Part 2 Pelajaran Pertama

752 Kata
Tisha bukan wanita bodoh yang hanya bisa pasrah mendapat perlakuan tak menyenangkan dari suaminya. Sebelum meninggalkan Arga di ruangannya, Tisha meraih ponsel suaminya yang tergeletak di meja. Ternyata ponsel tersebut berbeda dengan ponsel yang biasa Arga gunakan. Mungkin memang ponsel itu khusus hanya untuk menghubungi ja**ngnya. Benar saja, setelah di periksa memang hanya ada satu nomor kontak di sana. Dan yang lebih membuat Tisha muak adalah nama kontak tersebut yaitu 'Gadisku'. Jemari Tisha menekan salah satu kontak di ponsel miliknya. Tak berapa lama panggilanpun tersambung. "Aku ingin bertemu sekarang." Ucap Tisha dengan pandangan tetap fokus pada jalanan. "Baiklah, kau kirimkan saja alamat tempat kita bertemu." Sahut suara di sebrang telepon. "Ya." Tisha memutus sambungan teleponnya. Setelah cukup jauh menempuh perjalanan, Tisha membelokan mobilnya ke sebuah cafe. Di dalam, seorang pria tengan duduk santai menikmati secangkir espresso. Tanpa basa-basi Tisha duduk di hadapan pria tersebut dan menyerahkan ponsel milik Arga padanya. "Cari tau tentang pemilik nomor kontak yang ada di ponsel itu." Tisha berkata datar tanpa ekspresi. "Untuk apa?" Tanya Si Pria. "Lakukan saja perintahku! Satu lagi, jangan katakan apapun pada Papa tentang penyelidikan ini." Jawab Tisha. Pria itupun hanya menatap wajah Tisha yang datar. Tapi dia sudah bisa menduga bahwa Tisha sedang tidak baik-baik saja. "Pesanlah makanan dulu. Wajahmu sangat pucat, pasti kau belum makan." Ucap Pria itu. "Zack tolong carikan Apartemen yang tak jauh dari sekolah Alyta. Tapi hanya untuk sementara saja." Alih-alih menjawab Tisha justru memberi perintah lagi. "Apartemenku cukup dekat dengan sekolah Alyta. Kau bisa tinggal disana kalau hanya sementara." Sahut pria bernama Zack tersebut. Tisha mendelik menatap Zack seolah tak suka. Zack cukup mengerti arti tatapan wanita itu. "Kau tak perlu khawatir, aku akan tinggal bersama Marwan sementara kau menempati Apartemenku." Ucap Zack kemudian. "Baiklah, aku akan pulang dulu sekarang. Oh ya, aku ingin informasi itu secepatnya." Ucap Tisha sambil menunjuk ponsel yang ia berikan tadi. Tisha pun kembali mengendari mobilnya. Dia yakin Zack bisa di andalkan. Zack adalah salah satu ajudan Papanya yang seorang pejabat. Tisha sangat tau seberapa cerdasnya Zack. Bahkan Papanya sudah menganggap Zack seperti anaknya sendiri. Dia selalu bisa diandalkan dalam urusan apapun. ??? Tiba di rumah, Tisha melihat mobil Arga sudah terparkir rapi di garasi. Tisha pun berdecih menatap mobil suaminya tersebut. "Sayang kita bisa bicarakan ini semua secara baik-baik." Arga menarik tangan Tisha saat Tisha masuk dan melewatinya begitu saja. Tisha menatap jengah pada Arga. Dia rasa tak perlu mendengar apapun dari Arga. Karena sudah bisa di pastikan Arga akan mengaku khilaf atau melakukan pembelaan diri atas kesalahannya. "Kalau kau mau bicara, ya bicara saja. Aku belum tuli, aku bisa mendengar semua ucapanmu dengan sangat jelas." Sarkas Tisha. Arga menghela nafas, kini ia mendengar Tisha menyebutnya 'kau'. Itu artinya Tisha benar-benar marah padanya. "Aku akan meninggalkanya." Arga tertunduk. "Terserah kau saja. Aku tidak peduli." Ucap Tisha lalu meninggalkan Arga. Tisha segera mengemasi baju-bajunya kedalam koper. Setelah itu ia juga meminta pengasuh Alyta membereskan barang-barang milik Alyta. Saat hendak keluar, ponselnya berbunyi memunculkan nama Zack. Tisha tersenyum miring. Ia tau kalau Zack pasti sudah mendapat informasi tentang wanita yang jadi selingkuhan suaminya. "Ya." Tisha berkata setelah menekan icon warna hijau di ponselnya. "Dia seorang model. Karirnya sedang menanjak saat ini. Ku rasa dia hanya memanfaatkan suamimu untuk mendongkrak popularitasnya." Sahut Zack. "Kau tau apa yang harus kau lakukan padanya. Aku hanya ingin mendengar kata 'beres' darimu." Tisha memutus sambungan teleponnya dengan Zack. Tisha berjalan menuruni tangga sambil menggeret koper besarnya. Tisha juga sudah meminta pengasuh Alyta untuk membawa Alyta menunggu di dalam mobilnya. Arga terkejut saat mendapati Tisha turun dari tangga dengan membawa koper besar. Ia segera menghampiri wanita itu untuk mencegahnya. "Sayang, kau mau kemana? Aku mohon jangan pergi. Apa kau tega meninggalkan aku dan Alyta." Arga berusaha menahan kepergian Tisha. "Tentu saja aku tidak tega meninggalkan Alyta. Karena itu aku juga akan membawanya." Ujar Tisha acuh. Tisha segera melangkah, ia tak peduli lagi dengan apapun yang akan di katakan suaminya. Baginya tak ada kata maaf untuk sebuah penghianatan. Arga pun terus mengejar Tisha. Ia tidak ingin Tisha pergi. Dia benar-benar menyesali perbuatannya. Namun sayang penyesalannya datang terlambat. "Tisha, sayang aku mohon maafkan aku. Aku akan perbaiki semuanya. Beri aku kesempatan sayang, aku mohon." Arga terus saja mengejar langkah Tisha yang terburu-buru itu. Tisha mengabaikan Arga. Dia bahkan enggan menatap pria itu sedikitpun. Tisha sangat muak terhadap Arga. Tak sepantasnya Arga menyesali perbuatannya. Seharusnya Arga berpikir sebelum bertindak. Setelah ini, baik Arga ataupun wanita selingkuhanya itu akan tau siapa yang sedang mereka hadapi. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN