BAB 18

1177 Kata

"Untuk sementara, Ibu Anis pakai kursi roda dulu, ya? Saya khawatir kalau berjalan seperti biasa tulangnya akan bergeser." Anis menatap Dokter dengan pandangan sedih. Kursi roda adalah hal yang paling ia benci. "Baik, Dok. Terima kasih, ya." Fikri mengangguk dan dibalas oleh Dokter Nabil yang langsung pergi setelahnya. Fikri mendekati ranjang Anis dan duduk di sisi ranjang yang kosong. Ia mengenggam jemari Anis dan membawanya ke bibirnya. Ia tatap Anis lamat-lamat. Perasaan bersalah menyelimuti dirinya. "Maaf," Satu kata itu keluar dari mulut Fikri. Matanya berkaca-kaca. Karenanya lah Anis seperti ini dan sekarang menjadi lebih buruk. "Seharusnya aku gak ninggalin kamu. Anis aku minta maaf," sambung Fikri lagi. Oke, awalnya Anis marah karena tiba-tiba saja pria itu menghilang dari sisi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN