Berhutang Benih
"Aku ingin kau membuat Chessy hamil," ujar Charly seperti tanpa bersalah. Pria itu tengah duduk di ruang tamu apartemen milik Clive. Apartemen mewah yang telah ditempati Clive sejak ia memutuskan untuk tinggal terpisah dari keluarganya dan mencoba hidup mandiri. Berbeda dengan Charly, ia adalah anak pertama, anak yang paling disayang oleh ibu mereka, jadi tidak mudah bagi Charly untuk meninggalkan rumah orang tuanya.
Clive William, adik dari Charly itu mengerutkan kening, mencoba berpikir, apakah ia salah dengar. Pria itu menuangkan botol minuman, ia baru meminum satu gelas dan ini yang kedua. Clive sendiri bukan pria yang gampang mabuk. Lalu bagaimana ia seperti mendengar sesuatu yang mustahil.
"Apa? Kau ingin aku menghamili istrimu?" ulang Clive, memastikan bahwa ia masih sadar dan minuman belum menguasai pikirannya.
"Ya, anggap saja hutangmu lunas." Charly juga menuangkan wiski ke dalam gelasnya, meneguk isinya dengan sekali tegukan dan wiski telah berpindah ke dalam perutnya.
"Hutang? Apa kau mulai mabuk?" ejek Clive. "Aku tidak pernah berutang kepadamu dan kenapa tidak kau saja yang menghamili istrimu itu? Apa kau mandul?" terka Clive. Pria itu menatap saudaranya yang tengah mengisi kembali gelasnya kemudian memainkan gelas wiski tersebut.
"Apa kau lupa kejadian 2 tahun yang lalu, kau membuat kita kecelakaan dan akibat dari itu, aku tidak normal lagi." Charly meneguk wiski, ia merentangkan kaki dan menyandarkan tangan di sofa Clive yang nyaman.
"Apa?" Clive tidak percaya. "Tapi kau kelihatan baik-baik saja," protes Clive. Kecelakaan itu tidak semuanya salah Clive, pria itu hanya kesal kepada Charly saat itu. Charly telah memiliki kekasih dan tetap menerima perjodohan dengan Chessy. Clive meminta Charly menolak pertunangan itu. Charly tidak mau. Awalnya Clive menyerah dan membiarkan Charly menikahi Chessy karena gadis itu juga tidak menolak dijodohkan dengan Charly.
Namun, ternyata Charly masih menjalin hubungan dengan kekasihnya membuat Clive murka. Benar saja Clive dan Charly akhirnya bertengkar sesaat setelah Clive memergoki Charly tengah memadu kasih dengan wanita yang katanya sudah menjadi mantan. Namun, ternyata tidak. Mereka bertengkar hebat di dalam mobil dan menyebabkan Clive dan Charly mengalami kecelakaan.
"Fisikku memang baik tapi aku tidak bisa memiliki anak, dan kau tahu, Mama selalu memaksa kami untuk segera punya anak. Aku tidak ingin Chessy menjadi setress dan aku yakin kau juga pasti tidak ingin melihat dia tertekan bukan?" Charly melirik sekilas menunggu reaksi adiknya itu. Charly tahu bahwa Clive sangat peduli dengan Chessy. "Waktu masih remaja, kau lebih dekat dengan Chessy di bandingkan aku dan tentu kau menyayanginya, bukan?" Charly mendorong tubuhnya untuk bangun, udara dingin semakin menusuk tulangnya, wajar saja ini musim salju pertama di New York. Pria itu mendekat ke arah perapian yang menyala terang, api seolah-olah menari-nari dengan gembira. Charly merasa tengah ditertawakan oleh api itu karena ketidakmampuannya membuat istrinya hamil.
"Jadi kau mandul?" Clive tidak menyangka bahwa kecelakaan itu membuat saudaranya mandul. Padahal Charly terlihat sangat normal dan gagah.
"Anggap saja, tapi sebenarnya lebih dari itu." Charly tidak ingin mengatakan bahwa dia impoten dan kelelakiannya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Bagaimanapun cara Chessy memancingnya itu tidak akan bisa digunakan.
"Apa Chessy setuju dengan rencana gilamu ini?" Clive menoleh ke arah Charly yang masih berdiri di dekat perapian. Dia merasa kasihan dengan saudaranya itu dan sekali lagi Clive kasihan dengan Chessy. Tidak ada yang tahu bahwa Clive diam-diam mencintai Chessy. Mereka hampir tumbuh bersama. Orang tua mereka bersahabat. Hanya Chessy yang peduli terhadap Clive.
"Aku belum memberitahunya, tapi aku akan membuat dia setuju, agar Mama tidak lagi menyalahkannya. Kau tahu--jika tidak memiliki anak, pihak perempuan akan selalu menjadi pihak yang paling bersalah." Charly menghadap ke arah Clive yang masih betah duduk selonjor di sofanya.
"Bagaimana jika aku tidak setuju?" Clive memandang botol wiski yang tinggal setengah.
"Maka aku akan mencari pria lain yang bisa melakukannya." Charly mengatakan hal itu seakan-akan tanpa dosa.
"Kau gila, kau pikir Chessy w************n? Dan apa itu? Kau ingin memasukan benih yang bukan keluarga di rumah kita?" Clive telah berdiri dihadapan Charly dan memegang kerah kemeja saudaranya itu.
"Makanya aku memintamu, setidaknya anak yang lahir masih benih William. Oh masalah w************n, aku tidak terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadi Chessy. Bisa saja dia memiliki kekasih dibelakangku." Charly menarik tangan Clive dari kerah kemejanya.
"Apa maksudmu? Chessy bukan wanita seperti itu." Clive tidak bisa membayangkan jika Chessynya berubah menjadi seperti apa yang dikatakan oleh Charly.
"Terserah kau, sekarang aku hanya perlu kau membayar hutang karena membuatku seperti ini." Charly menepuk pipi adik laki-lakinya.
"Aku tidak bisa memikirkannya dan aku yakin Chessy pasti tidak akan setuju, dia tipe wanita setia."
Charly tertawa mendengar ucapan Clive. Pria itu menyingkir dari depan adiknya dan berjalan ke arah sofa.
"Aku tidak peduli, jika aku tidak bisa membujuknya untuk tidur denganmu. Maka kau harus menggunakan pesona playboymu itu. Bukankah kau sangat gampang merayu wanita?" Sindiran dari Charly tepat melukai Clive, ya memang akan sangat mudah merayu wanita lain, tapi keahliannya akan hilang saat berhadapan dengan Chessy.
"Apa kau lupa, sejak kau menikah dengan Chessy--tepatnya satu bulan pernikahan kalian--entah kenapa dia seperti membenciku dan menjauhiku." Hal itu juga menjadi kesempatan bagi Clive mengubur perasaannya. Sejak saat itu Clive hanya bertemu dengan Chessy karena ada acara penting keluarga saja.
"Aku yakin kau bisa menaklukannya." Charly kembali mencoba meyakinkan saudaranya itu.
"Apa kau yakin, Chessy tidak mandul? Dan apa bisa--hanya dalam sekali melakukannya, itu akan berhasil?" Clive jadi membayangkan bagaimana rasanya bercinta denga Chessy, wanita yang diimpikannya. Saat remaja Clive berkhayal, jika saat dewasa ia akan menikahi Chessy, yang tidak diketahui Charly adalah Clive telah mencuri ciuman pertama Chessy saat mereka masih Sekolah.
Saat itu Clive berulang tahun ke 17 tahun dan Chessy datang membawakan kue untuknya. Chessy mengucapkan selamat ulang tahun kepada Clive dan memcium pria itu di pipi. Namun, Clive dengan licik memutar kepala dan membuat Chessy mencium bibirnya. Sejak kejadian itu mereka sepakat bahwa itu hanya kesalahan dan kembali berteman seperti biasa.
"Tentu saja kau bisa melakukannya sampai berhasil."
Clive menatap Charly, tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan saudaranya itu. Bagaimana Charly dengan gampang mengizinkan pria lain menyentuh istrinya dan dengan santai seolah-olah hal itu adalah hal biasa.
"Apa kau tidak akan cemburu?" Pancing Clive, ia ingin tahu reaksi Charly.
"Kau tidak usah memikirkan perasaanku, lakukan saja. Agar Mama tidak menekan Chessy dan aku. Lebih cepat, kau membuat Cheesy hamil, lebih cepat kalian berpisah."
"Seperti yang kukatakan tadi, bagaimana jika Chessy tidak setuju?" Clive masih mencoba agar Charly mengurungkan niatnya.
"Mungkin kau bisa melakukannya saat dia tidak sadarkan diri." Charly kembali menuangkan wiski ke dalam gelas.
"Kau benar-benar gila," maki Clive.
"Aku terpaksa, dan itu juga demi kebaikan Chessy, kau tahu seperti apa Mama, jika menekan seseorang."
Clive tahu sekali bagaimana sang ibu memperlakukan mereka. Casey, memiliki sifat yang sangat tegas terhadap anak-anaknya. Terutama Clive, dia akan terus mengintimidasi Clive, membuat Clive akhirnya memutuskan untuk tidak tinggal di rumah utama dan tidak ikut terlibat terhadap perusahaan. Clive serahkan semuanya kepada Charly yang menjadi wakil CEO karena ayah mereka masih menjadi CEO dari William Corporation. Clive sendiri akhirnya membuat firma arsitektur dengan nama Clive William arcitechs.
"Aku akan memikirkannya," putus Clive, dia menatap tepat ke mata Charly.
"Aku butuh jawabanmu sekarang, jika tidak aku akan mencari pria lain. Apa kau tega jika Chessy dijamah oleh pria lain?"
Tentu saja Clive tidak akan rela.
"Baiklah!" putus Clive.