"Rame, Nis! Kita belanja dia supermarket aja, ya?" Anis memutar bola matanya malas. "Namanya juga pasar, ya ramelah! Kamu tuh gimana, sih?" Fikri memanyunkan bibirnya. Sepertinya ia masih tidak terima kalau wanita yang duduk di sebelahnya ini mengganggu tidurnya pagi ini. Kini, matanya asik mencari-cari parkiran kosong. "Aku parkir di sebrang aja, ya? Parkiran sini dah penuh." Anis mengangguk mendengarnya. Fikri menggandeng tangan Anis saat mereka akan menyebrang jalan setelah memarkir mobil. Anis tampaknya tidak risih oleh aroma-aroma pasar ikan dan becek. Sebenarnya Fikri pun begitu. Ia sudah biasa menemani Mihrima belanja. Namun, ia juga teringat kalau hari ini jadwalnya Mihrima ke pasar pagi. Fikri juga teringat kalau putri kecilnya akan selalu mengikuti bundanya kemana pun, kecual

