"Kita mau kemana Ma?" Tanya Alyta saat Tisha masuk ke dalam mobil.
"Kita tinggal di Apartemen dulu ya sayang." Jawab Tisha.Sebenarnya Tisha juga bingung mau menjelaskan apa pada Alyta.
"Kenapa tinggal di Apartemen Ma?"
"Tidak apa-apa nak. Hanya mencari suasana baru saja. Sekarang Mama mau fokus nyetir ya nak. Jadi jangan tanya apa-apa lagi."
Alyta pun terdiam. Dia tidak mengerti dengan yang terjadi pada orang tuanya.
Tisha menghentikan mobilnya di parkiran gedung Apartemen. Rupanya Zack sudah menunggu kedatangannya.
Zack segera menghampiri mobil Tisha. Ia membantu menurunkan koper besar milik Tisha dari bagasi.
"Biar aku yang bawa kopernya. Kau bawalah Alyta lebih dulu." Kata Zack.
Mereka pun berjalan memasuki gedung Apartemen tersebut. Tisha menuntun Alyta berjalan di depan, dibelakangnya pengasuh Alyta membawa koper pribadinya dan terakhir Zack yang paling belakang mengeret koper Tisha.
Zack membukakan pintu Apartemennya setelah memasukan kata sandinya.
"Silahkan masuk, di sini ada dua kamar tidur. Kau bisa menempati kamar utama dan kamar yang satu lagi bisa ditempati Mbak Hasna." Ucap Zack seraya menggiring tiga perempuan yang akan tinggal di Apartemennya.
"Terima kasih Zack, kau tidak bicara apapun tentangku kejadian ini pada Papa kan?" Tanya Tisha. Zack pun mengangguk.
"Ya sudah aku pergi dulu. Kalau kalian butuh sesuatu jangan sungkan menghubungiku." Zack pun pamit pergi.
???
"Hasna, untuk sementara kita tinggal di sini. Ingat kau tidak boleh memberi tau siapapun kalau kita tinggal di sini." Tisha mengingatkan pengasuh Alyta.
"Iya Bu." Hasna pun mengangguk.
Pandangan Tisha beralih pada putri kecilnya yang terlihat bingung. "Sayang, kau mandilah dengan Mbak Hasna. Mama akan siapkan makan malam untuk kita."
Alyta pun mengangguk, kemudian dituntun oleh Hasna ke kamar mandi.
"Mbak, kenapa kita pindah kesini?" Alyta bertanya pada Hasna. Dia masih penasaran dengan kepindahan mereka.
"Anggap saja kita sedang liburan, ayo mandi." Jawab Hasna dan kembali melanjutkan langkah mereka.
"Liburan kok deket sih Mbak? Seharusnya kalau liburan itu kita keluar kota Mbak." Keluh Alyta.
"Liburan itu gak perlu jauh-jauh sayang. Yang dekat juga bisa." Hasna pun bingung harus menjelaskan apa. Dia pun tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada majikannya.
Alyta pun memberengut karena tidak puas dengan jawaban Tisha maupun Hasna.
Tisha membuka lemari es milik Zack, ternyata banyak sekali bahan makanan. Lemari es dua pintu itu nampak penuh. Tisha pun mengambil beberapa sayuran dan daging untuk di masak.
Setelah itu dia beralih membuka lemari dapur, bumbu-bumbu pun tersedia lengkap di sana. Tisha berpikir apakah Zack sering memasak sendiri atau sengaja menyiapkan semuanya untuk Tisha. Zack sangat tau kalau Tisha gemar memasak.
Segera setelah semua bahan siap, Tisha mengolahnya menjadi masakan lezat. Biasanya Tisha selalu memasak makanan kesukaan Arga. Arga jarang makan diluar kecuali bersama Tisha dan Alyta.
Tisha menengadah menahan sesak kala mengingat Arga. Dia berpikir sebenarnya apa yang kurang dari dirinya sampai suaminya mencari kesenangan dengan wanita lain. Tisha pun menghela nafas kemudian kembali berkutat dengan masakannya.
Usai memasak, Tisha membersihkan diri. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin berharap kobaran api di pikirannya segera padam. Setelah itu Tisha, Alyta dan Hasna menyantap makan malam mereka.
Tak ada yang bersuara di meja makan tersebut. Tisha sendiri bahkan hanya mengadu-aduk makanannya. Setelah itu Tisha mengajak Alyta untuk tidak dan menyuruh Hasna istirahat.
