Belum Juga

1108 Kata
Chessy melihat kalender yang ada di dalam kamarnya. Dia tersenyum karena sudah dua hari ia telat datang bulan dari tanggal seharusnya. Wanita itu mengusap perutnya yang masih datar. "Semoga kali ini berhasil," batin Chessy. Ini adalah kali kedua setelah dia bercinta dengan Clive, dan wanita itu selalu dihantui perasaan bersalah setiap kali melakukannya. Meskipun semua itu adalah ide suaminya sendiri. Tetap saja jiwa setia Chessy yang memegang prinsip hanya suami yang boleh menyentuhnya meronta-ronta. Charly keluar dari kamar mandi dan melihat sang istri tengah berdiri di depan kalender sambil mengelus perutnya. "Apa terjadi sesuatu yang membahagiakan?" Charly melangkah menuju istrinya. Pria itu memperhatikan tanggal yang dilingkari. Charly tepat di belakang Chessy. Chessy membalikan tubuh dan memeluk suaminya. "Aku telat dua hari," bisik Chessy dengan bahagia. Charly mengurai pelukan istrinya dan menatap binar gembira di wajah istrinya tersebut. "Benarkah? Dan apa artinya itu?" Charly tidak terlalu mengerti, telat apa yang dimaksud oleh istrinya ini. "Kemungkinan aku hamil," jawab Chessy, wanita itu meraih tangan suaminya dan melekatkannya ke pipi. "Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya." Namun, yang Chessy tangkap sang suami tidak terlalu senang dengan berita itu. "Apakah Charly kecewa karena anak ini bukan anaknya?" batin Chessy. Wanita itu kembali memeluk suaminya dan berkata, "Jika aku hamil, bisakah setelah ini aku mendapatkan lagi kebebasanku?" Chessy merasa kasihan dengan suaminya itu, meskipun dia menyetujui Chessy memiliki kekasih, tapi pasti hatinya merasa tertekan karena tidak bisa menjadi suami seutuhnya. "Maksudmu? Apakah aku mengekangmu selama ini?" Charly kembali melepaskan pelukan dan menatap tajam sang istri. "Bukan, hanya saja saat melakukan itu, aku merasa sangat bersalah padamu. Oh, Charly, jiwaku merasa tidak tenang setiap kali di sentuh oleh pria yang bukan suamiku." Meskipun tidak dapat dipungkiri kali kedua Chessy telah bisa menikmatinya, bahkan sejak dia melihat wajah Clive diatasnya dan gaya bercinta Clive yang melembut, membuat Chessy kadang-kadang kembali membayangkannya dan menginginkan sentuhan itu. Namun, ia berusaha melawan keinginan tersebut. Makanya Chessy ingin secepatnya hamil, agar ia tidak semakin larut dalam keinginan nafsu yang tidak dapat dipenuhi oleh suaminya. Charly tersenyum ternyata Chessy masih seperti dulu, wanita yang menjaga kehormatannya. "Dengar, kau tidak perlu merasa bersalah, itu hakmu, selama kau tidak meninggalkanku, aku ingin kau bahagia dan menikmati indahnya s*x layaknya istri-istri yang lain," ujar Charly. Perkataan Charly justru semakin membuat Chessy merasa bersalah, dalam hal ini ia merasa telah berselingkuh dan menyakiti suaminya. Hanya saja Chessy tidak mengerti mengapa Charly harus repot-repot memikirkan kehidupan sexnya. "Tetap saja, aku merasa bersalah," sahut Chessy lagi, dia menatap wajah tampan suaminya. "Kalau begitu, terserah kau saja." Charly berjalan meninggalkan Chessy menuju walk in closet. "Aku nanti akan membeli alat tes kegamilan," teriak Chessy. "Pergilah!" sahut Charly dari walk in closet. Ada kekecewaan di hati Chessy, mengapa suaminya tidak mengajaknya membeli bersama dan mengapa Cherly tidak terlalu antusias. Mereka menuju ruang makan, beruntung Charles dan Casey belum di ruang makan. Biasanya mereka selalu menjadi yang pertama. Chessy dan Charly duduk di kursi biasa yang mereka tempati. Casey dan Charles datang, ia melihat ke arah Chessy. Begitu duduk ia langsung meminta pelayan menyajikan hidangan. "Tumben Mama telat sarapan?" tanya Charly memulai pembicaraan. "Insomniaku kambuh, semua gara-gara kalian, terutama kau Chessy." Chessy menatap wajah mertuanya dengan heran, kemudian melirik ke arah Charly seolah-olah meminta penjelasan. Charly hanya mengedikan bahu karena tidak mengerti juga. "Kenapa dengan aku?" tanya Chessy tidak terima. Pagi-pagi mertuanya telah memancing keributan. "Tentu saja, karena kau belum juga memberiku cucu dan kau tahu aku selalu mendapatkan sindiran dari teman-temanku. Sepertinya kau harus membiarkan Charly menikah lagi. Jika Chessy tidak ingin dimadu sebaiknya kalian bercerai saja," cecar Casey. Charly tersedak, Chessy memberinya air putih. Chessy paham mengapa suaminya tersedak. Andai Casey tahu bahwa kesalahan terletak pada putranya. "Casey!" tegur Charles. Casey hanya menoleh sekilas kepada suaminya. "Mama, itu tidak mungkin, aku mencintai Chessy," ujar Charly membela istrinya dan memang ia harus membelanya. "Mama, yakin Chessy pasti mandul." Chessy tidak terima dengan apa yang dikatakan Casey, ia mengambil tasnya, seingat Chessy tes kesuburannya masih ada di sana. Chessy memberikannya kepada Casey. "Apa ini?" tanya wanita itu heran. Namun, tetap menerimanya. "Di sana tertera jelas bahwa aku wanita subur, jadi Mama jangan menyalahkanku lagi," ucap Chessy dengan kesal. "Mama, sabarlah, kami masih terus berusaha," bujuk Charly. "Charly! Apa kau tidak memeriksakan diri bersama Chessy, bagaimana hasilnya?" Casey masih mencecar putranya. "Mama, tenanglah, aku telah telat 2 hari, aku harap aku hamil," ujar Chessy, agar mertuanya tidak memojokan mereka lagi. "Benarkah?" gurat bahagia terlukis diwajah Casey, meskipun wanita itu tidak lagi muda. Namun, kecantikannya masih terlihat jelas. Pantas saja ia memiliki putra-putra yang tampan. "Jadi jangan, mendesak mereka lagi," ujar Charles. "Ini belum pasti, aku akan pergi membeli tes kehamilan nanti sepulang kerja," putus Chessy. "Tidak usah, aku telah menyiapkan alat-alat tes itu, aku telah menunggu lama, siapa tahu kau membutuhkannya," ucap Casey dengan binar bahagia. Ia kemudian memanggil pelayan dan memintanya mengambil alat tes kehamilan. "Sebaiknya kita makan dengan tenang," ucap Charles. Selesai makan, sesuai permintaan Casey, Chessy langsung mencoba alat tes tersebut. Namun, belum sempat Chessy menggunakan alat tes tersebut. Menstruasinya telah datang, Chessy kembali kecewa. Chessy keluar dari kamar mandi. Casey dan Charly yang juga menunggu di kamar, tidak sabar. Sementara Charles telah berangkat ke kantor duluan. "Bagaimana?" tanya Casey. "Menstruasiku baru saja datang," cicit Chessy yang tidak dapat melihat ke arah mertuanya. Casey kesal, kemudian keluar dari kamar putra dan menantunya dengan membanting pintu. Charly meneluk Chessy dan menenangkannya "Tenanglah. Jangan terlalu tertekan, aku yakin suatu saat kau pasti hamil." "Aku baik-baik saja, sebaiknya aku ke butik." Chessy melepaskan pelukan Charly. Entah mengapa dia merasa sangat kesal dan marah. Chessy melajukan mobil, tujuannya hanya satu yaitu kantor Clive. Wanita itu masuk ke dalam ruangan Clive, tanpa mengetuk pintu. "Aku tidak hamil!" Clive yang tengah membuat design bangunan di laptopnya, menoleh ke arah Chessy. "Lalu?" Clive bangkit dari kursi dan menuju arah Chessy. "Tentu saja aku harus curiga padamu? Jangan-jangan kau mandul," tuduh Chessy. Wanita itu mundur saat Clive begitu dekat dengannya. "Aku bukan pria mandul, semua karena kau terlalu kaku dalam bercinta dan tidak relaks," Clive mengukung Chessy. "Jadi maksudmu aku harus bertingkah seperti wanita jalang?" Chessy mencoba melepaskan diri dari kukungan Clive. "Bisa saja, jika kau mau dan itu akan lebih nikmat," bisik Clive sensual ditelinga Chessy. "Jangan harap," sarkas Chessy. "Begini saja, bagaimana kalua kita ke rumah sakit dan memeriksa kesehatanku?" "Oke," jawab Chessy. "Tapi jika aku subur, maka kau harus memenuhi permintaanku," ujar Clive. "Apa itu?" "Nanti saja. Sekarang kau harus berjanji memenuhi permintaanku," Clive melepaskan Chessy, kemudian keluar dari ruangan tujuan mereka adalah rumah sakit. "Baiklah," putus Chessy meskipun berat. Wanita itu mengikuti Clive. Clive melakukan rangkaian pemeriksaan dan menunggu giliran mereka di ruang tunggu. Mereka tidak menyadari sepasang mata memperhatikan mereka. -TBC-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN