenangkan
"Tapi bagaimana caranya Aquena?" tanya Bu Ratna
"Itu biar Aquena yang pikirkan bagaimana caranya, Ibu jangan banyak pikiran yang bisa membuat kondisi tubuh Ibu semakin lemah. Ibu harus sehat agar anak-anak di panti ada yang mengurus," ujar Aquena mengusap punggung wanita patuh baya disampingnya dengan lembut.