???
Semalaman Tisha tak bisa tidur, ia gelisah memikirkan langkah apa yang akan ia tempuh selanjutnya. Apakah ia harus menggugat cerai pada Arga? Lalu bagaimana dengan Alyta? Bagaimana pula dengan Papanya? Apa yang harus ia katakan pada Papanya?
Kriiiiing..
Bunyi dari ponsel Tisha. Ia segera meraihnya melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini. Ternyata Mamanya.
"Hallo Ma." Sapa Tisha
"Happy Anniversary sayang. Semoga kalian bahagia selalu ya. Mama selalu berdoa untuk keutuhan rumah tangga kalian." Sahut Mama Tisha dengan gembira.
Tisha tersenyum getir mendengar ucapan selamat dan doa dari Mamanya tersebut. "Iya Ma terima kasih atas doanya."
"Kalian ingin kado apa dari Mama?"
"Tidak usah Ma. Tisha sudah punya semuanya kok."
"Jangan begitu dong sayang. Bagaimana kalau tiket bulan madu saja?"
"Kami bukan pengantin baru Ma."
"Tisha, Alyta kan sudah besar, sudah waktunya dia punya adik. Kalian pergilah berbulan madu lagi. Biar nanti Alyta sama Mama dulu."
Tisha bingung harus bicara apa lagi. Haruskah ia mengatakan kalau Arga sudah selingkuh? Arga terlalu sempurna di mata Mama dan Papanya. Apakah mereka akan percaya begitu saja?
"Terserah Mama saja. Sudah dulu ya Ma, Tisha mau siapin sarapan dulu."
"Iya sayang."
Setelah panggilan berakhir, Tisha menelungkupkan wajahnya di meja makan. Sesak sekali dadanya namun ia tak ingin menangis. Ia tak mau terlihat lemah.
Hasna yang melihat majikannya menyembunyikan wajahnya pun mendekat.
"Bu."
Tisha mendongak menatap Hasna.
"Ibu kenapa?" Tanya Hasna pelan.
"Tidak apa-apa Hasna."
"Kalau Ibu ada masalah, Hasna mau kok jadi teman curhat Ibu."
"Saya tidak apa-apa Hasna. Memangnya saya kenapa?" Ketus Tisha.
"Maaf Bu kalau Hasna terkesan ikut campur. Hasna cuma tidak mau melihat Ibu menanggung luka sendirian."
Tisha menatap wajah Hasna.
"Kalau Ibu merasa sesak, tumpahkanlah Bu. Jangan dipendam sendiri. Hasna tidak tau Ibu ada masalah apa, tapi Hasna bisa melihat kalau Ibu sedang tidak dalam keadaan baik."
Hasna menggenggam tangan Tisha yang dingin.
"Menangislah Bu. Ibu tak akan menjadi lemah hanya karena menangis. Saat beban yang kita pikul dibagi dengan orang lain, saat itu kita bisa lebih kuat. Kita bisa melangkah lebih cepat saat beban itu tak lagi berat."
Tisha pun akhirnya menangis di hadapan Hasna. Hasna mengusap lembut rambut Tisha. Tak ada kata apapun yang keluar dari mulutnya. Hanya isak tangis yang terdengar sangat pilu.
Hasna membiarkan majikannya menumpahkan air matanya. Kemudian ia merengkuh tubuh Tisha yang bergetar karena tangisnya.
"Suamiku selingkuh Na." Akhirnya satu kalimat meluncur dari bibir Tisha.
"Sakit Na. Hatiku sakit sekali." Tisha semakin sesenggukan dalam pelukan Hasna.
Hasna tak menyahut, hanya tangannya saja yang setia mengelus rambut majikannya tersebut.
"Mama, benarkah Papa selingkuh?" Suara Alyta tiba-tiba menginterupsi.
Tisha dan Hasna saling pandang mereka kaget dengan kehadiran Alyta. Mereka kira Alyta masih tidur.
"Kata Joana, Papa dan Mamanya bercerai karena Papanya selingkuh. Apakah Mama dan Papa juga akan bercerai." Tanya Alyta dengan polosnya.
Tisha menatap Alyta dengan bimbang. Apa yang harus ia katakan pada putrinya tersebut.
???
Jangan lupa tekan love nya ya reader..??