Clive Subur

1060 Kata
Clive mengambil hasil pemeriksaan kesuburannya sendiri di rumah sakit. Chessy tidak bisa menemani karena wanita itu sangat sibuk. Ada clien yang ingin memakai rancangan-rancangan pakaian Chessy untuk dijual di Mall yang akan mereka bangun. Clive membuka berkas yang diberikan dokter setelah sampai di dalam mobil. Dia tersenyum karena memang dokter menyatakan kualitas spermanya baik-baik saja. Jadi Clive memang subur, jika memang istri belum hamil, mungkin mereka harus mengatur jadwal hubungan suami istri, tidak harus setiap hari. Namun, juga tidak sekali sebulan. Pria itu menghidupkan mesin mobil dan mengendarainya menuju butik Chessy. senyuman tidak berhenti dari bibir pria itu. Ia telah menyiapkan rencana, agar bisa mendapatkan Chessy, setidaknya sampai wanita itu hamil. Cuaca sangat cerah, matahari bersinar dengan ceria, seolah mengerti dengan apa yang pria itu rasakan. Kepadatan kota New York, tidak membuat Clive kesal karena hasil pemeriksaan membuat bahagia pemiliknya. Clive membelokan mobil ke arah butik Chessy, pria itu tidak sabar untuk memberitahu Chessy bahwa dia subur. Jadi tidak ada alasan lagi bagi Chessy meremehkannya dan memakinya setiap kali Chessy belum hamil juga. Clive menghentikan mobil di depan butik Chessy, butik itu hanya berupa bangunan dua lantai, lantai satu merupakan etalase yang menyusun pakaian dan juga kamar pas untuk pelanggan, sedangkan lantai dua kantor Chessy dan juga tempat produksi untuk jenis pakaian limited edition. Sisanya Chessy menyerahkannya kepada konveksi untuk menjahitnya, tetap jenis kain apa yang diginakan untuk setiap design wanita itu yang tentukan. Clive keluar dari mobil dengan membawa berkas hasil pemeriksaannya. Ini kali pertama Clive memasuki butik Chessy, sejak Chessy membuka butik, hubungan mereka renggang. Chessy menyalahkannya karena membuat Charly impoten. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya karyawan Chessy ramah, sambil membukakan pintu toko. "Aku ingin bertemu Chessy," jawab Clive masih berjalan ke dalam. "Kalua boleh tahu dengan Tuan siapa? Saya akan memberi tahu nyonya Chessy." Pelayan tersebut masih bersikap ramah. "Clive, saya telah memberitahunya bahwa saya akan datang. Namun, dia tidak membalas pesan saya." Clive berhenti dan menatap pelayan. Seorang gadis berusia sekitar 23 tahun, tidak jauh beda dari Chessy. Gadis itu juga cantik dan ramah. "Silahkan tunggu sebentar, Tuan. Saya akan memberitahu nona Chessy." Pelayan tersebut mengajak Clive untuk duduk di kursi yang ada di sana. Kemudian gadis itu melangkah menuju lantai dua. Tidak lama, gadis itu telah kembali. "Silahkan, Tuan, saya akan mengantar Anda ke ruangan nona Chessy." Clive mengikuti gadis itu, sambil sesekali memperhatikan ruangan butik Chessy. Ternyata wanita itu memiliki selera yang hampir mirip dengan Clive. Cara Chessy mengatur dokorasi ruangan sangat elegan. Pelayan membuka pintu ruangan Chessy, Clive melihat wanita itu masih sibuk dengan sketsa gambarnya. "Nona Chessy!" panggil pelayan. Chessy mengangkat wajah dan melihat kehadiran Clive. "Kau boleh pergi," ujar Chessy kepada karyawannya. Gadis itu menutup pintu dan membiarkan Clive dan Chessy di dalam. "Ruanganmu cukup indah, apa kau mendekorasinya sendiri?" Clive menyapukan pandangan ke seluruh ruangan kerja Chessy. Clive tertarik melihat ada dua pintu lagi di dalam ruangan itu. Clive membuka satu pintu yang ternyata kamar mandi. Tangan Clive telah bersiap untuk membuka pintu satu lagi. "Jangan buka!" larang Chessy, tangan wanita itu telah berada di atas tangan Clive. "Kenapa?" Clive mendekatkan tubuhnya kepada Chessy. "Itu kamar tidur, untuk aku beristirahat jika lelah," jujur Chessy. Clive tersenyum, entah mengapa pikirannya melayang entah kemana. "Katakan saja, kenapa kau ke sini?" Chessy kembali dengan nada tidak ramah. "Tentu saja untuk ini?" Clive menunjukan berkas dari rumah sakit. "Sebaiknya kita membicarakannya di dalam kamar," rayu pria itu tepat di telinga Chessy, membuat bulu di tubuh wanita itu meremang. "Sebaiknya kita berbicara di sana." Chessy menunjuk sofa dan mendorong tubuh Clive yang terlalu rapat padanya. Wanita itu berjalan menuju sofa. Clive hanya tersenyum melihat tingkah Chessy. Pria itu yakin suatu saat gadis ini akan bertekuk lutut padanya. Chessy duduk, diikuti Clive yang duduk di sampingnya. Chessy membentangkan telapak tangan meminta berkas yang masih setia dipegang oleh Clive. Pria itu menyerahkan berkas ditangannya. "Aku subur," beritahu Clive. Namun, Chessy tidak akan segampang itu percaya. Wanita itu membuka berkas dan membaca isinya. Ternyata benar yang dikatakan Clive. Antara lega dan khawatir dirasakan Chessy, wanita itu takut jika Clive meminta sesuatu hal yang aneh. "Katakan! Apa permintaanmu." Chessy menaruh berkas di meja. Gadis itu duduk dengan sopan dan menoleh ke arah Clive. Chessy bersikap layaknya wanita terhormat. "Aku ingin kita melakukan itu seminggu 4 kali," ujar Clive tanpa berbasa-basi. Chessy memelotot kepada Clive, "Empat kali dalam seminggu?" Chessy keberatan dengan permintaan itu, sekali satu bulan saja membuat batin Chessy tersiksa dengan perasaan bersalah. Namun, tidak dipungkiri bahwa dia terkadang merindukan sentuhan Clive. "Ya, jangan risau, itu hanya sampai kau hamil saja," jawab Clive santai. Ia telah lama menginginkan Chessy. Bukan tanpa alasan Clive melakukannya, sejak ia bercinta dengan Chessy, pria itu menjaga hanya berhubungan dengan Chessy. Jika Chessy hanya mengizinkannya melakukan 1 kali dalam sebulan. Tentu membuat Clive tersiksa menahan hasrat. "Itu tidak masuk akal dan itu terlalu banyak," tolak Chessy, wanita itu berdiri dari sofa dan berjalan menatap jendela dari ruang kerjanya. "Itu adalah kondisi pria normal, apa kau ingin aku bersama wanita lain ketika aku butuh penyaluran?" Clive ikut berdiri dan berjalan tepat dibelakang Chessy. Pria itu merasakan aroma parfum Chessy, wanita itu tidak pernah mengganti aroma parfumnya, selalu perpaduan red cherry dan vanila. "Apa? Jadi kau masih berhubungan dengan wanita lain sejak bersamaku?" Chessy membalikan tubuh dan menatap nyalang kepada Clive. "Tenang saja, aku cukup menghormatimu, jadi aku harap kau juga harus bekerja sama denganku." Clive mengelus pipi Chessy menyalurkan sensasi menggelitik diwajahnya. "Aku tidak mau," tolak Chessy, wanita itu menyingkirkan tangan Clive dari wajahnya. "Terserah, jika kau tidak mau, maka silahkan mencari donor s****a dari pria lain, atau kau berusaha saja membuat suamimu berfungsi," maki Clive dengan kesal. "Jangan menghina suamiku." Chessy membalas tidak kalah sengit. "Kalau begitu, silahkan mencari pria lain, aku sudah cukup mentoleransi dengan menjaga agar kau tetap bersih dengan tidak meniduri wanita lain ketika bersamamu." Clive membalikan tubuh berjalan ke pintu. Chessy tidak sanggup jika harus berhubungan dengan pria lain lagi ataupun mengandung benih pria lain melalui bayi tabung, ia akan merasa sangat bersalah kepada kedua mertuanya. "Jadikan dua kali dalam satu minggu," bujuk Chessy. Pria itu berhenti saat tangannya telah mencapi gagang pintu. Melihat Clive belum memberikan reaksi, Chessy menambahkan, "Jangan terlalu kejam, aku belum terbiasa." Clive akhirnya membalikan tubuh dan mendekat ke arah Chessy lagi. "Baiklah, beri aku bonus hari ini." Senyum Clive, ia ingin bersama Chessy di kamar yang ada di ruang kerjanya itu. -TBC-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN