Ide Gila Charly Lainnya

1017 Kata
"Aku tidak akan mengizinkanmu melakukan program bayi tabung." tolak Charly, pria itu langsung duduk di depan meja rias, mengambil alat pengering rambut dan mulai mengeringkan rambutnya. "Tapi kenapa?" Chessy menatap suaminya yang masih asik mengeringkan rambut. "Aku ingin kau hidup dengan normal dan merasakan indahnya sex." Charly membalikan tubuh melihat ke arah Chessy. Chessy tidak habis pikir dengan isi kepala suaminya itu. "Aku telah merasakannya, jadi kau tidak perlu cemas," jawab Chessy dengan sedikit kecewa karena respon suaminya. "Begini saja, aku akan menyetujui program bayi tabung, asalkan kau memiliki kekasih untuk menyalurkan hasratmu." Charly mengusulkan hal gila lainnya. Wanita itu melotot, apa suaminya benar-benar peduli padanya atau memang Charly sudah gila. Chessy tidak tinggal diam, ia menuju ke arah Charly. "Kau tahu aku tidak akan melakukan itu," tolak Chessy. Mata Chessy memandang lekat ke mata suaminya. "Chessy, aku tahu! Aku mungkin terdengar gila dengan ide itu, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu dan aku hanya ingin kau bahagia," ucap Charly dengan ragu. "Tapi ide itu tidak mungkin terjadi," ucap Chessy tegas. "Lebih baik aku hanya berhubungan dengan Clive dari pada harus membagi tubuhku dengan pria lain lagi," maki Chessy dengan penuh marah. Bagaimana suaminya bisa berpikir gila seperti itu. Mengapa Charly tidak merasa cemburu? Chessy merasa seperti w************n jika harus membagi tubuhnya dengan pria lainnya. "Lakukanlah, tapi satu hal yang tidak boleh kau lakukan dengan Clive--." Charly menggantung kalimatnya, membuat Chessy penasaran. "Apa?" tanya Chessy tidak sabar. "Kau tidak boleh jatuh cinta padanya, orang lain boleh menyentuh tubuhmu, tetapi hatimu seutuhnya milikku." Chessy tertawa kemudian dengan percaya diri mengatakan, "Itu tidak akan terjadi, aku tidak mungkin jatuh cinta kepada pria playboy seperti Clive." "Kalau begitu lakukan sesuka hatimu. Sebaiknya kita turun, Mama dan Papa pasti telah menunggu." Charly berjalan menuju ruang makan. Benar saja Casey dan Charles telah berada di ruang makan. Pelayan menghidangkan makanan buat mereka. "Bagaimana? Apakah kami akan mendapatkan berita bahagia?" tanya Casey di sela-sela menyuap makananya. "Bisakah kita tidak membahas tentang anak?" Chessy lelah berdebat hari ini. Berdebat dengan Charly ia tidak menang dan sekarang berdebat dengan mertua yang Chessy yakin, ia juga tidak akan menang. "Tentu saja kita harus membahasnya, kalian telah menikah lebih dari 2 tahun." Suara Casey terdengar cukup keras. "Kami tengah mengusahakannya," jawab Chessy. "Biarkan saja, kau tidak perlu ikut campur. Jika kau terlalu keras terhadap Chessy, aku yakin dia akan tertekan dan semakin susah untuk hamil," sela Charles membantu menantunya yang dipojokkan oleh sang istri. Namun, Casey mengabaikan nasehat suaminya. "Apa tidak sebaiknya kalian memeriksakan diri ke dokter?" usul Casey. Ia menatap Chessy kemudian putranya. Chessy teringat saat menemani Charly berobat, dia tidak memeriksakan diri karena merasa kesalahan ada pada Charly. "Atau jangan-jangan kau mandul? Jika kau mandul, sebaiknya izinkan Charly menikah lagi." Perkataan Casey membuat Charly tersedak. "Mama!" "Casey!" Tegur Charly dan Charles. Mereka tidak habis pikir dengan tuduhan Casey. Apalagi Charly, ia tahu sekali, kesalahan bukan terletak pada Chessy. Chessy menghentikan makan dan berjalan menuju kamar dengan kesal. Keesokan harinya, Chessy yang tidak terima dikatakan mandul, mencoba memeriksakan diri kepada dokter. Juga agar ia tidak larut dalam hubungan terlarang bersama Clive. Percuma ia berkali-kali bercinta dengan Clive jika ternyata Chessy sendiri mandul. Hasil pemeriksaan Chessy bagus dan ia subur. Maka, ia akan melanjutkan kondisi ini sampai dirinya hamil. *** Chessy sengaja membuka gorden kamar hotel, agar bisa melihat pemandangan di luar. Cahaya dari gedung-gedung lain yang berada di sekitar hotel menembus kamar Chessy yang memang lampunya dimatikan. Wanita itu hanya mengenakan handuk kimono, duduk di kursi berlengan menghadap jendela. Ini adalah masa suburnya dan wanita berusia 26 tahun itu telah mengirim pesan kepada Clive untuk datang memenuhi janjinya, menanamkan benih di rahim wanita itu. Chessy melirik ponselnya dan melihat jam yang terera di sana. Waktu sudah menunjukan pukul 11.15 malam. Chessy mulai gelisah, mengapa Clive belum juga datang. Apakah pria itu tidak menerima pesannya. Chessy kembali membuka pesan yang telah ia kirim ke pada Clive dan pesan itu telah terbaca. Seharusnya, jika Clive tidak bisa ia memberitahu Chessy. Wanita itu menghubungi Clive. Namun, tidak diangkat, membuat Chessy semakin cemas. Dia seperti biasa memberitahu ibu mertua bahwa pergi ke luar kota untuk bisnis. Wanita itu kembali menghubungi Clive dan kali ini Clive menjawabnya. "Ya!" "Clive kau dimana?" nada sedikit kesal terdengar dari suara Chessy. "Aku di apartemen," jawab Clive terdengar santai. "Apa? Kau tidak membaca pesanku," suara Chessy mulai emosi. "Tentu saja dan aku tidak ingin mengikuti ide gila ini lagi. Silahkan selesaikan urusan rumah tangga kalian sendiri." Clive mematikan ponselnya. Chessy tidak terima dia kembali menghubungi Clive. "Kau tidak bisa mundur begitu saja," hardik Chessy saat telepon telah diangkat. "Kenapa? Kalian tidak punya hak mengatur hidupku." "Tapi kau penyebab suamiku tidak bisa menjadi lelaki seutuhnya," kesal Chessy. "Itu hanya kecelakaan dan saat itu yang membawa mobil adalah Charly, bukan aku. Asal kau tahu," kesal Clive yang selalau dipojokkan. Chessy tidak dapat membayangkan, jika Clive mundur, tentu mereka harus mencari pria pengganti lainnya. Itu tidak boleh terjadi, tubuhnya bukanlah barang yang harus berganti pemilik. Chessy menurunkan egonya. "Clive, tolonglah, tidak mungkin kami mencari pria lain, yang bukan keluarga William," bujuk Chessy. Clive terdiam cukup lama, setidaknya pria itu tidak mematikan telepon. Chessy menunggu dengan cemas. "Clive! Apa kau masih di sana?" ulang Chessy. "Baiklah aku akan membantu kalian, tapi kali ini kau harus menuruti keinginanku. Kau tidak boleh menutup mata--," "Tapi, itu--," "Jika membantah maka silahkan mencari pria lain," ancam Clive. "Baiklah ... Baiklah, kau menang," kesal Chessy, wanita itu berdiri dari duduknya, menahan emosi karena Clive mengancamnya. Chessy sendiri bingung mengapa ia bisa terjebak dalam situasi ini. Bercerai dengan Charly tidak mungkin, keluarga mereka berteman dan sejak orang tua Chessy meninggal dunia. Keluarga William telah menjadi keluarga baru baginya. "Good girl," jawab Clive. "Lalu, apa lagi?" tanya Chessy, ia takut jika Clive melakukan hal yang menyimpang. "Kau cukup melihat bahwa yang melakukan itu denganmu adalah aku, jangan membayangkan suamimu, buka matamu dan hanya melihat padaku. Kau cukup menikmati permainanku," terang Clive. Perkataan Clive yang terakhir, membuat bulu di tubuh Chessy meremang. Entah mengapa wanita itu jadi membayangkannya. Pikiran Chessy telah melayang. Dia menyadarkan diri. "Baiklah," putus Chessy. "Aku akan ke sana secepatnya." -TBC-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN