Project

1012 Kata
Clive memakai kembali pakaiannya ketika telah selesai dengan Chessy. Wanita itu memandang Clive dengan marah dan benci, ia benar-benar merasa seperti w************n. Betapa ia merasa hancur karena telah menjalani momen intim dengan pria ini. "Oh Please! Jangan menatapku seperti itu seolah-olah aku memperkosamu," ejek Clive dengan nada yang mencerminkan kejengkelannya terhadap ekspresi Chessy. Pria itu tidak tahan dengan cara Chessy menatapnya. Namun, kata-kata Clive hanya menggali lubang yang lebih dalam di hati Chessy. Ia merasa seperti dipermalukan dan dihina. Ia merasakan keputusasaan karena melibatkan dirinya dalam hubungan yang berujung pada perasaan seperti ini. Meskipun ada bagian dari dirinya yang menyesal dan menghormati Clive karena telah mau membantu mereka dan juga bersedia tidak bersama wanita lain selama berhubungan dengan Chessy. Namun, perasaan marahnya tak bisa dihindari. "Kau memang memperkosaku, menggunakan kesulitanku dan Charly." Chessy melanjutkan dengan suara yang gemetar, masih mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya. Ia tidak akan membiarkan Clive melihatnya hancur. Chessy masih memegang selimut agar tidak lepas, cukup hanya saat bercinta pria itu melihat tubuhnya. "Bukankah, kita saling membutuhkan? Dan aku sudah cukup bertoleransi, dan aku tidak pernah memaksamu. Bahkan aku menghormatimu dengan tidak menyentuh wanita lain," beber Clive. Pria itu tidak ingin memperlihatkan bahwa ia mencintai Chessy. Wanita itu selalu menghina dan menyakiti hatinya. Entah apa yang akan Chessy lalukan jika mengetahui perasaan Clive padanya. Mungkin Clive akan menjadi b***k cinta Chessy. Clive merasa terusik oleh kebencian dalam pandangan Chessy. Meskipun ia ingin melawan perasaan itu, ia merasa tertekan oleh apa yang terjadi di antara mereka. Namun, apa yang diucapkan Clive hanya menambah api kemarahan dalam hati Chessy. "Hormat? Kau bicara soal hormat setelah melakukan semua ini?" serunya dengan nada tajam, semakin merasakan kehancuran di dalam dirinya. Kedua orang itu saling menatap, melepaskan amarah dan perasaan yang terpendam selama ini. Ada begitu banyak luka yang belum sembuh, dan pertemuan ini malah memperbesar rasa sakit. Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat, keheningan hanya terisi oleh suasana tegang. Seketika, sorotan Clive berubah menjadi lebih lembut, meski hanya sesaat. Ada keinginan untuk mengungkapkan sesuatu. Namun ia menahannya. Chessy juga merasakan perubahan itu, meskipun ia enggan mengakui. Ada getar kebingungan dan keingintahuan dalam pandangannya. Tiba-tiba, Clive berbicara lagi dengan suara yang lebih tenang, hampir rapuh. "Aku tahu kau membenciku, dan aku tidak bisa meminta maaf lebih dari ini." Chessy menoleh ke arah Clive dengan tatapan penuh keraguan. Pertemuan ini mengubah segalanya, mengguncangkan dasar perasaan mereka terhadap satu sama lain. Apakah mereka akan mampu melanjutkan hubungan profesional mereka tanpa membawa beban perasaan yang begitu rumit? "Lalu mengapa kau masih saja mengambil kesempatan ini?" Chessy kembali menatap wajah tampan Clive. "Aku telah memberikan semua yang kubisa, atau jika kau ingin membatalkannya dan tetap hanya melalukan satu bulan sekali, maka, izinkan aku bersama wanita lain." Clive mengancingkan kemejanya. "Tidak, aku tidak mau," tolak Cheasy dengan panik. "Kalau begitu terima saja." Clive memsang sepatunya. Kemudian keluar dari kamar Chessy yang ada di ruangan kerja itu. Chessy merasa sangat marah. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa. Wanita itu kemudian mandi dan kembali bekerja. Tidak lama setelah kepergian Clive, investor yang ingin bekerja sama dengan Chessy datang. Ia adalah pria paruh baya berusia sama dengan Charles. Pria itu memiliki jambang yang cukup lebat, berpenampilan seperti aristokrat. Wajar saja karena memang pria itu terlahir kaya raya dari nenek moyangnya. Pelayan mengantarkan investor ke ruangan kerja Chessy. "Tuan Gilbert, senang berjumpa denganmu!" Chessy menyalami tangan pria itu. Biasanya dia hanya berinteraksi dengan pria itu melalui telepon dan email. Semua contoh design pakaian Chessy kirim via email. "Senang juga berjumpa denganmu, ternyata kau masih sangat muda dan cantik," puji Gilbert, pria itu membalas uluran tangan Chessy. "Silahkan duduk." Chessy mengajak Gilbert duduk di sofa dan Chessy berada di depannya. "Apakah perjalanan Anda menyenangkan?" tanya Chessy. Gilbert memang datang dari luar kota yaitu Washinton, DC. Mereka tertarik dengan design pakaian Chessy dan berencana membuka Mall yang juga memasarkan pakaian yang dibuat Chessy. "Begitulah, tapi, mungkin untuk selanjutnya kau yang akan melakukan perjalanan dinas," sahut Gilbert. Chessy menanggapinya dengan senyuman. Mereka membahas tentang perencaan project tersebut. Bahkan Gilbert meminta Chessy untuk ke Washinton. DC dua hari lagi, wanita itu menyetujuinya. Gilbert pamit undur diri dan meninggalkan kantor Chessy. Wanita itu kembali mengerjakan tugasnya. Setidaknya kedatangan Gilbert dengan perjanjian kerja sama mereka sedikit mengobati kekesalan Chessy karena Clive. Tanpa sadar Chessy melihat jam di tangannya, waktu telah menunjukan pukul 7 malam. Wanita itu bersiap untuk pulang, Chessy mengendarai mobil dengan gembira, ia tidak sabar untuk memberitahu Charly tentang project yang baru saja didapatkannya. Chessy memasuki kamar, kemudian mandi ketika keluar dari kamar mandi, wanita itu melihat suaminya telah pulang juga. Charly tengah melepaskan sepatunya. Chessy menghampiri Charly dan memeluknya. "Ada apa?" tanya Charly, dia mencoba melepaskan tubuh Chessy dari tubuhnya. "Aku mendapatkan project dan dua hari lagi aku akan ke Washinton, DC," ungkap Chessy dengan sumringah. "Bagus kalau begitu," balas Charly yang terdengar oleh Chessy sangat cuek. "Aku akan mandi, sebaiknya kau turun untuk makan, sebelum Mama marah." Charly langsung menuju kamar mandi. Chessy kecewa, Charly selalu saja mengabaikannya. Berbeda dengan Clive, setidaknya saat pria itu menyentuhnya. Chessy merasakan perhatian dan kasih sayang dari setiap gerakan pria itu. Chessy mencoba menghilangkan pikirannya yang membandingkan Charly dan Clive. Tentu saja mereka berbeda, Clive adalah playboy, tentu saja dia tahu cara memperlakukan wanita. Itulah yang selalu diyakini Chessy. *** Chessy telah bersiap-siap, hari ini dia akan terbang ke Washinton, DC untuk melakukan perjalanan bisnis. Chessy memastikan isi kopernya cukup untuk 2 minggu. Wanita itu telah meminta Charly untuk mengantarnya ke Bandara. Namun, lagi-lagi sang suami menolaknya. Akhirnya Chessy pergi dengan taxy. Chessy melirik jam di pergelangan tangannya, dia kemudian langsung check in tiket karena sudah sangat mepet. Chessy menaiki pesawat mencari tempat duduknya. Gilbert ternyata investor yang royal terbukti dia memberikan tiket kelas bisnis untuk Chessy. Dia sedikit kecewa karena tidak mendapatkan tempat duduk di dekat jendela. Wanita itu meletakkan tas yang berisi laptop dan beberapa design gambar di atas kabin. Chessy tidak memperhatikan jika ada seorang pria yang duduk di sampingnya. Pria itu menghadap jendela. Setelah selesai Chessy mulai duduk. "Permisi! Apakah kita bisa bertukar posisi," pinta Chessy. Pria itu memutar tubuh menghadap Chessy. "Kau!" -TBC-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN