Menolong Clive

1002 Kata
Dengan langkah hati-hati, Clive berjalan kembali ke dalam ruangan pesta setelah sejenak menghilang ke toilet. Wajahnya masih mencerminkan ketidakpercayaan akan kejadian beberapa menit yang lalu. Tumpahan anggur merah yang sengaja dilakukan Chessy hanya karena wanita itu mengira Gita memasukan sesuatu ke dalam wine membuat jas hitamnya kini terlihat seperti kanvas lukisan yang dihiasi warna-warna merah dan ungu yang berbau manis. Mata Clive sejenak melintas ke sekeliling, mencari pandangan wajah-wajah yang mungkin sempat menyaksikan kejadian canggungnya. Namun, tak ada ekspresi aneh atau cemoohan yang ia temui. Orang-orang tetap asyik dengan obrolan dan tawa mereka, seolah-olah momen tumpahan anggur tadi tak pernah terjadi. Dengan langkah mantap, Clive berjalan menuju ke tengah ruangan. Pria itu mencari keberadaan Chessy. Namun, wanita itu tidak lagi berada di pesta. Tidak mungkin Chessy di toilet karena Clive yakin wanita itu berjalan menuju ruangan pesta. Gita datang menghampiri Clive dan mengajak bergabung kembali dalam percakapan yang tengah berlangsung. "Ternyata cukup berbekas," ujar Gita memperhatikan jas Clive yang ditempeli warna anggur merah. "Tidak masalah, hanya sedikit noda dan mungkin ini bisa menjadi motif tambahan pada jasku." Clive ikut melihat ke jasnya itu. "Aku tidak mengerti bagaimana nona Chessy begitu sangat ceroboh, seharusnya dia berhati-hati," kekesalan keluar dari ucapan Gita. Rasa kesalnya itu lebih karena Chessy membuat rencana Gita gagal. "Ngomong-ngomong tentang Chessy, aku tidak melihat dia." Clive tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya karena puncak hidung Chessy tidak terlihat lagi. "Dia pamit karena merasa pusing dan memutuskan untuk beristirahat," jawab Gita. "Ternyata begitu." Setidaknya Clive merasa lega, Chessy tidak melakukan hal bodoh karena perasaaan cemburunya, seperti yang dipikirkan Clive. "Bagaimana jika kita berdansa?" tawar Gita. Clive melihat ke arah lantai dansa, dimana sebagian tamu telah berdansa. "Aku rasa itu bukanlah hal yang bagus, aku tidak terlalu pandai melakukannya," tolak Clive, pria itu memang tidak suka melakukan hal-hal seperti itu. "Oh please, Clive. Itu hanya dansa?" bujuk Gita. Pria itu menimbang dan akhirnya memutuskan, "Mungkin tidak ada salahnya." Clive dan Gita menuju lantai dansa. Mereka berdansa dengan elegan. Begitu musik berhenti, Gita mengajak Clive untuk mencari camilan dan duduk bersantai di sebuah sofa. Gita memanggil pelayan, agar memberikan mereka minuman. Clive yang merasa haus, meminum wine. Mereka berbicara seputar pekerjaan. Clive merasa tiba-tiba gerah, pria itu melonggarkan dasinya. "Clive!" panggil Gita, dia menatap Clive dengan seksama melihat apakah reaksi minuman tersebut telah bekerja. Ya, Gita telah menyuruh pelayan memasukan obat perangsang ke dalam minuman mereka. Namun, Gita tidak meminumnya, hanya berjaga-jaga. Jika Clive mengambil gelas yang lain. "Clive!" panggil Gita sekali lagi. Pria itu melihat ke arah Gita. Apalagi tangan Gita yang memegang paha Clive, membuat sentuhan tersebut semakin menambah panas dalam tubuh Clive. Pria itu masih sadar, ia teringat akan ucapan Chessy tentang minuman yang diberi obat oleh Gita. Apakah wine tadi juga diberi obat oleh Gita? Namun, tidak mungkin mengingat Gita bersamanya. Kapan wanita itu memasukan obat itu ke dalam minuman? Clive harus segera pergi dari pesta. "Gita, aku merasa tidak enak badan, aku akan kembali ke kamar saja." Clive berdiri dan mulai menjauh dari Gita. Namun, wanita itu memegang tangan Clive. "Aku akan mengantarmu, kau terlihat, tidak baik-baik saja." Gita sengaja mengelus lengan pria itu, memberi percikan api di dalam tubuh Clive semakin besar. Pria itu berusaha melawannya, tidak mungkin ia membiarkan Gita mengantarnya ke kamar, yang bisa dipastikan apa yang akan terjadi. "Nona Gita, ayo kita berdansa?" seorang pria rekan bisnis lainnya, datang tepat waktu. Sekalipun Gita kesal, ia tidak bisa menolaknya. Si pria langsung menarik tangan Gita menuju lantai dansa. Kesempatan itu digunakan Clive. Pria itu langsung keluar dari ballroom menuju kamarnya. Sekuat tenanga Clive mencoba memgendalikan dirinya. Clive telah berada di depan kamar Chessy, tadinya pria itu akan ke kamarnya dan mencoba mandi, untuk menghilangkan sedikit dari gejala itu, tapi Clive ingat itu tidak akan membantu. Pria itu mengetuk pintu kamar Chessy, wanita itu membuka pintu dan melihat Clive berada di depan kamarnya dengan wajah sedikit kacau. "Clive? Ada apa?" tanya Chessy heran. Ia ingin beristirahat karena besok mereka akan mengunjungi lokasi proyek. Wanita itu tidak ingin terlalu kelelahan. "Kau benar, izinkan aku masuk." Tanpa menunggu jawaban Chessy, pria itu langsung mendorong tubuh Chessy ke dalam kamar dan menguncinya. "Benar? Tentang apa?" Chessy tadi sempat tertidur, jadi ia tidak lagi memikirkan apa maksud Clive sekarang. "Tentang Gita, yang memasukan sesuatu ke dalam minumanku," jawab Clive ia berjalan dan dengan lancang duduk di ranjang Chessy. Wanita itu akhirnya sadar, "Maksudmu, kau meminum wine lain yang diberi obat, lalu apa reaksinya?" karena Chessy hanya tahu Gita memasukan sesuatu. Namun, wanita itu tidak tahu apa itu. "Ya!" Clive berdiri kembali karena Chessy hanya berdiri di depannya. Pria itu mendekat ke arah Chessy mengikis jarak diantara mereka dan merangkul pinggang ramping wanita itu yang hanya mengenakan pakaian tidur transparan. "Apa yang kau lakukan." Chessy tersentak dengan kelakuan Clive. Wanita itu mencoba menyingkirkan tangan Clive yang menurut Chessy kurang ajar. "Kau harus membantuku, minuman itu aku yakini telah diberi obat perangsang." Clive membelai pipi Chessy, tatapan penuh gairah terpancar di wajah pria itu. "Tidak! Sesuai kesepakatan hari ini tidak ada jatah bagimu." Chessy menjauhkan diri dari tubuh Clive. Namun, pria itu tidak melepaskannya. "Please Chessy, aku tidak ingin mencari wanita lain atau memaksamu atau sebaiknya aku menyerahkan diri kepada Gita saja." Clive masih berusaha untuk tidak melakukan hal bodoh. Chessy memandang wajah pria itu dan memberikannya tatapan tajam. "Dasar bodoh," maki Chessy. "Terserah kau mengatakan apa, yang penting bantu aku sekarang," mohon Clive. "Baiklah, tapi jatahmu berkurang," sahut Chessy. "Tidak masalah." Pria itu langsung mencium wanita itu dengan mendesak. Sementara Gita, akhirnya terlepas dari rekan bisnis yang mengajaknya berdansa. Ia kemudian mencari sosok Clive, sayang Clive tidak ada lagi dipesta. Gita menyusul Clive ke kamarnya. Dia meminta kunci kepada resepsionis, karena memang Gita yang membooking kamar untuk tamunya, maka resepsionis memberikan kunci lain kepada Gita. Gita membuka kamar Clive dengan perasaan tidak sabar. Namun, kekecewaan menyelimuti hatinya karena Clive tidak ada di ranjangnya. "Clive!" panggil Gita. Dia melihat ke kamar mandi, bisa saja pria itu sedang mencoba menyalurkan hasratnya sendiri, ternyata kosong. Gita kecewa kemana pria itu pergi dan bersama siapa? -TBC-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN