Kemarahan Chessy

1016 Kata
Sore itu, angin bertiup pelan di jendela hotel, mencerminkan suasana hati Chessy yang gelisah. Setelah percintaan bersama Clive dan berakhir dengan pria itu pergi meninggalkan Chessy dengan tanda tanya. Meskipun batin Chessy meronta. Namun, tidak dapat dipungkiri ada perasaan lega yang ia rasakan. Wanita itu mengusap perutnya dan berharap semoga kejadian hari ini membuahkan hasil. Agar ia tidak lagi berhubungan dengan Clive. Chessy memang sengaja belum kembali ke rumah. Dia ingin memulihkan diri dan menyiapkan mental untuk bertemu suaminya. Terus terang Chessy merasa malu, jika sebagian orang beselingkuh merahasiakan hubungan mereka dari suami. Tidak dengan Chessy, hubungan terlarangnya bersama adik ipar, justru ide dari suaminya. Dia pulang dengan perasaan berat, Chessy bukanlah wanita yang akan senang berselingkuh, dia type wanita setia. Bagi Chessy, saat Charles memintanya untuk menikah dengan Charly, wanita itu sangat bahagia. Tadinya Chessy takut jika Charles, memintanya menikah dengan Clive. Meskipun Chessy lebih dekat dengan Clive, ia tahu Clive seorang playboy. Tidak terbayang oleh Chessy jika ia menikah dengan Clive dan kemudian pria itu berselingkuh. Chessy melangkahkan kaki menuju kamarnya. Casey, melihat kedatangan menantunya itu. "Chessy! Kau telah kembali dari perjalanan bisnis?" Chessy menghentikan langkah dengan gugup, entah kenapa ia merasa bersalah karena telah tidur dengan putra kedua ibu mertua. "Ya, Mama! Bolehkah aku beristirahat dulu." Chessy tidak benar-benar ingin beristirahat, ia hanya ingin menghindar dari Casey. Wanita itu belum siap jika sang mertua bertanya tentang kehamilannya. "Mama, hanya ingin memberitahumu bahwa dini hari tadi, Clive datang dan berkelahi dengan Charly. Entah apa yang dipikirkan anak itu dengan membuat keributan." Casey tidak dapat menahan kesalnya. "Apa? Tapi kenapa?" "Aku juga tidak tahu, dia membuat Charly babak belur. Anak itu bertingkah sangat bar-bar," maki Casey. "Dia tak punya hak untuk menyakiti Charly," gumam Chessy dengan ketidakpercayaan dalam suaranya. Kepedihan dan kebingungannya semakin terlihat di wajahnya ketika dia merenung tentang percintaannya dengan Clive. "Makanya, aku ingin kau mencaritahu, mengapa mereka bertengkar." Casey meninggalkan menantunya. Tanpa pikir panjang, Chessy memutuskan untuk menemui Clive langsung di kantornya, ia yakin pria itu masih berada di kantornya jam segini. Setahu Chessy, pria itu sering pulang malam. Chessy sampai di kantor Clive. Kantor Clive tidak seperti kantor William Corp yang merupakan gedung dengan puncak tertinggi. Kantor Clive seperti rumah besar dengan arsitektur luar biasa. Tentu saja design bangunan kantor tersebut dirancang oleh Clive sendiri. Chessy tidak perlu izin kepada satpam untuk bertemu Clive, pada masa lalu, Chessy biasa berkunjung ke sana, semua karyawan Clive kenal dengan Chessy sebagai sahabat Clive. Hatinya berdebar kencang ketika ia berjalan menuju ruangan Clive. Wanita itu ingin tahu mengapa Clive tega memukul saudara kandungnya, orang yang dicintai Chessy. Tak lama setelah sampai di depan pintu kantor Clive, Chessy mengetuk pintu dengan gemetar. "Masuk," terdengar suara serak Clive dari balik pintu. Dengan napas terengah-engah, Chessy membuka pintu dan masuk ke ruangan itu. Clive duduk di belakang meja kerjanya, wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia memandangi Chessy tanpa menyapa, sepertinya tidak terkejut melihatnya di sana. "Berani-beraninya kau memukul Charly?" ucap Chessy dengan nada menuntut. "Apa masalahmu, Clive?" Namun, Clive tetap diam, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Rasa kesal dan marah Chessy semakin tak tertahankan, sehingga ia akhirnya memaki Clive dengan kata-kata kasar. "Apa kau telah selesai," jawab Clive santai. Ia tahu Chessy, jika marah akan berkata kasar. "Tentu saja aku belum selesai, kau bahkan belum mengatakan kenapa kau memukul Chariy?" "Pergilah dan tanyakan kepada suamimu." Clive berjalan dan membukakan pintu ruangannya agar Chessy keluar. Pria itu tidak ingin membahas tentang perkelahiannya dengan sang kakak. "Entah apa yang dipikirkan Charly sehinga harus kau pria yang menghamiliku? Aku harap jika aku hamil, anak itu tidak akan memiliki sifat sepertimu," kesal Chessy "Setidaknya bukan kau yang akan menjadi figur ayah baginya!" lanjut Chessy dengan mata memancarkan kemarahan. Clive tetap bungkam, tapi tatapannya menunjukkan bahwa ia merasa tersinggung oleh perkataan Chessy. "Silahkan keluar!" Chessy benar-benar dibuat sangat kesal dan menahan amarah dengan kebisuan Clive. Wanita itu akhirnya meninggalkan ruangan Clive dengan langkah berat. Namun, rasa penasaran dan kemarahan masih membakar di dalam hatinya. Malam harinya, setelah pertengkaran yang membuat hatinya semakin kacau, Chessy menunggu kedatangan suaminya. Mungkin bertanya dengan Charly dia dapat menemukan jawabannya. Di dalam kamar tidur mereka. Dia mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang menghantui pikirannya. "Charly, tolong ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi antara kau dengan Clive?" tanya Chessy dengan lembut. Namun, bermakna mendalam. Wanita itu telah menunggu suaminya sampai pria itu mandi. Tidak mungkin Chessy langsung menodong Charly dengan pertanyaan. Chessy melihat wajah suaminya yang memar karena pukulan Clive. Charly terdiam sejenak sebelum menghela nafas dan menatap istri tercintanya. "Kau tidak perlu cemas, Chessy. Aku sudah berbicara dengan Clive, dan semuanya sudah diatasi," jawabnya dengan upaya menenangkan Chessy. Tapi Chessy tidak puas dengan jawaban itu. Hatinya masih penuh dengan kekhawatiran dan pertanyaan tak terjawab tentang perseteruan di antara mereka. Apakah ada sangkutpautnya dengan dirinya. *** Satu bulan berlalu, Chessy tetap berharap agar segera hamil dan tidak perlu lagi berurusan dengan Clive. Namun, sejak hubungan terlarang itu terjadi, ia seringkali merenung dan membayangkan sentuhan Clive. Rasa bersalah pun menghampirinya setiap kali dia menatap wajah Charly. Ia tahu ia harus mengubur keinginan untuk disentuh pria lain selain suaminya. Meskipun itu tidak akan pernah didapatkan oleh Chessy. Berciuman pun Charly enggan, kontak fisik diantara mereka hanya sebatas memeluk untuk menenangkan ketika Chessy curhat tentang pekerjaannya. Pagi itu, datang bulan Chessy telah tiba. Ia merasa kecewa dan hancur. Sehari sebelum tanggal yang ia catat sebagai tanggal datang bulannya. Dia segera memberi tahu Charly tentang kegagalan ini, berharap ia juga akan merasakan kecewa yang sama. "Tidak apa-apa, Chessy. Kita masih punya waktu," ucap Charly dengan sikapnya yang selalu tenang. Tapi Chessy merasa cemas tentang perasaan Charly yang terlalu cuek atas kegagalan ini. "Kita akan berusaha semaksimal mungkin, Chess," lanjut Charly dengan penuh kasih sayang." Entah mengapa, dalam lubuk hatinya, Chessy merasa masih tergoncang. Ia tahu ia harus mengatasi perasaannya sendiri dan berdamai dengan pilihan-pilihan yang telah ia buat. "Bagaimana untuk selanjutnya kita mencoba program bayi tabung saja," usul Chessy. Ia tidak ingin Charly semakin terikat dengan Clive atau merasa khawatir tentang masa depan mereka yang belum jelas. Juga yang terpenting Chessy tidak ingin perasaannya berpaling dari Charly. -TBC-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN