Pintu terbuka, Fikri muncul dari ambang pintu. Wajahnya terlihat kusut. Pebri mengalihkan pandangannya yang sedari tadi menatap ponselnya. Fikri menghempaskan tubuhnya untuk duduk di samping wanita itu. Sementara Anis, tengah terlelap setelah berdebat panjang dengan Pebri. "Kusut amat tu muka? Kenapa?" Tanya Pebri tak acuh. Dia kembali berkutat pada ponselnya. Helaan nafas berat terdengar dari sebelah wanita itu, dia kembali menoleh menatap pria disampingnya. "Kenapa? Dokter bilang apa?" Tanya wanita itu lagi. "Kita gak bisa maksa dia buat ingat semuanya. Dokter bilang, kalau terus dipaksa dia bakal kesakitan. Jadi, harus pelan-pelan... Dan hati-hati." Pria itu terdiam sejenak, mengacak rambutnya frustasi. "Rhea nanyain Mommy-nya. Dan dia pengen ketemu Anis." Ujar Fikri. Pebri mengerny

