Desakan Mertua

1026 Kata
Charly kembali ke rumah utama William, dia memasuki kamar. Waktu menunjukan pukul sebelas malam. Pria itu menatap wajah istrinya yang cantik tengah terlelap. Charly mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Pria itu kemudian duduk di tepi ranjang dan menatap wajah sang istri. Perasaan bersalah menyelimutinya karena tidak bisa memberikan nafkah batin kepada sang istri. Charly mengelus wajah mulus Chessy, wanita itu bergerak karena merasakan sentuhan lembut suaminya. Perlahan dia membuka mata dan melihat suami tengah menatap dengan sendu. "Charly, ada apa?" Chessy mengangkat tangan dan menggenggam tangan suaminya, ia semakin mendekatkan tangan ke pipinya. "Maaf, karena aku kau menjadi sasaran Mama." Charly menarik tangannya. Chessy duduk dari posisi berbaringnya dan menghadap sang suami. "Dengar, semua bukan salahmu." Wanita itu mendekatkan tubuhnya dan memeluk sang suami. "Maukah kau mengambulkan satu permintaanku?" pinta Charly. Chessy merasa ada yang aneh dengan suaminya itu, ia mengurai pelukan dan menatap sang suami. Apakah suaminya mengalami hari yang buruk di kantor. "Katakan saja!" Chessy menunggu Charly menjawab, pria di depannya itu terlihat bimbang dan ragu. Dia seperti tengah berpikir. "Aku telah meminta Clive agar membuatmu hamil?" Bagai tersambar petir, tubuh Chessy menegang. Matanya melotot seakan tidak percaya dengan yang dikatakan suaminya. Bagaimana mungkin suaminya menyuruh adik ipar membuat dia hamil. Charly tahu, Chessy membenci Clive karena membuat suaminya mengalami disfungsi ereksi. Sejak kecelakaan itu, Charly menjadi impoten dan Chessy tidak mendapatkan nafkah bathin dari sang suami. Sedangkan Clive sejak kecelakaan itu hidup baik-baik saja bahkan yang Chessy dengar kekasihnya setiap bulan berganti-ganti. Entah itu model, artis, dan wanita-wanita kaya yang terkenal. "Apa kau gila? Aku tidak akan sudi mengandung anak dari saudaramu yang tidak tahu diri itu," maki Chessy, dia sangat kesal. Dia selalu menghindari Clive, dan hanya bertemu saat penting acara keluarga saja. Itupun Chessy tidak sekalipun menegur Clive, hanya menjawab dengan ketus saat Clive bertanya tentang kabarnya. Itu dilakukan Chessy demi kesopanan saja, terpaksa ia menjawab. "Hanya itu satu-satunya cara, agar kau tidak didesak mama lagi," bujuk Charly. "Kenapa harus dia?" Chessy ingin tahu alasannya. "Karena anak yang lahir tetap merupakan pewaris William dan aku bisa menerima karena itu keponakanku sendiri." Chessy membenarkan perkataan Charly, setidaknya anak yang lahir bukan benih orang lain, melainkan tetap garis keturunan keluarga suaminya. "Baiklah aku setuju. Kapan kita berjumpa dengan dokter untuk melaksanakan program bayi tabung ini?" Charly menatap kembali istrinya, pria itu meraih tangan Chessy. "Kita tidak melakukannya dengan cara bayi tabung, kau akan bermalam dan tidur dengan Clive." Charly mencoba mencium tangan Chessy. Wanita itu menarik tangannya dan berdiri. "Apa?" Dia tidak habis pikir, bagaimana suaminya mengusulkan hal gila itu, melahirkan bayi Clive saja sudah cukup membuatnya tidak rela. Lalu, bagaimana Charly bisa mengusulkan dia melakukan hubungan intim dengan Clive, itu sangat tidak masuk akal. "Aku tahu kau wanita setia, dan aku ingin kau juga merasakan menjadi istri seutuhnya. Kau tahu maksudku, aku tidak bisa memberikan itu padamu. Aku yakin kau pasti tidak akan mau berhubungan dengan pria lain. Kau selalu menjaga dirimu. Jadi apa salahnya kau mencoba, setidaknya Clive pasti bisa menyenangkanmu, aku tahu dia pria yang dapat memuaskan kaum wanita," terang Charly blak-blakan. Chessy kembali teringat saat paman Charles, ayah Charly dan Clive memintanya menikah dengan Charly. Wanita itu langsung setuju karena dia memang lebih menyukai Charly yang dewasa daripada Clive yang sering mengerjainya. Meskipun secara persahabatan dia lebih dekat dengan Clive. Pernikahan yang disangka Chessy akan bahagia menjadi mimpi buruk. Charly tidak bisa melaksanakan kewajibannya sebagai suami. Chessy mencoba membujuk Charly untuk berobat. Namun, kelelakian suaminya itu tidak bisa dibangkitkan. Charly mengizinkan Chessy untuk memiliki kekasih. Namun, wanita itu tidak mau melakukannya, dia tetap setia kepada suaminya. "Apa kau telah membicarakannya dengan Clive?" Wanita itu ingin tahu sejauh mana rencana suaminya. "Tentu saja, aku telah memintanya." Chessy merasa terhina, bagaimana mungkin suaminya dan adik iparnya membahas tentang dirinya. Seharusnya Charly memberitahu ia dulu, bukan Clive. Jika Charly telah mendapatkan persetujuan Chessy baru ia meminta Clive. Ini Charly membaliknya. "Aku mau tidur." Chessy kembali ke ranjang dan memutus obrolan yang membuat dadanya sesak. Tidak pernah ia bayangkan tubuhnya akan disentuh oleh pria lain yang bukan suaminya. Charly memahami Chessy dan tidak mendesaknya lagi. Pria itu ikut berbaring di samping istrinya. Keesokan paginya, Chessy menuju meja makan, di sana telah ada Charly, Charles, ayah mertua dan Casey, ibu mertuanya. "Selamat pagi!" sapa Chessy. Wanita itu langsung duduk di samping suaminya. "Semoga saja kau telat bangun karena kelelahan melayani suamimu dan semoga saja hasilnya memuaskan," ucapan Casey mungkin terdengar biasa. Charly tersedakk ketika menyantap sarapannya. Perkataan ibunya seperti sindiran buat dirinya. Chessy memberikan minuman kepada Charly. Ia menoleh ke arah Charly dan melihat suaminya yang frustasi. "Aku harap," jawab Chessy pelan. Wanita itu menggenggam tangan suaminya dengan kuat. Mereka makan dengan tenang, Charly kembali ke kamar untuk mengambil tas kerjanya. Chessy mengikutinya. "Kau dengar perkataan Mama, setiap kau terlambat bangun dia berharap kau hamil," ujar Charly setelah Chessy menutup pintu. "Tapi aku tidak bisa melakukannya, apalagi dengan Clive," tolak Chessy, ia mengambilkan tas Charly yang terletak di atas meja riasnya. "Aku pernah menyarankamu untuk memiliki kekasih ketika kau masih tidak berhasil membuatnya bangun, dan kau menolaknya. Aku tidak bisa hidup dengan perasaan bersalah karena tidak bisa memberimu kepuasan Chessy. Harga diriku sebagai laki-laki hancur, setiap menatapmu, hatiku terluka. Apa kau seorang perawan?" Charly sangat penasaran karena dia tidak mengetahui secara langsung. Jika Chessy tidak perawan mungkin ia akan mempertimbangkan melakukan bayi tabung. Entah mengapa perasaan Charly mengatakan Chessy masih perawan. Malam pertama saat ia mencoba menyentuh Chessy wanita itu terlihat kaku. "Ya," cicit Chessy. Ia tidak mengerti kenapa itu menjadi masalah. "Setidaknya kau harus merasakannya, aku tidak ingin menjadi pria egois dan selamanya berhutang kepadamu. Kesetiaanmu justru menghancurkanku. Menanamkan sejuta perasan bersalah," beber Charly. "Kau tahu aku sangat malu mengakui kepada keluargaku bahwa aku tidak mampu," cicit Charly, pria itu mengambil tas di tangan Chessy. Berputar menuju pintu. Chessy tahu suaminya pasti merasa nelangsa. Chessy memeluk punggung Charly. "Maaf, aku akan menuruti keinginanmu. Aku akan memberitahu saat masa suburku. Dan aku juga akan memberitahu dimana lokasinya. Jika ternyata kali pertama itu berhasil aku tidak ingin melakukannya lagi," putus Chessy. "Terserah padamu, jika kau ingin melanjutkannya dengan pria lain atau dengan Clive. Aku tidak akan melarangmu." Charly berjalan dan membuka pintu. -TBC-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN