Gita merasa detak jantungnya berdebar kencang saat ia mendekati ayahnya, Gilbert, di ruang kerjanya. Ia sudah merencanakan kata-kata dengan hati-hati sepanjang pagi ini. "Papa!," ujarnya, "aku harus berbicara denganmu tentang sesuatu."
Gilbert mengangkat alisnya dengan cemas. "Apa terjadi sesuatu?"
Gita menelan ludahnya sebelum melanjutkan, "Aku tertarik dengan Clive, Papa!"
Gilbert tersenyum, merasa lega. Ia memahami jika putrinya itu tertarik dengan Clive, secara pria itu adalah pria cerdas dan pintar, juga tampan. Semua yang diinginkan wanita ada pada pria itu.
"Jika kalian berdua cocok, itu bisa menjadi hubungan yang menguntungkan secara pribadi dan profesional."
Gita merasa lega mendengar dukungan ayahnya. Ia memiliki rencana lebih lanjut untuk mendekatkan dirinya dengan Clive.
"Masih terlalu dini untuk mengetahui kecocokan kami, terutama perasaan Clive. Papa tahu kami baru mengenal." Gita duduk di depan kursi ayahnya.
"Kalau begitu, Papa hanya bisa memberikan dukungan padamu," jawab Gilbert.
"Aku berencana mengadakan pesta untuk menyambut kedatangan tim yang terlibat dalam pembangunan Mall kita. Bagaimana menurut Papa?"
Gilbert tersenyum, pria itu yakin bahwa putrinya itu hanya modus mengadakan pesta buat tim, padahal tujuannya adalah Clive.
"Terserah padamu, kau atur saja," jawab Gilbert.
"Tentu, Papa. Aku senang Papa mendukungku." Gita berdiri dan bersiap untuk mencium pipi Gilbert.
"Apapun akan Papa lakukan untuk putri tersayang, Papa ini." Gilbert tersenyum kepada putrinya itu.
Gita memeluk ayahnya dengan perasaan bahagia.
"Kalau begitu, aku harus segera mempersiapkan semuanya." Gita meninggalkan ruangan ayahnya dan berjalan dengan bahagia.
***
Gita mengadakan pesta yang akan berlangsung di ballroom hotel. Sebagai dalih, ia mengatakan bahwa itu adalah acara menyambut kedatangan rekan bisnis yang membantu proyek. Hanya Gilbert yang tahu maksud diadakannya pesta itu.
Ketika malam pesta tiba, Gita memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Ia mengenakan gaun yang elegan dan memasuki ballroom dengan percaya diri. Clive sudah ada di sana, berbincang dengan beberapa tamu. Gita dengan sengaja mengarahkan langkahnya ke arah pria itu.
"Hi Clive!" sapa Gita.
"Kau kelihatan memukau dengan gaun itu," puji Clive, membuat Gita tersenyum malu-malu, wanita itu menutup mulut, menepuk lengan Clive dengan menggoda.
"Kau bisa saja."
"Nona Gita, terima kasih telah mengadakan pesta ini untuk kami, Anda dan Tuan Gilbert sangat royal," puji rekan bisnis lain yang berada di rombongan mereka.
Chessy memasuki ballroom, wanita itu tidak menyangka akan ada pesta, ia tidak menyiapkan pakaian untuk pesta. Namun, bukan Chessy namanya jika tidak bisa mengakali pakaian yang ia bawa menjadi gaun pesta.
"Apa karena Nona Chessy seorang perancang busana sehingga apapun yang dikenakannya selalu memukau," puji seorang pria, membuat Gita menjadi waspada.
Chessy bergabung dengan para tamu lainnya, berbeda dengan rombongan Clive.
"Clive, apakah Anda lajang?" tanya salah satu wanita rekan bisnis, wanita itu berusia sekitar 40 tahun. Namun, terlihat masih muda dan fresh.
Gita juga menunggu jawaban dari Clive. Pria itu tersenyum dan menjawab,
"Begitulah." Clive mengambil minuman yang dibawa oleh pelayan.
"Bagaimana dengan kekasih?"
Chessy yang berdiri tidak jauh dari Clive juga memasang telinga agar bisa mendengar pembicaraan.
"Aku tidak memilikinya juga," jawab Clive, pria itu meneguk minumannya.
Entah mengapa jawaban Clive membuat Chessy kesal. Wanita itu merasa seolah-olah Clive tidak menganggap hubungan mereka.
"Nona Chessy!" tegur seorang pria di rombongan Chessy. Pria itu tengah berbicara dan meminta pendapat Chessy. Namun, sayang pikiran wanita itu tidak berada di sana.
"Oh, Maaf, apa yang Anda katakan tadi?" tanya Chessy.
"Dia memuji Anda sangat cantik, Nona." Rekan bisnis wanita yang berada di rombongan Chessy mewakili pria itu. Chessy tersenyum dengan malu.
"Terima kasih." Hanya itu yang dapat Chessy katakan.
Seiring berjalannya pesta, Gita terus mendekati Clive. Mereka tertawa dan berbicara tentang berbagai hal. Sangat terlihat sekali bahwa Gita selalu mencoba menarik perhatian Clive. Chessy yang berdiri di dekat Clive, tatapan matanya sesekali memperhatikan Clive dan Gita dengan rasa tidak enak.
"Dasar pria," gerutu Chessy yang dapat didengar oleh pria di rombongannya.
"Kenapa dengan pria?" tanya pria rekan bisnis itu, pria itu bernama Owen.
"Ah tidak apa-apa," elak Chessy.
"Saya pikir, Anda kesal dengan seorang pria," sahut Owen yang berada di depan Chessy.
"Tentu saja tidak." Chessy membela diri.
"Apa Anda mengenal Clive dengan dekat?" tanya Owen lagi. Pertanyaan itu cukup membuat Chessy kelimpungan menemukan jawaban yang cocok.
"Tentu saja tidak. Hanya saja beberapa kali bertemu saja," bohong Chessy.
Mereka melanjutkan obrolan seputar proyek dan harapan agar proyek ini berhasil. Mereka juga memuji royalitas Gilbert sebagai pengusaha sukses. Mata Chessy masih sesekali memperhatikan Gita dan Clive, meskipun hal itu menyulut kekesalan dalam diri Chessy.
"Aku permisi sebentar," ujar Clive dengan sopan
Gita sudah akan bertanya. Namun, Clive telah beranjak meninggalkan rombongan mereka. Pria itu berjalan ke arah toilet.
Chessy melihat peluang untuk mengutarakan perasaannya. Ia mengikuti Clive dengan langkah hati-hati. Setelah mereka berdua di pintu toilet, Chessy tidak bisa menahan rasa cemburunya.
"Kau terlihat akrab dengan Gita?" sindir Chessy.
Clive menghentikan langkahnya untuk memasuki toilet.
"Jadi kau mengikutiku hanya untuk memberitahukan hal ini?"
Chessy menjadi gugup, apakah sangat kentara bahwa ia cemburu sehingga mengikuti pria ini ke toilet?
"Tentu saja tidak, aku memang memikiki tujuan ke sini," elak Chessy, wanita itu menghindari tatapan Clive yang menyelidikinya.
"Ya dan tujuanmu adalah untuk mengatakan penilaianmu terhadap aku dan Gita," todong Clive.
"Jangan terlalu percaya diri, lagian aku hanya mengatakan apa yang aku lihat," dalih Chessy.
"Bukankah itu hal yang wajar?" pria itu menoleh ke arah Chessy.
"Oh Clive, apakah kau begitu naif sehingga benar-benar tidak sadar kalau Gita mencoba mendekatimu? Aku tahu apa yang dia coba lakukan."
Clive terkejut oleh komentar tajam Chessy. Ia mengerutkan kening, mencoba memahami apa yang terjadi.
"Chessy, kau cemburu?"
Dengan wajah tegang, Chessy menatap Clive.
"Cemburu? Aku tidak cemburu! Aku hanya ingin kau tahu apa yang dia lakukan. Dan semua orang dapat melihat bahwa dia menyukaimu," beber Chessy.
Clive menyadari bahwa perasaan Chessy lebih dari sekadar hubungan teman tidur. Jika Chessy benar-benar cemburu maka itu hal yang sangat menyenangkan bagi Clive. Bolehkah pria itu berharap jika suatu hari Chessy akan mencintainya? Clive tersenyum lembut.
"Chessy dengarkan aku." Clive mendekat ke arah Chessy mengikis jarak mereka.
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa Gita dan aku hanyalah rekan bisnis. Tidak ada yang lebih," lanjut Clive, pria itu meraih pinggang Chessy, membuat wanita itu terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" Chessy menjadi gugup.
"Jangan cemburu maupun berpikiran yang aneh." Clive menatap tajam pada mata Chessy.
Namun, jawaban Clive tidak meredakan perasaan Chessy. Wanita itu masih mempertahankan harga diri.
"Sekali lagi kukatakan, aku tidak cemburu, kau terlalu percaya diri."
Dengan gerakan frustasi, wanita itu meninggalkan toilet dan kembali ke pesta dengan hati yang dongkol. Di dalam hatinya, ia mengakui bahwa perasaan cemburu telah menguasainya. Namun, Chessy kembali mengingatkan diri bahwa hubungannya dengan Clive tidak boleh ada perasaan yang bermain didalamnya.
-TBC-