"Kau!" serempak Chessy dan Clive. Pertemuan ini begitu tiba-tiba, begitu tidak terduga, hingga membuat mereka berdua tak bisa berkata-kata. Wanita itu menatap curiga ke arah Clive.
"Apa kau terlalu terpukau dan bahagia bisa bertemu denganku?" sindir Clive. Pria itu berdiri dari kursinya dan keluar.
"Masuklah," perintah Clive. Chessy yang tadi hanya diam, mulai bergerak ke kursi dekat jendela.
"Apa kau memata-mataiku?" selidik Chessy, ia menoleh ke arah Clive.
"Apa aku begitu memiliki banyak waktu sehingga harus memata-mataimu, dan lagi jika aku harus memata-mataimu, cukup menyuruh orang lain melakukannya tanpa harus membuat repot diriku," terang Clive.
Chessy membenarkan perkataan Clive, mereka akhirnya diam dalam waktu yang lama. Pesawat mulai terbang meninggalkan New York. Chessy menyibukan diri dengan membaca majalah yang ada. Sementara Clive sibuk dengan laptopnya. Sesekali Chessy melirik ke arah Clive. Namun. Pria itu masih saja sibuk membuat sesuatu di laptopnya. Clive kemudian mematikan laptop dan menaruhnya kembali ke dalam tasnya. Clive melirik Chessy yang tengah memejamkan matanya, wanita itu kelihatan sangat mengantuk. Kepala Chessy terantuk di bahu Clive. Pria itu tidak tega dan akhirnya menyandarkan kepala wanita itu dipundaknya.
Tidak terasa waktu 1,5 jam telah terlewati, pilot memberitahu bahwa mereka telah sampai di Bandara Washinton Dulles. Chessy membuka matanya, menguap dengan menutup mulutnya, wanita itu akhirnya menyadari bahwa dia telah tertidur dipundak Clive.
"Maaf, aku tidak sengaja."
Clive hanya diam sembari mengedikan bahunya. Pesawat telah benar-benar berhenti, pramugari telah memperbolehkan penumpang untuk turun. Clive mengambil tas laptopnya, kemudian turun untuk mengambil koper. Chessy mengikuti juga, wanita itu sedikit kesal karena Clive mengabaikannya, bahkan mereka seperti orang asing.
Mereka bertemu kembali ketika sama-sama menunggu bagasi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Chessy ketika ia sampai di dekat Clive dan berdiri di samping pria itu.
"Bisnis," jawab Clive singkat,
Karena Clive menjawab dengan datar, Chessy tidak berminat lagi untuk bertanya. Setelah mendapatkan koper masing-masing, mereka mencari taxy ke tujuan masing-masing.
***
Di balik tirai jendela kamar hotel yang mewah di pusat Washington, DC, Chessy merenung dalam gundah. Cahaya kota yang redup memantulkan kebingungan yang dalam. Bagaimana mungkin, dari semua tempat di dunia ini, ia bisa bertemu dengan Clive di sini? Ekspresi wajahnya yang mencurigakan mencerminkan perasaan campuran yang tengah ia alami.
Chessy berpikir benarkah, Clive tidak mengikutinya. Chessy memang memberitahu Clive bahwa selama 2 minggu ini ia tidak bisa melayani Clive sesuai kesepakatan karena ia ada bisnis keluar kota. Clive hanya membalas oke, tanpa komplen. Padahal Chessy telah bersiap jika pria itu mengajak berdebat.
Perut Chessy berbunyi, ia ingat belum makan, wanita itu beranjak keluar dari kamar.
"Kau!" serentak, kata itu terlontar dari bibir Chessy dan Clive. Mata mereka bertemu, kejutan dan ketidakpercayaan meliputi tatapan mereka. Clive, pria berwajah tegas dengan rambut cokelat gelap, hanya bisa menatap mundur dengan ekspresi takjub.
Namun, yang lebih mengejutkan lagi adalah saat keduanya menyadari bahwa mereka tidak hanya berada dalam hotel yang sama, tetapi kamar mereka pun berhadap-hadapan. Seakan-akan takdir telah memainkan peranannya, mengikat mereka dalam jaring kebetulan yang aneh.
"Aku yakin kau pasti mengikutiku, bukan? Kau tidak rela karena aku tidak melayanimu selama 2 minggu?" tuduh Chessy, ia masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Percaya dirimu terlalu tinggi, anggap saja ini hanya kebetulan." Clive berjalan meninggalkan Chessy. Namun, menghentikan langkahnya dan membalikan tubuh.
"Ngomong-ngomong tentang melayani, sepertinya tidak ada alasan bagimu untuk tidak melayaniku, mengingat kita di kota yang sama bahkan hotel yang sama." Clive menatap Chessy dengan tajam dan tersenyum.penuh arti.
"Aku ke sini untuk bekerja, bukan melayanimu," bentak Chessy. Wanita itu berjalan, ke arah Clive.
"Kurasa pekerjaan tidak membuat kau kesusahan untuk bersamaku, dan ingat siapa tahu di sini justru keberuntungan untukmu, sehingga kau cepat hamil," tawar Clive mensejajarkan langkah dengan Chessy.
"Jangan bermimpi!" Chessy mempercepat langkahnya.
"Aku tidak sepakat denganmu, kita akan melakukannya juga di sini," putus Clive, berjalan meninggalkan Chessy.
"Ketika di New York, kau bilang oke!" teriak Chessy dengan kesal.
"Itu saat di New York karena aku pikir kita pasti tidak bertemu. Namun, sekarang situasi berubah dan tidak ada alasan untuk menghindarinya." Clive menjauh dari Chessy.
***
Berkaca pada cermin, Chessy merapikan rambut cokelatnya dengan tangan gemetar. Kecerobohannya sendiri membuatnya merasa kesal. Bagaimana bisa ia tidak sadar bahwa Clive akan ada di sini? Apakah ini hanya kebetulan biasa, ataukah ada sesuatu yang lebih dalam? Namun pikiran-pikiran rumit tak meninggalkan pikiran Chessy. Ia duduk di sisi tempat tidur yang nyaman, mata memandang keluar jendela tanpa benar-benar melihat. Semua pertanyaan melayang di kepalanya. Mengapa Clive di sini? Mengapa harus di kamar yang berhadap-hadapan? Tidak, ini tidak mungkin hanya kebetulan semata.
Pikirannya melayang ke ruang rapat yang akan datang, di mana semua pihak terkait dalam proyek tersebut akan berkumpul. Chessy memasuki ruang rapat. Wanita itu kembali dibuat terkejut. Clive, dengan segala keberadaannya yang mengejutkan, juga ada di sana. Tengah asik berbicara dengan seorang wanita.
Chessy memasuki ruangan dengan perasaan angkuh, meskipun ia malu, ternyata Clive tidak memata-matainya. Hanya saja rekan bisnis mereka orang yang sama. Chessy mengambil tempat duduk di seberang Clive. Sengaja agar Clive tidak melontarkan ejekan keji terhadapnya.
Gilbert memulai rapat serta memperkenalkan semua orang yang terkait dengan kerja sama dalam pembangunan Mall dan para mitra pengisi tender Mall. Chessy akhirnya mengetahui bahwa, Clive yang akan merancang bangunan Mall tersebut. Chessy sedikit heran mengapa Clive hanya datang sendiri, bukankah seharusnya pria itu membawa salah satu anggotanya?
Chessy juga tahu ternyata wanita yang terlihat akrab dengan Clive adalah Gita, anak dari Gilbert, sang investor utama proyek ini. Wanita itu bukan hanya cantik, tetapi juga cerdas. Senyumannya yang manis, percakapannya yang memikat, semuanya membuatnya menjadi pusat perhatian.
Perasaan cemburu mulai merayap di dalam diri Chessy. Ia tak bisa membendung gejolak perasaan yang muncul begitu saja.
Apalagi Gita, yang akan menjadi PIC proyek tersebut, terlihat tertarik kepada Clive dan terang-terangan memonopoli Clive. Selesai rapat mereka berbincang-bincang dengan pembahasan ringan.
Gilbert mengajak Chessy bergabung dengan Clive dan Gita.
"Nona Chessy, ini adalah Clive, dia berasal dari New York juga." Gilbert memperkenalkan Chessy dengan Clive. Beruntung Gilbert tidak menyadari bahwa Clive adalah adik iparnya karena dalam pekerjaan Chessy tetap memakai nama lahirnya.
Gita melirik Chessy, terlihat sedikit cemburu karena ada gadis muda lainnya yang bisa menjadi saingannya dalam menarik perhatian Clive.
-TBC-