Kemarahan Clive

1055 Kata
Dengan perasaan kesal dan marah, Clive meninggalkan Chessy di kamar hotel. Seharusnya keperawanan Chessy menjadi hadiah baginya. Namun, Clive merasa bersalah, apalagi tatapan benci dari Chessy yang menyalahkannya tentang kecelakaan yang menyebabkan Charly impoten. Pria itu bergegas menuju rumah utama keluarganya. Keheningan malam hanya dipecah oleh langkah-langkah cepat Clive yang penuh dengan kekesalan. Ia merasa ada sesuatu yang salah dengan pertemuannya dengan Charly beberapa waktu lalu. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain, selain menuruti kemauan saudaranya itu. Clive juga tidak rela Chessy dijamah pria lain. Tiba di rumah keluarganya, Clive mengetuk pintu dengan tegas. Pelayan yang membukakan pintu untuk Clive. "Tuan muda, ada apa tengah malam ke sini?" Wajah keheranan terpapar jelas diraut si pelayan. Sejak meninggalkan rumah tidak sekalipun Clive datang ke rumah utama ditengah malam, bahkan Clive hanya ke sini jika ada acara keluarga saja. "Aku akan menemui Charly." Clive memasuki rumah dan menuju kamar Charly dan Chessy. Pelayan menyusul karena ia dapat merasakan sesuatu yang janggal. "Maaf Tuan Muda, apakah tidak sebaiknya berbicara besok pagi saja. Tuan Charly kelihatan lelah saat pulang tadi. Saya akan membersihkam kamar Anda, agar Anda bisa beristirahat dengan nyaman dan menyiapkan air panas untuk Anda mandi," tawar pelayan. Clive mengabaikannya, ia tetap melangkah menuju kamar Charly. Pria itu menaiki tangga dengan kecepatan luar biasa, melangkah melewati dua anak tangga sekaligus. Pelayan berusaha menyamai langkah dengan Clive. Aura Clive memancarkan kekesalan dan sang pelayan tidak ingin mereka ribut ditengah malam. Nyonya rumah pasti tidak akan senang. "Tuan Muda, sebaiknya Anda pulang saja, Tuan Charly baru saja beristirahat," tegas pelayan. Clive tidak peduli, ia harus bertemu dengan Charly dan meluapkan kekesalannya karena Charly tidak jujur. Jika Charly jujur setidaknya Clive tidak akan kasar saat melakukan hubungan dengan Chessy. Clive mengetuk pintu kamar Charly dengan keras. "Tuan Muda, jangan lakukan ini, saya bisa mendapat masalah dari nyonya," mohon pelayan pria berusia 48 tahun. Charly membuka pintu, dan wajahnya terlihat terkejut melihat Clive berada di depannya pada tengah malam. "Tuan Charly maaf, saya sudah berusaha membujuk Tuan Muda, agar berbicara besok saja. Namun, Tuan Muda tidak mau mendengar," lapor pelayan. "Tidak apa-apa, kau boleh pergi." Pelayan meninggalkan Clive dan Charly. "Clive? Ada apa? Ini tengah malam," Charly berusaha memfokuskan pandangan karena pria itu masih mengantuk. "Kenapa kau tidak jujur padaku?" Clive dengan suara tegas bertanya kepada kakaknya itu. "Tentang?" Charly pura-pura tidak tahu, ia sudah menduga pasti Clive telah tidur dengan Chessy dan mendapatkan fakta bahwa Chessy masih perawan. "Tentu saja kondisimu yang impoten," nada suara Clive sedikit tinggi. "Pelankan suaramu! Aku tidak mau orang mengetahuinya. Masuklah!" Charly masuk ke dalam kamar diikuti Clive. Clive memperhatikan kamar Charly, kamar tersebut telah banyak berubah. Clive yakin Chessy yang merubahnya karena saat Clive masih tinggal di rumah ini, ia sering ke kamar kakaknya untuk membahas perusahaan sebelum Clive memutuskan tidak lagi ikut campur dan pergi dari rumah. "Ya, akibat kecelakaan itu aku impoten, punyaku tidak bisa digunakan, apa kau senang mendengarnya?" Clive terdiam mendengarkan pengakuan kakaknya. Ia merasa terkejut dan sedih mendengar kenyataan yang tidak pernah ia duga. Charly melanjutkan, "Ketika aku mengetahui bahwa aku impoten dan tidak bisa sembuh, aku seharusnya menghajarmu karena membuat hidupku yang sempurna menjadi tidak sempurna lagi. Kau membuat aku menjadi lelaki yang tak berguna. Sementara kau, kau dengan gampang bergonta-ganti kekasih!" "Itu tidak benar, aku tidak bergonta-ganti pacar dan aku ke sini bukan untuk membahas berapa banyak kekasihku." Clive menopangkan tangannya di sofa yang ada di kamar Charly. "Aku ke sini, untuk meminta penjelasanmu, seharusnya kau jujur dengan kondisimu yang sebenarnya," lanjut Clive. "Apa jika kau diposisiku, kau akan berkata jujur bahwa kau impoten?" Charly menatap Clive dengan pandangan meremehkan. Clive menangkap sedikit kesedihan dalam kalimat Charly. Ia tahu tidak mudah menerima kondisinya saat ini. Namun, berbohong dan menjebak Clive--Charly memang tidak mengetahui perasaan Clive kepada Chessy, tapi Clive tidak ingin karena ini, ia jadi lebih menginginkan Chessy menjadi miliknya. "Tentu saja, kita adalah bersaudara dan kau memintaku untuk menghamili istrimu, seharusnya kita benar-benar sepakat. Chessy masih perawan, padahal kau juga mengatakan kemungkinan dia memiliki kekasih, apa maksudmu memfitnah dia?" Clive tidak dapat menyembunyikan kekesalannya. Bagaimana mungkin Charly begitu egois, hanya memikirkan kepentingannya tanpa memikirkan perasaan Chessy dan Clive. Dalam hal ini yang paling tidak bersalah adalah Chessy. "Bukankah kau seharusnya senang, anggap saja aku memberi bonus untukmu. Bukankah biasanya kau hanya mendapatkan bekas?" ejek Charly. Kata-kata Charly menusuk hati Clive. Pria itu tidak terima dia langsung mendaratkan tinju ke wajah Charly, membuat kakaknya tersungkur di samping sofa. Charly menyeka sudut bibir yang terasa panas akibat pukulan Clive. Darah segar mengalir di sudut bibirnya. Charly tidak terima dipukul, pria itu melayangkan tinju untuk membalas Clive, tepat di pipinya, Clive pun tersungkur, kepalanya membentur meja kabinet, kepala Clive mengelurkan darah. Clive kembali bangkit dan menghadap Charly dengan luapan kemarahan. Pria itu kembali dan menarik kerah piyama tidur Charly. "Kau benar-benar pria egois. Seharusnya aku sudah tahu dari dulu." Charly mengibaskan tangan Clive dari kerahnya. Pria itu berjalan dan duduk dengan santai pada sofa. "Sekarang pulanglah, aku mau beristirahat." "Aku sangat marah dan kesal padamu. Bagaimana mungkin kau berpikir bahwa ini adalah cara yang benar?" bentak Clive dengan nada tinggi. "Lalu apa cara yang benar? Apa kau bisa mengembalikan kondisiku seperti semula?" tantang Charly, pria itu berdiri dan berjalan ke arah Clive, ia menatap Clive seoalah-olah semua adalah salah Clive. Mereka pun mulai bertengkar dengan kata-kata yang tajam, menyakiti perasaan satu sama lain. Emosi meledak seperti gunung berapi yang sedang meletus. Tidak terima dipersalahkan Clive kembali memukul Charly, adu kekuatan pun kembali terjadi, vas bunga terjatuh menimbulkan bunyi yang memekakan telinga. Casey memasuki kamar Clive begitu mendengar suara gaduh. Wanita paruh baya itu kaget saat melihat Clive tepat sedang memukul Charly. Ia menyingkirkan Clive yang kembali memukul Charly. Casey mendorong tubuh Clive dengan sekuat tenaga. "Clive apa yang kau lakukan?" Insomnia Casey kambuh sehingga ia dapat mendengar keributan itu dan bergegas ke kamar Charly "Kau benar-benar bar-bar. Jangan pernah memukul kakakmu." Casey mendekat dan melihat kondisi Charly, mengabaikan keberadaan Clive. Casey hanya memperhatikan luka yang didapat oleh Charly. "Lihat apa yang kau lakukan padanya," tunjuk Casey kepada Charly yang babak belur. Wanita itu tidak melihat bahwa Clive juga babak belur, sama parahnya dengan Charly. Clive hanya diam memandang perlakuan Casey terhadap kakaknya. "Kenapa kau membuat keributan pada tengah malam?" Lanjut Casey dia menatap wajah Clive. Clive tidak menjawab. Pria yang kesal itu meninggalkan kamar Charly dengan membanting pintu. -TBC-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN