Keluar dari kamar putranya dan menantunya, Casey sangat kecewa, padahal saat mendengar Chessy mengatakan bahwa ia telah telat 2 hari. Harapan memiliki cucu terpampang di depan mata Casey. Namun, semua itu sirna saat Chessy keluar dari kamar mandi dan mengatakan bahwa menstruasinya baru saja wanita itu dapatkan. Casey tidak tahu apakah Chessy telah membohonginya dengan berkata telat 2 hari, agar Casey tidak mendesaknya untuk mengizinkan Charly putranya menikah lagi. Wajar jika telat 2 hari belum bisa dikatakan seorang wanita telah hamil. Akan tetapi, keinginan memiliki cucu sangat dirindukan oleh Casey. Ia juga ingin membawa cucunya pada pertemuan dengan teman-teman sosialitanya. Alarm di ponsel Casey berbunyi, membuyarkan lamunanya. Wanita itu bergerak menuju ponselnya. Ternyata alarm jadwal medical check upnya.
Casey mengganti pakaian, kemudian menuju rumah sakit. Casey tidak perlu mengambil lagi nomor antrian. Wanita paruh baya tersebut menunggu namanya di panggil. Tanpa sengaja ia melihat Chessy dan Clive.
"Kenapa Chessy bersama Clive?" batin Casey.
Wanita itu mencoba melihat lebih dekat lagi, takut salah orang. Casey telah hampir dekat ke tempat Chessy dan Clive duduk. Ia memperhatikan jika, tujuan Chessy dan Clive adalah poli obgyn.
"Mengapa mereka ke poli obgyn? Kenapa Chessy bersama Clive, bukan bersama Charly?" batin Casey, semakin banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya.
Casey mencoba lebih dekat lagi, memastikan bahwa itu benar Chessy dan Clive. Namun, nomor antrian Casey dipanggil, wanita itu terpaksa mengurungkan niatnya untuk melihat lebih dekat lagi. Casey masuk dan melakukan rangkaian pemeriksaan. Begitu selesai Casey keluar dari ruangan pemeriksaan.
Wanita itu ingin memastikan kembali penglihatannya. Namun, keberadaan Chessy maupun Clive tidak ada lagi. Ia menuju kantor suaminya. Wanita itu tidak tenang dengan yang dilihatnya di rumah sakit, ia mencurigai jika Chessy dan Clive memiliki hubungan. Casey ingin membertahukan suaminya.
"Casey! Tumben ke kantor? Apa ada yang mendesak?" tanya Charles ketika Casey memasuki ruangannya.
"Ya, dan ini sedikit membuatku tidak nyaman," jawab Casey.
Wanita itu duduk di sofa yang ada di ruangan suaminya. Charles berdiri dan menghampiri istrinya itu.
"Ada apa? Apakah masih tentang Chessy yang belum juga hamil?" terka Charles, karena hanya itu yang selalu menjadi masalah bagi Casey. Pria itu duduk di samping istrinya dan meraih tangan Casey.
"Tidak perlu khawatir. Kita pasti akan memiliki cucu." Charles mencoba menenangkan Casey.
"Bukan!"
"Lalu?"
Casey menarik tangannya dari genggaman Charles.
"Aku melihat Chessy bersama Clive," beber Casey.
"Lalu, apa masalahnya? Mungkin mereka hanya tidak sengaja bertemu." Charles mencoba menenangkan istrinya agar tidak berpikir macam-macam.
"Kau tahu bahwa dari dulu Chessy memang lebih akrab dengan Clive. Mereka bersahabat," lanjut Charles.
Casey sedikit kesal karena suaminya selalu membela Clive dan Chessy.
"Aneh saja, mereka bertemu di rumah sakit dan itu di poli obgyn," sarkas Casey.
"Mungkin hanya kebetulan," jawab Charles.
"Aku hanya tidak ingin Clive merebut apa yang telah menjadi milik Charly," kesal Casey.
"Bukankah semuanya telah menjadi milik Charly? Bahkan Clive tidak itu campur dalam mengelola William Corp," tegas Charles.
"Siapa tahu dia berubah pikiran. Ah sudahlah, sebaiknya aku pergi saja. Berbicara padamu percuma." Casey mengambil tas dan meninggalkan ruangan suaminya.
Wanita itu akan memberitahu Charly, agar Charly waspada. Seperti ke ruangan suaminya, tanpa mengetuk pintu, Casey langsung buka pintu ruangan Charly.
Charly sedang berdua dengan seorang pria di sofa. Charly terkejut saat melihat ibunya datang. Pria itu langsung berdiri dan pamit.
"Siapa dia?" tanya Casey.
"Rekan bisnis," jawab Charly, pria itu berdiri menuju kursi kerjanya.
"Apa Mama tidak bisa mengetuk pintu jika masuk?" terdengar nada kesal dalam suara Charly.
"Mama bukan orang lain. Mama adalah ibumu." Casey menaroh tas di meja dan duduk di sofa.
"Tapi, tetap saja demi kesopanan, Mama harus mengetuk pintu." Charly membuka laptop dan memeriksa laporan yang masuk.
"Jadi, apa yang membuat Mama kesini?" Charly menoleh ke arah Casey sesaat.
"Tentu saja sesuatu yang penting."
"Dan apa itu?"
Casey berdiri dan menuju kursi yang ada di depan Charly.
"Mama melihat Chessy dan Clive di rumah sakit, kau tahu mereka di poli obgyn," beber Casey. Wanita itu menunggu reaksi putranya, seharusnya Charly akan marah dan penasaran.
"Mungkin hanya kebetulan." Charly sebenarnya juga penasaran mengapa Chessy dan Clive ke poli obgyn. Nanti, ia akan bertanya langsung pada Chessy.
"Mama rasa! Pasti ada sesuatu di antara mereka." Charly tidak sengaja menjatuhkan berkas kerjanya setelah mendengar ucapan Casey.
"Mama, yakin kau pasti terkejut. Berhati-hatilah, jaga Chessy, jangan biarkan dia dekat dengan Clive. Secepatnya kalian harus memiliki anak, agar para pemegang saham lainnya percaya padamu. Sebentar lagi Papamu pensiun. Jangan biarkan posisi CEO diambil alih oleh Clive, kau putra pertama. Jadi harus kau yang mengambil alih." terang Casey. Wanita itu duduk di kursi yang ada di depan Charly.
"Tenang saja, tidak ada apa-apa antara Chessy dan Clive," jawab Charly, pria itu membungkukan badan dan mengambil berkas yang terjatuh.
"Tetap saja, kau harus menjaga Chessy dengan baik. Jangan ada skandal yang akan merugikanmu. Tradisi keluarga harus dijalankan, putra pertama harus menjadi penerus keluarga dan kau harus dapatkan kepercayaan pemegang saham. Jangan terlena dengan saham keluarga yang besar. Ingat juga, Clive dan Cheasy juga memiliki saham mereka sendiri." Casey menatap tajam ke arah putranya.
"Mama tenang saja, Clive tidak berminat lagi dengan perusahaan setelah kejadian itu. Sedangkan Chessy, dia sangat setia dan akan selalu mendukungku." Charly mencoba menenangkan ibunya.
"Baiklah, Mama hanya ingin kau jangan lengah." Casey berdiri dan meninggalkan ruangan Charly. Meskipun ia masih kesal, setidaknya putranya sudah diberi peringatan.
Sepeninggalan ibunya, Charly menghubungi Chessy.
"Charly, ada apa?" tanya Chessy diseberang sana.
"Dimana kau sekarang?"
"Aku sedang di jalan, aku tadi habis dari rumah sakit," jujur Chessy.
"Siapa yang sakit?" tanya Charly.
"Aku hanya kecewa karena belum hamil, jadi aku mengajak Clive memeriksakan kesuburannya. Aku tidak mau usaha ini menjadi sia-sia. Aku harus memastikan bahwa Clive juga subur dan bisa membuahi rahimku," beber Chessy.
"Baiklah, hanya saja, berhati-hatilah, saat bertemu dengannya. Jangan sampai menjadi skandal. Kau paham maksudku, bukan?"
"Tenang saja, aku pasti berhati-hati. Sudah dulu, aku masih menyetir."
"Tunggu, lalu bagaimana hasilnya?" tanya Charly sebelum Chessy memutus sambungan.
"Hasilnya belum keluar, mungkin beberapa hari ke depan," jawab Chessy.
"Baiklah, aku mempercayaimu." Charly mematikan telepon. Setidaknya tidak ada yang perlu pria itu cemaskan. Chessy tahu dengan apa yang dilakukannya. Charly tersenyum.
-TBC-