Malam Pertama dengan Adik Ipar

1030 Kata
Satu bulan kemudian. Chessy tahu hari ini adalah masa suburnya telah datang, sesuai kesepakatan dia telah memberitahu Charly dimana tempat ia akan melepaskan keperawanannya dan menyuruh Clive untuk datang ke sana. Chessy berharap, pertama kali melakukan ia akan hamil, sehingga tidak terlalu merasa bersalah jika harus bercinta berkali-kali dengan pria yang bukan suaminya. Harga dirinya akan sangat terluka. Chessy mondar-mandir dengan gugup di dalam kamar. Jika saat malam pertama dengan Charly, ia tidak pernah segugup ini karena wanita itu rela menyerahkannya dan karena Charly suaminya. Mereka telah sah di mata semua orang. Chessy menggenggam penutup mata di tangan, ia telah mempersiapkan segalanya. Namun, saat hari ini tiba, tetap saja ia takut dan merasa bersalah karena mengkhianati suaminya. Meskipun hal ini adalah izin dari suaminya. Chessy melihat jam di tangannya, waktu menunjukan pukul setengah sebelas malam. Charly mengatakan bahwa nanti ia akan memberitahu orang tuanya bahwa Chessy ada keperluan keluar kota, menemui client. Chessy memang membuka butik untuk menyibukan dirinya. Toko itu ia buka sejak mengetahui bahwa Charly tidak akan bisa memberinya seorang anak. Padahal dulu cita-cita Chessy adalah merawat anaknya sendiri dan menyibukan diri menjadi ibu rumah tangga. Semua musnah saat dokter menyatakan Charly tidak bisa sembuh. Wanita itu masih mondar-mandir, ia masih mengenakan pakaian biasa yang sopan, bukan pakaian sexy saat malam pertamanya dengan Charly. Chessy berpikir apakah Clive membatalkan janjinya. Jika benar, itu lebih baik karena, Chessy tidak punya alasan--ia telah menunaikan janjinya. Namun, Clive yang membatalkan. Bel kamar berbunyi, Chessy terlonjak kaget. Dia menarik nafas dalam, wanita itu melangkah ke pintu dan membukanya. Ternyata hanya pelayan hotel yang mengantarkan minuman untuknya. Chessy bahkan lupa bahwa ia memesan wine, agar tidak terlalu gugup. Pelayan meletakan minuman di meja, setelah mengucapkan selamat malam, pelayan hotel keluar. Chessy membuka wine dan meminumnya sedikit, berharap itu memberikan keberanian pada dirinya. Wanita itu telah menghabiskan 2 gelas, saat bel kembali berbunyi, ia kembali berdiri dan membuka pintu. Di depannya adalah Clive, pria itu terlihat tampan dengan jas hitammnya. Pantasan saja ia menjadi seorang playboy, pikir Chessy. "Maaf, aku sedikit terlambat," ujar Clive, pria itu masih berdiri di pintu, sebelum Chessy menyuruhnya masuk. Clive menatap Chessy dari atas hingga bawah, wanita itu memakai pakaian sopan, tidak seperti wanita yang siap melakukan kegiatan panas. Namun, tidak dipungkiri Clive wanita itu selalu tampak cantik dan menawan. Sekalipun dengan pakaian tertutup. "Masuklah!" Chessy melangkah ke dalam kamar. "Bagaimana kabarmu?" Chessy tahu itu hanya pertanyaan kesopanan dan ia tidak ingin bercakap-cakap yang akan memperlama proses, membuatnya semakin tidak nyaman. "Tidak usah berbasa-basi, kita langsung saja," jawab Chessy datar. Clive ternganga mendengar jawaban Chessy. Pria itu menarik tangan Chessy dan berkata, "Aku tidak tahu kenapa kau seperti sangat membenciku?" cecar Clive, Chessy menatap ke arah Clive. "Bukankah sudah seharusnya? Kau tahu kenapa kita di sini?" Chessy bahkan tidak berkedip menatap mata Clive. Pria ini yang merampas kebahagiaannya, ia membuat pernikahan Chessy tidak sesuai harapan wanita itu dan membuatnya masih perawan meski telah menikah selama 2 tahun. "Aku tahu, baiklah. Ayo lakukan, agar semua selesai." Clive menarik tangan Chessy dan melemparkan tubuh wanita itu ke ranjang. Clive tahu--mungkin karena ia Chessy tidak punya anak, dan Charly mandul. Namun, kecelakaan itu tidak bisa terelakkan. "Tunggu, aku ingin kau mematikan lampunya," perintah Chessy. Clive tidak suka dengan cara Chessy memerintahnya. "Aku lebih suka melakukannya saat terang." Clive membuka kancing dress Chessy. Wanita itu menepisnya dan mengambil penutup mata di saku dress. "Silahkan, aku akan menutup mata dan membayangkan bahwa yang menyentuhku adalah suamiku." Chessy memakai penutup matanya. Clive kesal mendengar perkataan Chessy. Bagaimana wanita itu meruntuhkan harga dirinya, seolah-olah Clive adalah seorang gigolo yang akan terima--seperti apa mau pelanggan. "Terserah kau, dan aku pastikan aku lebih hebat dari suamimu dan kau pasti akan meminta kembali." Clive mulai mencium Chessy dengan brutal melampiaskan kekesalan kemudian melembut. Clive terkejut mendapati bahwa Chessy masih perawan, pria itu ketakutan. Namun, tidak bisa mundur. Setelah selesai, Clive beranjak dari tubuh Chessy, wanita itu masih memakai penutup matanya dan menarik selimut. Clive memakai kembali pakaiannya, tanpa jas. Clive membuka penutup mata dan melihat air mata yang mengalir. Entah karena perasaan sakit ia merampas keperawananya atau perasaan sakit karena harga diri. "Kenapa kau masih perawan?" todong Clive, nada penyesalan keluar dari suaranya. "Apa yang kau harapkan? Seorang wanita dengan pengalaman baik yang akan memuaskanmu? Maaf telah membuatmu kecewa dan tidak sesuai ekspektasimu." Chessy duduk menyandar di kepala ranjang, mengabaikan rasa sakit dibagian inti Tubuhnya. Wanita itu memegang selimut agar tidak melorot dari tubuhnya. Clive menjadi gusar, pria itu menarik rambutnya dan berjalan-jalan. Panik, itulah yang dirasakan Clive. "Aku hanya tahu bahwa Charly mandul, tapi--bisakah kau memberitahuku bagaimana kau masih perawan? Apakah Charly tidak menyentuhmu?" Clive teringat, apakah Charly masih bersama kekasihnya itu? Tapi setahu Clive mereka tidak berhubungan lagi. Lalu, bagaimana Chessy masih perawan, adakah yang bisa menjelaskan kepadanya? "Apa?" Chessy sendiri terkejut, dia sangka Charly telah memberitahu kondisi sebenarnya kepada Clive. Namun, mungkinkah Charly juga merahasiakan kondisinya dari Clive? Chessy memahami mungkin saja suaminya malu, tapi sekarang bagaimana dia menjelaskan tentang keperawananya kepada Clive. "Apa karena ini kau membenciku? Apa Charly impoten?" Akhirnya Clive menyadari sesuatu, mengapa Chessy tiba-tiba membencinya. "Ya," jawab Chessy, dia sendiri terkejut saat Clive menebak Charly impoten. "Kau menghancurkan pernikahan yang aku impikan, membuatku masih perawan meski telah menikah selama 2 tahun." Chessy menahan air mata agar tidak tumpah. "Seharusnya kau yang berada diposisi Charly, kau pria playboy dan kau seharusnya mendapatkan karma karena telah sering mempermainkan wanita!" pekik Chessy. Clive semakin terluka karena wanita yang dicintainya, hanya melihat kejelekannya. Padahal menurut Clive, Charly juga seorang playboy. Lalu, mengapa Chessy hanya melihat keburukannya. Kecelakaan itu terjadi karena Clive tidak rela Chessy bersama saudaranya, sebab saudaranya tidak ingin memutuskan pacarnya. Meskipun setelah menikah dengan Chessy, Charly tidak berhubungan lagi dengan kekasihnya itu. Dan Clive pikir Charly telah berubah, ternyata karena ia memang tidak bisa memuaskan wanita lagi. "Jika aku bisa melakukannya, aku akan bertukar tempat dengannya, tapi apakah kau tidak berpikir, kenapa itu justru menimpa Charly dan bukan aku?" "Sekarang pergilah, berharap kali pertama ini membuat aku hamil, sehingga aku tidak perlu lagi bertemu denganmu," usir Chessy mengabaikan ucapan Clive. "Jangan terlalu berharap." Clive keluar dari kamar, tujuannya hanya satu menemui Charly. Jika Chessy masih perawan, ia tidak bisa melepaskan Chessy begitu saja. -TBC-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN